Cerpen Karya: May Wagiman
“Kenapa?” Kudengar gadis itu bertanya. “Dari tadi kamu ngeliatin terus.”
Sepuluh menit sebelumnya, aku melihat teman seangkatanku itu duduk di depan ruang kuliah. Hatiku berdegup kencang. Perasaan senang, tetapi juga malu bercampur aduk di dada. Menyapa atau berlagak tak melihat?
Terlambat. Matanya terlanjur mengarah kepadaku dan ia melambai.
“Hai, Bulan,” akhirnya aku menyapa.
Selalu salah tingkah berada di dekat Bulan. Seperti tak tahu harus bagaimana. Jujur, aku khawatir dengan penilaian gadis itu. Aku yakin ia bukan tipe yang pandang bulu, namun perasaan risau selalu muncul.
Tak kusadari, perasaan canggung justru membuat mataku terus mengarah kepada Bulan yang duduk di samping. Tatapanku membuatnya rikuh.
“Tumben datang cepat,” kataku grogi.
“Iya. Mau baca-baca dulu sebelum kuliah.”
Kepalaku mengangguk-angguk. Perasaan masih campur aduk. Aduh, harus berkata apa lagi. Kamu suka baca novel? Suka novel Agatha Christie? Mungkin novel Haruki Murakami? Suka musik apa?
Berusaha untuk tenang dan tak kelihatan kurang sopan, mataku ganti memindai sekitar kami. Beberapa orang teman lain mulai berdatangan. Yah, seruku dalam hati. Sekarang tak ada kesempatan untuk mengobrol berduaan.
“Ke belakang dulu, ya.”
Malu hatiku akan membuat yang lain curiga. Bangkit berdiri, rasa nyeri menusuk punggungku. Agak tertatih, aku berjalan ke arah toilet.
Di dalam ruang kuliah, yang terasa seperti pasar pagi, sudah banyak mahasiswa yang hadir. Begitu tiba, dosenku langsung mengeluarkan laptop yang dibawanya. Bulan duduk di bangku paling depan. Seperti biasa aku memilih spot di deretan bangku belakang. Namun tetap tak terlalu jauh untuk bisa mengamati. Posisi aman untuk memandang Bulan.
“Kita akan membahas tentang kepribadian. Buka buku modul halaman 20. Menurut Carl Jung, kepribadian seseorang dibagi dalam tiga tingkat kesadaran ….” Bu dosen memulai.
Gemerisik suara buku modul dan buku catatan yang dibuka memenuhi ruangan.
“Kesadaran dan ego (consciousness and ego), ketidaksadaran pribadi dan kompleks (personal unconscious and complexes), dan ketidaksadaran kolektif dan archetypes (collective unconscious and archetypes)….”
Tangan kiriku menopang wajah. Jari tangan kanan menekan tombol merah di ponsel untuk merekam isi kuliah, lalu sibuk membuat coretan di buku catatan.
Mataku mengarah ke bangku depan.
Rambut Bulan hitam kecokelatan. Dandanan tipis menghiasi wajahnya yang cantik. Ia tampaknya menyukai pakaian berwarna netral. Putih, hitam, biru, atau abu-abu. Itu-itu saja. Tetapi selalu ditambahnya detail lain yang membuatnya semakin kelihatan menarik.
Pernah Bulan memakai celana denim biru dipadankan dengan kaus lengan pendek bergaris hitam putih. Ditambah blazer hijau tua yang dipadu dengan gesper cokelat kecil. Menonjolkan pinggangnya yang ramping.
Aku suka gaya penampilannya. Hal-hal sederhana–caranya menggulung lengan kemeja, menaikkan kerah blazernya, atau caranya memakai gesper, membuatnya terlihat sangat chic. Bulan serasa dapat berjalan di kota-kota seperti Paris atau Milan. Pagi ini, ia berkaus putih polos. Gesper cokelat diganti dengan gesper oranye. Kalung emas panjang menambah detail manis dari keseluruhan penampilannya.
Jangan salah, aku tak hanya memandang segi penampilan saja. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu. Bulan, aku merasa, tak akan peduli dengan kondisiku. Gadis-gadis lain mungkin memandangku iba.
Selama ini aku terus berkutat dengan perasaan inferiority complex. Karakteristik fisik yang tak sejalan dengan persepsi masyarakat akan `ketampanan` sering membuatku bungkam. Berusaha tak menarik perhatian dunia yang terobsesi dengan hal-hal superfisial. Sejak kecil aku takut dengan olokan teman-teman, dengan apa yang ada di dalam kepala mereka.
Masa remaja tak membuat semua menjadi lebih mudah.
“Aku menyalahkan penemu peribahasa itu,” kataku setengah kesal setengah bergurau kepada kakak perempuanku, sewaktu curhat tentang teman sekelas. Pindahan dari kota lain.
Anak baru itu kelihatan ramah dan bisa menerima. Namun, rasa rendah diriku ternyata lebih kuat dibandingkan dengan perasaan suka. Kelakar ‘bagaikan pungguk merindukan rembulan’ menjadi favorit teman-teman.
Perhatianku kembali pada suara bu dosen. “… dari tiga tipe kepribadian … [itu] … punya kadar dominannya masing-masing yang pada akhirnya bisa membentuk sesuatu yang disebut Self. Self adalah pusat dari seluruh kepribadian. […] ego punya peran penting dalam menentukan perasaan, persepsi, pikiran, dan ingatan yang masuk dalam kesadaran seseorang …. Ego memberi seseorang sebuah identitas.”
Apa inferiority complex itu berasal dari ego? mungkin ego yang menyetir perasaan-perasaan dan pilihan-pilihan hidupku selama ini, otakku menganalisis.
“... ada pengalaman-pengalaman kita yang tidak disetujui oleh ego untuk muncul ke alam sadar. Tetapi meski tidak disetujui, pengalaman-pengalaman itu tetap ada dan tidak hilang. Pengalaman itu disimpan dalam alam tak sadar ….” Suara bu dosen kembali masuk telinga.
Sambil menunjuk PowerPoint di depan ruang kuliah. “Di alam tak sadar ini, pengalaman-pengalaman yang tidak disetujui itu akan ditekan, dilupakan, atau gagal dikeluarkan ke alam sadar ….”
Kalau boleh terus terang, aku selalu punya asumsi negatif terhadap diri sendiri dan orang lain. Cenderung berpendapat bahwa nilai diriku jauh di bawah standar masyarakat di luar sana. Itu membuatku mudah merasa rendah diri. Dan beranggapan seluruh jagat mencibir.
Kalau menganalisis memakai teori Carl Jung, pengalaman menyukai teman sekelas dulu tanpa sadar ditolak egoku.
Tak dinyana, rasa suka itu mendesak ingin keluar saat melihat Bulan.
Aku menghela napas penat.
Kuliah tinggal 30 menit lagi. “... tingkah laku manusia itu ditentukan tidak hanya oleh sejarah tiap individu, namun juga oleh tujuan dan aspirasi individu ….” Bu dosen menerangkan sebelum mengakhiri kuliah.
Apakah keputusanku tepat, berterus terang kepada Bulan tentang perasaanku. Atau, memendam semuanya. Sama sekali tak ada aspirasi.
Di toilet, bayangan dari cermin memantulkan seraut wajah cemas. Bayangan lengkungan di punggung serta kepala yang agak condong ke depan memaksanya untuk memalingkan muka.
Penyakit kifosis mendera raga Rory. Kelainan tubuh itu membuat tulang belakangnya tumbuh abnormal. Penyangga tubuh menjadi sahabatnya. Namun apa hendak dikata, tonjolan tulang atas menolak luruh. Quasimodo–nama tokoh dalam kisah The Hunchback of Notre-Dame, adalah panggilan karibnya sejak kecil.
Laki-laki itu berjalan keluar.
“Rory.”
Berbalik, hatinya melembut. Di hadapannya Bulan tersenyum. Berjalan dengan tubuh terbungkuk, ia menguatkan diri menghampiri.
Bagaikan otomatis, alam bawah sadar menekannya ke tapak terdalam. “Kau akan terluka. Lihat dirimu.”
Langkahnya tertahan. Lambat laun sosok Bulan semakin menipis. Ia berusaha meraih, namun jeda ruang semakin menjauh. Jauh bagaikan jarak langit dan bumi.
Rory tak dapat lagi membedakan realitas dengan impian. Diselipkannya jatuhan helai rambut Bulan ke belakang telinga. Perlahan dielusnya wajah cantik itu. Kedua tangan menggenggam dengan erat. Rory, bak pungguk merindukan Bulan, terus memandang. (dwi) Editor : Duito Susanto