KALTIMPOST.ID - Kadang, gelar hanyalah hiasan yang menutupi laku yang kosong. Begitulah kalimat yang tiba-tiba mampir di kepalaku pagi itu, tepat ketika bel sekolah berbunyi, pertanda upacara Hari Pahlawan di SMP Negeri Impian segera dimulai. Lapangan sekolah yang sempit menguarkan aroma rumput basah, sementara langit menggantung rendah seolah menahan sesuatu yang tak ingin jatuh.
Di tengah hiruk-pikuk siswa yang berbaris dengan seragam rapi, aku merasakan denyut gelisah yang tak kunjung reda. Udara pagi seperti membawa bisikan-bisikan halus yang mempersoalkan kembali arti kepahlawanan yang selama ini hanya kami ulang dalam upacara. Suara langkah para guru di belakangku terdengar berat dan tak selaras, seakan masing-masing sedang memanggul keyakinannya sendiri tentang siapa yang pantas disebut pahlawan. Dalam bayang-bayang wajah mereka, aku berdiri sebagai seseorang yang terjebak di persimpangan antara ambisi untuk menyanjung dan kebutuhan untuk tetap jujur pada nilai.
Aku akhirnya bergabung di barisan guru dengan seragam adat khas Jawa. Kegelisahan itu kembali menguat, sebab bayang-bayang rapat dua hari lalu masih melekat di pikiranku. Sebagian guru bersikeras menjadikan peringatan Hari Pahlawan sebagai ajang besar untuk memberikan gelar dan penghargaan kepada mereka yang dianggap berjasa. Sebagian lainnya menolak gagasan itu karena menganggapnya sekadar simbol kosong yang tak lebih dari upaya menciptakan pahlawan buatan demi menutupi kekosongan makna. Di antara dua arus itu, aku kembali menjadi sosok yang hanya terseret, tak sepenuhnya memilih, tapi tetap diminta memahami semuanya.
Konflik itu bermula di ruang guru. Bu Ratna, yang selalu berbicara lantang, menepuk meja sambil menyeru, “Kita perlu memberikan gelar ‘Pahlawan Pendidikan’ kepada Pak Darwis! Sudah tiga puluh tahun dia mengajar. Masa tidak kita anugerahi apa-apa?”
Pak Yoga langsung menimpali dengan nada sinis, “Pahlawan itu bukan perkara umur mengabdi. Lagipula, bukankah kita sendiri disebut pahlawan tanpa tanda jasa? Masih pentingkah sebuah gelar?”
Ruang guru menggelegak. Beberapa setuju, beberapa berkeras. Aku hanya menatap papan tulis yang penuh coretan rencana kegiatan. Deretan poster pahlawan nasional yang terpajang di dinding bagian atas tampak menggantung tanpa makna yang pasti.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Bu Ratna padaku tiba-tiba. Semua mata beralih padaku.
“Pahlawan mungkin tidak semata-mata tentang gelar. Tapi jika gelar itu membuat kita mengingat dan meneladani, bukankah itu juga layak dipertimbangkan?” balasku.
Kalimat itu sebenarnya sekadar jembatan, upaya menghindari kubu mana pun. Namun, justru jawabanku menambah bara. Sejak itu, aku seolah diposisikan di tengah dua arus yang mengejang.
Hari ini, semua itu kembali berpendar di kepalaku saat para siswa membaca puisi tentang kepahlawanan. Aku memperhatikan wajah-wajah kecil yang berdiri di bawah bendera. Mereka berteriak lantang, tapi mungkin belum memahami sepenuhnya arti kata yang mereka sebutkan.
Setelah upacara selesai, rapat kecil kembali digelar, kali ini untuk memutuskan siapa yang akan menerima gelar pahlawan. Gelar baru yang tiba-tiba dianggap penting oleh beberapa guru demi memeriahkan peringatan tahun ini.
“Aku tetap memilih Pak Darwis,” ucap Bu Ratna mantap.
“Saya keberatan,” ujar Pak Yoga. “Pak Darwis memang senior, tapi lihatlah, dia sering absen, mengajar pun sudah tidak seaktif dulu. Ini penghargaan, bukan belas kasihan.”
Aku melihat Pak Darwis duduk diam di sudut ruangan, tangan tuanya bergetar kecil. Entah menahan marah atau sedih. Selama ini ia jarang ikut rapat. Hari ini pun, datang hanya karena dirinya yang diperbincangkan.
“Bagaimana menurutmu, Nak?” tanya beliau padaku, suara seraknya menusuk telinga.
Aku tak bisa menjawab langsung. Ada sesuatu yang mengganjal di dadaku, perasaan yang sejak lama kutahan. Pahlawan sejati tak pernah meminta, tak pernah menunggu gelar, tak pernah menuntut pengakuan. Namun, apakah diamku selama ini justru menunjukkan ketidakadilan yang lain?
Rapat memanas. Kata-kata melayang seperti pisau tumpul yang saling menggores. Sebagai guru termuda, aku dipaksa menjadi penengah, sekaligus yang menentukan keputusan akhir karena suara terbagi sama banyak.
“Sudahlah,” kata Bu Ratna akhirnya, “biar dia yang memutuskan. Biar si guru muda idealis ini menunjukkan kebijaksanaannya.”
Nada menyindir itu membuat wajahku panas, tapi aku menahan diri.
Aku memandang satu per satu wajah guru-guru di ruangan itu. Lalu, memandang Pak Darwis. Aku bertanya dalam diri. Di dalam refleksi layar kaca jendela, terlihat sepasang mata ragu yang selalu bersembunyi dari keputusan penting.
“Baik,” kataku pelan, “saya sudah memutuskan.”
Ruangan itu hening, menunggu.
“Saya menolak memberikan gelar apa pun tahun ini.”
Ada suara meja digedor, ada helaan napas panjang, ada pula tawa kecil sinis. Pak Yoga tersenyum puas, Bu Ratna memandangku seakan aku baru saja menusuk seseorang.
“Alasannya?” tanyanya dingin.
“Karena, saya percaya ada pahlawan yang tidak memerlukan gelar. Jika kita benar-benar ingin meneladani mereka, mungkin cara terbaik adalah berhenti mengejar penghargaan kosong ini.”
Bu Ratna hendak membalas, tetapi suaraku mendahuluinya.
“Saya rasa, Pak Darwis adalah salah satunya.”
Semua mata kembali beralih padanya. Beliau terdiam cukup lama sebelum akhirnya tersenyum samar.
“Terima kasih,” katanya lirih, “karena tidak memaksa saya menjadi sesuatu yang tidak saya butuhkan.”
Kata-katanya membuat beberapa guru terperangah. Tidak ada kemarahan, tidak ada kekecewaan. Hanya kelegaan seseorang yang akhirnya tidak dibebani citra yang tak ingin ia pikul.
Setelah rapat bubar, aku duduk di bangku panjang lorong sekolah. Dinding-dinding kusam menyimpan gema perdebatan yang belum sepenuhnya padam. Hujan rintik mulai jatuh, membentuk garis-garis halus di jendela.
Pak Darwis datang menghampiri dan berkata, “Kau tahu, Nak. Aku datang tidak untuk mencari gelar. Aku datang karena ingin tahu apakah ada yang masih melihatku sebagai guru, tanpa tambahan apa pun.”
“Maaf kalau selama ini saya ragu,” jawabku tertunduk.
Ia tertawa pelan. “Keraguanmu justru membuatmu jujur. Kadang, pahlawan tidak perlu gelar. Tapi kadang pula, orang memerlukan gelar hanya untuk merasa dihargai. Tugas kita adalah menimbang keduanya dengan adil.”
Aku menatapnya. “Jadi keputusan saya benar?”
Ia menepuk bahuku pelan. “Keputusanmu akan diuji oleh waktu. Tapi keberanianmu mengambilnya, itulah yang membuatmu layak menjadi guru sesungguhnya.”
Aku tercekat. Suara hujan di luar jendela berubah menjadi musik yang menenangkan.
“Dan kau,” lanjutnya sambil berdiri, “kelak akan tahu bahwa pahlawan yang paling sepi adalah mereka yang tidak pernah menyebut dirinya pahlawan.”
Beliau berjalan pergi, meninggalkan lorong yang kini terasa lebih lapang.
Di tengah hujan yang kian deras, aku sadar. Selama ini aku mencari pahlawan di luar diriku, tanpa menyadari bahwa yang pertama harus kuhadapi adalah ketakutanku sendiri. Kesimpulan ini menghantamku dengan keheningan yang jernih bahwa pahlawan tanpa gelar bukan hanya Pak Darwis. Mungkin, tanpa kusadari, aku sedang belajar menjadi salah satunya. (dwi)
Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 9 buku solo dan 52 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Jeremba (Kumpulan CerpenRemaja, 2025). Bisa dikontak melalui Instagram@saharienwe
Editor : Duito Susanto