Kemarau Panjang Ancam 70 Hektare Lahan Pertanian Samarinda, 100 Petani Terancam Gagal Panen

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:44 WIB
Lahan pertanian dan persawahan di Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. (FOTO HAFIZ/KP)
Lahan pertanian dan persawahan di Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara. (FOTO HAFIZ/KP)

KALTIMPOST.ID-Kemarau panjang mulai mengancam produktivitas pertanian di kawasan Betapus, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara.

Sedikitnya 70 hektare lahan persawahan dan hortikultura membutuhkan pasokan air untuk menjaga tanaman dari risiko gagal panen.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distapangtani) Samarinda menyiapkan dua unit pompa berkapasitas besar.

Air akan dipompa dari anak Sungai Karang Mumus sebagai alternatif pengairan selama musim kemarau.

Baca Juga: Peringatan Maulid Nabi di Rumah Tahfizh Qur'an Ibnul, Tanamkan Kecintaan Al-Qur'an Sejak Dini

Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Distapangtani Samarinda Noke Pattipawaej mengatakan, langkah tersebut dilakukan setelah kondisi lahan mulai terdampak kekeringan.

“Untuk saat ini kami dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Samarinda mencoba mencari alternatif pengairan, yaitu dengan cara pemompaan pada sumber anak Sungai Karang Mumus,” ujarnya, Senin (7/9).

Sekitar 40 hektare dari lahan terdampak merupakan areal persawahan. Sementara 30 hektare lainnya berupa lahan hortikultura yang ditanami sayuran dan sejumlah komoditas.

Pemompaan akan dilakukan di dua titik, yakni Betapus dan Lempake Jaya. Keduanya memanfaatkan sumber air dari anak Sungai Karang Mumus.

“Harapan kami dengan adanya pompa ini setidaknya bisa mengurangi dampak risiko gagal panen,” katanya.

Program pengairan darurat tersebut diperkirakan menjangkau sekitar 100 petani yang tergabung dalam lima kelompok tani.

Penempatan peralatan dilakukan pada titik yang telah ditentukan bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Baca Juga: Antrean BBM: Persoalannya Bukan Sekadar Kuota

Ancaman terbesar saat ini menyasar tanaman padi yang baru berumur sekitar 30 hari setelah tanam.

Pada fase pertumbuhan tersebut, ketersediaan air menjadi penting agar tanaman dapat bertahan dan tidak mengalami puso.

“Untuk saat ini yang kita khawatirkan adalah padi sawah yang baru umur 30 hari setelah tanam. Artinya, kita mencoba tanaman itu untuk bisa tidak mati atau puso,” jelas Noke.

Kondisi tersebut menunjukkan kemarau tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air, tetapi juga berpotensi menekan produksi pangan lokal apabila berlangsung lebih panjang.

Pengairan alternatif menjadi penting untuk mempertahankan tanaman yang sudah memasuki masa pertumbuhan.

Petani yang membutuhkan dukungan pengairan dapat berkoordinasi melalui kelompok tani dan penyuluh pertanian di wilayah masing-masing. Selanjutnya, kebutuhan tersebut diteruskan melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP).

Saat ini Samarinda memiliki empat BPP, yakni Makroman, Lempake, Sungai Kunjang, dan Palaran.

Fasilitasi kepada kelompok tani akan disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi lahan di lapangan. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kalbar ibu kota nusantara Wali Kota Samarinda Andi Harun Kutai Barat Pertanian Kaltim