Sejarah Kaltim Dinilai Masih Jadi Tempelan dalam Buku Nasional 

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 17:52 WIB
Dari kiri: Barlin Hady Kesuma, Rizal Izmi Kusumawijaya, Anas Yusfiuddin, M Ilham Syahputra, Muhammad Sarip, dan Paramitha Putri Hidayat, dalam Peluncuran Buku dan Diskusi Publik Sarekat Islam di Kantor Disdikbud Samarinda. (Foto Nasya/KP)
Dari kiri: Barlin Hady Kesuma, Rizal Izmi Kusumawijaya, Anas Yusfiuddin, M Ilham Syahputra, Muhammad Sarip, dan Paramitha Putri Hidayat, dalam Peluncuran Buku dan Diskusi Publik Sarekat Islam di Kantor Disdikbud Samarinda. (Foto Nasya/KP) 

SAMARINDA – Narasi sejarah Indonesia yang menempatkan Jawa sebagai pusat cerita kembali dipersoalkan. Sejarawan publik sekaligus penulis sejarah Muhammad Sarip menilai sejarah Bumi Etam masih mendapat porsi minim dalam buku sejarah nasional yang diterbitkan pemerintah.

Kritik itu disampaikan dalam peluncuran buku Sarekat Islam di Kalimantan Timur: Sejarah Perjuangan dari Pasar Pagi Samarinda, Istana Kutai, hingga Perang Sultan Paser di Ruang Ki Hajar Dewantara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Kamis (10/9).

Menurut Sarip, persoalan tersebut terlihat dalam buku Sejarah Indonesia Jilid I hingga V yang diterbitkan Kementerian Kebudayaan. Ia menilai klaim Indonesia-sentris dalam buku tersebut belum sepenuhnya mencerminkan keragaman sejarah daerah di luar Jawa.

“Saya sudah sering bilang, sejarah nasional yang diklaim Indonesia-sentris itu hakikatnya adalah sejarah Jawa. Secuil narasi peristiwa dan tokoh di Kaltim hanya sekadar tempelan,” tegas Sarip. 

Ia mencontohkan pembahasan mengenai Kerajaan Kutai dalam Sejarah Indonesia Jilid II. Kerajaan yang dikenal melalui temuan prasasti yupa itu disebut sebagai kerajaan tertua di Nusantara. Namun, menurut Sarip, pembahasannya hanya sekitar 15 halaman.

Padahal, buku Sejarah Indonesia Jilid II terbitan 2026 tersebut mencapai 1.190 halaman. Sarip menilai pembahasan mengenai tokoh penting seperti Mulawarman dan Aswawarman juga belum digali secara mendalam.

“Padahal buku Sejarah Indonesia Jilid II terbitan 2026 isinya mencapai 1.190 halaman,” kata dia.

Diskusi dalam peluncuran buku juga mengangkat posisi Sarekat Islam dalam sejarah pergerakan nasional. Kaprodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman Rizal Izmi Kusumawijaya mempertanyakan penetapan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Tanggal tersebut merujuk pada berdirinya Budi Utomo pada 1908 dan kemudian ditetapkan Presiden Soekarno pada 1959.

Namun, jika kebangkitan nasional dilihat dari kemunculan organisasi pergerakan, Rizal menyebut terdapat tonggak yang lebih awal, yakni berdirinya Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi Sarekat Islam.

Menurut Rizal, Sarekat Islam pada awal perkembangannya tidak semata-mata bergerak dalam bidang keagamaan. Organisasi tersebut juga memiliki basis gerakan sosial dan ekonomi.

“Pergerakan Sarekat Islam juga bukan sebagai organisasi keagamaan, tetapi pada sosial ekonomi. Makanya kalau kita mengetahui ada istilah masjid NU, masjid Muhammadiyah, tapi kita tidak pernah mendengar ada masjid Sarekat Islam,” ujarnya.

Rizal juga pernah mengunjungi bekas Kantor Sarekat Islam Kaltim di Jalan Panglima Batur, Samarinda, melalui kegiatan walking tour bersama pengajar sejarah MA Darussalam Internasional Boarding School, Muhammad Ilham Syahputra.

Ilham mengatakan, terdapat kemiripan pola perkembangan Sarekat Islam di Solo dan Samarinda. Ia melihat organisasi tersebut tidak hanya menjadi wadah sosial ekonomi, tetapi juga menjadi bagian dari respons masyarakat terhadap ketidakadilan pada masa kolonial.

“Saya kuliah S-2 di Solo dan menemukan kemiripan pola eksistensi Sarekat Islam di Solo dengan Samarinda, yaitu sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan pemerintah kolonial Belanda,” papar Ilham.

Ketua DPW Syarikat Islam Kaltim Anas Yusfiuddin menambahkan, cikal bakal Sarekat Islam di Samarinda berangkat dari masyarakat Kampung Pasar Pagi. Sejumlah tokoh yang disebut dalam sejarah awal gerakan tersebut antara lain Haji Ali Barack dan Pembakal Anang Matarip.

Buku yang diluncurkan dalam forum tersebut secara khusus mengangkat perjalanan Sarekat Islam di Kaltim, mulai dari Pasar Pagi Samarinda, lingkungan Istana Kutai hingga Perang Sultan Paser.

Sarip mengatakan buku itu sengaja ditulis menggunakan gaya bahasa yang lebih dekat dengan pembaca masa kini. Menurutnya, terdapat kesenjangan antara bahasa dalam sumber sejarah lama dan gaya bahasa yang digunakan masyarakat saat ini.

“Banyak perubahan pada kata yang dulu dipakai dengan yang sekarang,” kata Sarip.

Dalam proses penyuntingannya, Sarip dibantu Paramitha Putri Hidayat sebagai proofreader sekaligus desainer sampul. Paramitha mengatakan desain sampul dibuat menggunakan aplikasi gratis dengan fitur yang cukup lengkap.

“Saya mendesain cover buku ini menggunakan sebuah aplikasi yang gratisan, tapi cukup lengkap fiturnya, dan tidak menggunakan AI,” ujar perempuan yang akrab disapa Mitha tersebut.

Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Samarinda Barlin Hady Kesuma mengapresiasi pelaksanaan forum tersebut. Di tengah efisiensi anggaran, Disdikbud Samarinda tetap dapat berkolaborasi dengan Lasaloka-KSB untuk menggelar diskusi publik mengenai sejarah organisasi pergerakan nasional di Kaltim.

Antusiasme peserta terlihat dari kapasitas ruangan yang terisi penuh. Sebanyak 60 kursi yang tersedia seluruhnya terisi. Peserta yang mengajukan pertanyaan dalam diskusi juga mendapatkan buku cetak yang diluncurkan. (*)

Editor : Ismet Rifani
sejarah Bumi Etam peluncuran buku Sarekat Islam Barlin Hady Kesuma Disdikbud Samarinda Muhammad Sarip