KALTIMPOST.ID - Setiap sudut jalan menyimpan cerita unik, setiap cerita menuntun pada perjalanan baru, dan setiap perjalanan membuka mata untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas. Seperti buku, setiap kata di dalamnya mampu membawa kita pada penjelajahan dunia tanpa batas.
Nevi tersenyum, ia menyadari jika dirinya telah tenggelam dalam lautan kata-kata.
“Rasanya seperti menjelajah dunia lewat buku,” kalimat itu terucap begitu saja dari bibirnya.
Dengan lembut, Nevi kemudian menutup bukunya. Ia meletakkan itu di rak, di sana buku-buku tebal berbaris rapi. Mulai dari antologi puisi dan cerpen, teori yang rumit, novel sastra yang mendalam, hingga novel pop ringan. Rak buku itu adalah saksi bisu perjalanannya selama menjadi mahasiswa Sastra Indonesia.
Dari rak buku, Nevi mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. “Sudah jam segini, pantas saja aku kelaparan.” Nevi bangkit dari kursi. Ia keluar dari kamar kosnya dan pergi menuju Jalan Pramuka, tempat segala kebutuhan mahasiswa tersedia.
Jalan Pramuka memang selalu ramai oleh mahasiswa karena semuanya ada di sana. Mulai dari warung makan yang menyediakan berbagai macam menu. Apotek yang selalu buka 24 jam. Toko kosmetik dengan berbagai produk kecantikan. Toko jilbab dengan pilihan warna beragam. Indomaret yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Kos-kosan sebagai tempat tinggal mahasiswa, bengkel untuk layanan teknis, hingga ATM untuk memudahkan transaksi.
“Semuanya ada, seolah-olah Jalan Pramuka memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa. Sayangnya, ada satu hal yang hilang. Sebuah ruang sunyi yang seharusnya menyediakan sumber pengetahuan dan informasi. Ruang itu kusebut sebagai toko buku,” ujarnya pelan, ia merasa sedih jika harus memikirkan fakta itu.
“Jalan Pramuka, haruskah kusebut sebagai sebuah ironi yang menyakitkan?” kata Nevi saat tiba di persimpangan. “Bukankah sangat miris. Jalanan yang penuh dengan mahasiswa, bahkan lokasinya dekat dengan kampus justru tidak menyediakan toko buku sama sekali. Apakah tidak ada seorang pun yang berpikir tentang pentingnya literasi?”
Nevi menghela napasnya gusar. Tanpa ia sadari, sudah banyak warung makan yang terlewati. Aroma nasi campur, ayam geprek, bakso, seblak, dan pentol bakar bercampur menjadi satu. Namun, tak ada satu pun yang berhasil menggugah seleranya. Meski begitu, ia tetap melanjutkan perjalanannya. Masih berusaha mencari sesuatu yang enak, yang bisa memuaskan rasa lapar dan tentunya menggugah selera.
Langkahnya kemudian terhenti saat tiba di depan toko alat tulis. Toko itu tak hanya menjual peralatan tulis, tetapi juga menyediakan jasa cetak (print) dan fotokopi. Ketika ia menoleh, terlihat beberapa mahasiswa sedang melakukan aktivitas berbeda. Ada yang sedang mencetak makalah, ada yang membeli kertas HVS, dan ada yang hanya sekadar melihat-lihat binder.
Nevi lantas mengalihkan pandangannya sejenak dan mulai berpikir.
“Di tempat ini kertas-kertas bisa digandakan dengan sangat mudah. Selain itu, ada banyak buku tulis dan kertas HVS yang berderet di sana. Namun, sayang yang ditawarkan hanyalah wadah kosong tanpa jiwa,” gumamnya dengan raut muka sedih.
“Toko ini hanya menjual kertas kosong yang menunggu untuk diisi, bukan gagasan atau pengetahuan yang bisa membawamu pada penjelajahan dunia tanpa batas.” Dengan wajah yang sedikit ditekuk, Nevi kembali melanjutkan pencariannya. Ia harap bisa segera menemukan makanan yang menggugah selera.
Nevi terus berjalan hingga melewati toko kosmetik yang ramai pembeli. Tampak dari luar, orang-orang di dalam sana berebut mengantre di kasir untuk membayar make up dan skincare incaran mereka.
“Kira-kira jika di Jalan Pramuka ini terselip satu saja toko buku, akankah toko buku itu seramai toko kosmetik yang ada di depan sana?” pertanyaan itu terbesit begitu saja di benaknya. “Mungkin iya. Mungkin juga tidak. Lagi pula siapa yang tahu, kapan toko buku akan dibangun di jalanan yang ramai ini.”
Tidak ingin larut dalam pemikirannya, pencarian Nevi menemukan makanan yang menggugah selera kembali berlanjut. Kali ini ia berjalan mendekati gerobak roti bakar yang aroma manisnya menguar dan memikat indra penciuman. Penjual roti bakar yang melihat kedatangannya langsung menyambut dengan gembira.
“Mau beli roti bakar rasa apa kak?” tanya si penjual.
Nevi mengamati daftar menu yang tertulis di kaca etalase gerobak, lalu dengan mantap menjawab, “Roti bakar dengan taburan keju dan meses.”
Penjual roti segera menyiapkan pesanan Nevi. Hanya butuh beberapa menit saja agar pesanannya jadi dan roti bakar hangat dengan toping keju meses, serta pinggiran renyah kini telah berada di tangannya.
Nevi kemudian mengeluarkan uang sebesar lima belas ribu rupiah dari dalam dompetnya. Setelah itu, ia menyerahkan uang tersebut kepada penjual roti bakar dan bergegas kembali ke kosnya.
Dengan langkah perlahan, Nevi kembali ke kosnya sembari menikmati roti bakar yang hangat. “Aroma manis dari roti bakar ini sangat menggugah selera.” Nevi menggigitnya perlahan. Rasa manis dari keju yang gurih dan meses yang lumer berpadu sempurna dengan kerenyahan pinggiran roti. (*)
Bella Sapitri, lahir di Bontang, 13 April 2004. Mahasiswa jurusan Sastra Indonesia, angkatan 2022 di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman.
Editor : Duito Susanto