Samarinda Perpanjang Tanggap Darurat, BPBD: Karhutla hingga Intrusi Air Laut Masih Terjadi

M Hafiz Alfaruqi • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 20:39 WIB
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (HAFIZ/KP)
Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso. (HAFIZ/KP)

SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda kembali memperpanjang status tanggap darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk ketiga kalinya. Hingga 7 Oktober 2026, tercatat 259 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 643,27 hektare.

Perpanjangan status berlaku selama 14 hari, mulai 6 hingga 19 Oktober 2026. Keputusan tersebut diambil karena kebakaran lahan masih terjadi, sementara kekeringan turut mengancam pasokan air bersih dan memperburuk kualitas udara.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda Suwarso mengatakan, keputusan perpanjangan ditetapkan wali kota setelah menerima masukan dan pertimbangan dari BPBD.

"Setelah kami memberikan masukan, rekomendasi, dan pertimbangan kepada Wali Kota Samarinda, akhirnya diputuskan perpanjangan masa tanggap darurat kekeringan dan karhutla yang ketiga dari tanggal 6 sampai 19 Oktober," ujarnya, Kamis (8/10).

Baca Juga: Karhutla Tembus 1.612 Hektare, Status Tanggap Darurat Kabupaten Paser Diperpanjang Hingga November

Menurut Suwarso, kebakaran belakangan terkonsentrasi di Kecamatan Palaran, Sambutan, dan Samarinda Utara. Kebakaran juga masih terjadi di sebagian wilayah Kecamatan Sungai Kunjang.

Selain kebakaran, kekeringan menyebabkan intrusi air laut ke Sungai Mahakam yang berdampak terhadap pengolahan air bersih. Lima Instalasi Pengolahan Air (IPA) milik Perumda Tirta Kencana yang terdampak yakni Palaran, Selili, Kalhol, Pulau Atas, dan Bantuas.

Beberapa instalasi tersebut membatasi penyaluran air untuk kebutuhan nonkonsumsi warga akibat kondisi air baku yang terdampak intrusi air asin.

Kualitas udara juga menjadi perhatian pemerintah. Alat pemantau di Bandara APT Pranoto menunjukkan kategori tidak sehat selama hampir dua pekan terakhir. Sementara itu, alat pemantau di Jalan Harmonika, kawasan Taman Segiri, mencatat kualitas udara pada kategori sedang.

"Kualitas udara kita masih fluktuatif. Alat ukur kualitas udara di Jalan Harmonika, Taman Segiri kondisinya sedang, tetapi alat ukur yang di Bandara APT Pranoto memang hampir dua minggu ini menunjukkan level tidak sehat," tutur Suwarso.

Dampak kekeringan turut dirasakan sektor pertanian. Untuk menjaga ketersediaan air bagi persawahan dan mencegah penundaan masa tanam, tim gabungan memompa air dari kolam void bekas tambang menuju lahan pertanian.

Dalam perpanjangan tanggap darurat kali ini, Pemkot Samarinda juga menyiapkan dukungan operasional bagi tim pemadam. Kebutuhan yang menjadi prioritas meliputi bahan bakar minyak (BBM) serta konsumsi petugas di lapangan.

"Kalau di awal-awal kita sempat belanja modal untuk pendukung distribusi air bersih, di perpanjangan terakhir ini paling untuk biaya operasional seperti BBM serta makan dan minum petugas," jelasnya.

Sebelumnya, realisasi penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk penanganan kekeringan dan karhutla di Samarinda mencapai Rp3,8 miliar.

Besaran tambahan anggaran pada perpanjangan ketiga belum ditetapkan. Usulan kebutuhan biaya masih harus melalui proses verifikasi oleh Inspektorat Daerah sebelum diputuskan.

Editor : Muhammad Ridhuan
karhutla Samarinda kekeringan Samarinda Tanggap Darurat Samarinda Krisis Air Bersih Samarinda bpbd samarinda