KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Agustus, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda mulai memperketat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan maupun membakar sampah karena berisiko memicu kebakaran yang lebih luas. Kepala BPBD Kota Samarinda Suwarso mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca panas mulai mendominasi sejak awal Juli meski hujan masih sesekali turun. Kondisi tersebut diperkirakan mencapai puncaknya hingga Agustus.
Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup juga telah mengingatkan daerah untuk mewaspadai dampak fenomena El Nino yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, termasuk di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). "Dari BMKG kami mendapat informasi bahwa awal Juli sampai Agustus diprediksi menjadi puncak cuaca panas. Karena itu kami meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan maupun TPA," ujarnya, Minggu (12/7).
Samarinda memiliki catatan kejadian karhutla di sejumlah wilayah seperti Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran. Pengalaman tersebut menjadi dasar BPBD memperkuat langkah mitigasi sejak dini. Salah satunya dengan mengoptimalkan peran Kelurahan Tangguh Bencana sebagai garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani kebakaran skala kecil sebelum meluas.
Di sisi lain, BPBD juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) serta Manggala Agni untuk mempercepat respons apabila terjadi kebakaran. "Kalau ada titik kebakaran, tinggal kami kirim titik koordinat. Semua unsur yang sudah berkolaborasi langsung bergerak ke lokasi," jelasnya.
BPBD juga kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah di lahan terbuka maupun membuka lahan dengan cara dibakar. Menurut Suwarso, cara tersebut sangat berbahaya dan pernah memakan korban jiwa di Samarinda. "Beberapa tahun lalu ada warga di Sambutan meninggal karena membakar lahan lalu terjebak kepulan asap. Kejadian itu harus menjadi pelajaran agar tidak terulang lagi," tegasnya.
Ia menambahkan, membuka lahan tanpa membakar sebenarnya lebih aman sekaligus bermanfaat bagi kesuburan tanah karena sisa vegetasi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Karena itu, BPBD berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya karhutla dan ikut berperan mencegahnya. Pihaknya juga mengajak media massa untuk terus membantu menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat. "Kami tidak bosan mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," pungkasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki