Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sama Pohonnya Beda Nasibnya, Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

Redaksi KP • Minggu, 21 Desember 2025 | 06:28 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi

 
KALTIMPOST.ID - Tidak semua pohon adalah hutan, tidak semua hijau menandakan kehidupan. Kalimat ini terus terngiang di kepala Ranti setiap kali hujan turun terlalu deras, setiap kali sungai meluap tanpa permisi, dan setiap kali berita bencana muncul tanpa pilih kasih.

Hujan yang turun sejak dini hari membekap cahaya matahari untuk muncul. Bukan hujan badai, hanya rintik yang membandel, seperti benang air yang tak putus-putus jatuh dari langit. Jam masih menunjukkan pukul lima lewat sedikit. Ranti berdiri di ambang pintu rumah kayunya, memandangi jalan desa yang sudah mulai mengilap oleh genangan dangkal.

Tempat tinggalnya bukan desa besar. Satu jembatan kecil di selatan, kebun karet tua di utara, dan hamparan perkebunan sawit yang tak ada ujungnya di barat dan timur. Dulu, arah barat dan timur adalah hutan rapat tempat Ranti kecil sering bermain. Kini, semua berubah dalam waktu kurang dari sepuluh tahun.

“Ran, air sudah naik dari parit belakang,” suara ayahnya memanggil dari dapur.

“Dari belakang? Padahal, baru hujan ringan,” jawab Ranti sambil menoleh cepat.

“Makanya Ayah bilang, itu yang di bukit sana sudah habis. Sawit bukan menahan air. Dia cuma berdiri,” balas ayahnya lagi.

Ranti mendesah. Ia tahu itu benar. Sejak hutan di perbukitan desa digusur dan digantikan ribuan batang sawit, aliran air berubah sepenuhnya. Di musim hujan, air tidak lagi diserap tanah hutan yang gembur. Air mengalir cepat, tak terkendali, membawa lumpur, batu, bahkan dahan-dahan yang patah.

“Kasihan kita yang di bawah,” gumamnya lirih.

Pagi itu ia harus tetap ke sekolah, mengajar IPS di SMP satu-satunya di kecamatan. Jaraknya hanya dua kilometer, tapi jalan menurun itu sering berubah menjadi aliran cokelat saat hujan deras. Ranti mengendarai motornya perlahan, melewati deretan sawit yang menjulang kaku seperti barisan tanpa jiwa.

Halaman sekolah sudah tergenang setinggi mata kaki. Satu per satu siswa datang dengan sepatu basah.

“Bu Ranti, saya hampir jatuh tadi. Tanah longsor sedikit dekat pohon besar,” kata Sari sambil menjemur roknya.

“Longsor lagi?” Ranti terkejut.

“Iya, Bu. Tanahnya lembek. Akar-akar sawit sampai kelihatan.”

Ranti makin cemas. Tanah perkebunan memang mudah meluncur karena kehilangan lapisan humus. Saat bel masuk berbunyi, ia membawa siswa ke kelas. Ironisnya, pelajaran hari ini adalah “Bencana Alam dan Faktor Penyebabnya.”

Ia membuka pelajaran dengan peta besar Sumatra yang ditempel di papan. Di peta itu, beberapa titik merah menandai lokasi banjir dan longsor bulan lalu saja.

“Anak-anak, kalian lihat peta ini. Hampir setiap bulan ada berita banjir dan longsor di Sumatra. Nah, coba tebak, apa penyebab yang paling sering muncul?” tanyanya.

Satu kelas saling bergumam. Ada yang menjawab hujan, tanah curam, dan sungai dangkal. Namun, satu suara terdengar paling lantang.

“Sawit, Bu!”

Ranti menatap Rafi, siswa yang biasanya pendiam. Kemudian, ia bertanya, “Kenapa sawit?”

“Ayah bilang sawit itu bikin tanah haus. Akarnya tidak kuat menahan air, jadi kalau hujan airnya langsung turun semua,” jelas Rafi.

Kelas mengangguk. Ranti tidak bisa menyangkal kebenaran itu.

“Anak-anak, kita bahas ini bukan untuk menyalahkan satu tanaman, tapi untuk memahami perubahan lingkungan.”

Ia menggambar pohon hutan dan pohon sawit di papan. “Sama-sama pohon, tapi beda fungsi. Sama-sama hijau, tapi beda peran. Sama pohonnya, beda nasibnya. Beda juga nasib kita yang tinggal di sekitarnya.”

Hujan terus turun sampai istirahat. Di ruang guru, mereka menatap lapangan yang berubah seperti kolam.

“Kalau begini terus, jalan pulang bisa terputus,” ujar Pak Ahdan.

“Kemarin rumah Pak Darto banjir sampai pinggang,”tambah Bu Indri.

Ranti termenung. Dulu banjir hanya dua atau tiga kali setahun, sekarang bisa dua kali sebulan. Hujan makin derassaat jam pulang. Ranti menunggu, tapi mendadak terdengar suara teriakan, “Tanah longsor!”
Siswa berlarian ke teras. Dari kejauhan, aliran lumpur cokelat turun dari bukit. Tidak besar, tapi cukup menutup jalur pulang. Ranti merasa jantungnya berdegup cepat karena itu arah rumahnya.

Ia memilih berjalan. Jalan setapak berubah licin. Beberapa bagian seperti sungai kecil. Di belokan dekat kebun sawit, ia melihat tanah runtuh membentuk celah panjang. Akar sawit terangkat, batangnya rebah menimpa satu sama lain.

Sesampainya di rumah, ayah dan ibunya sedang memindahkan barang.

“Air sungai naik, Ran,” ujar ibunya panik.

Ranti membantu mengangkat barang. Hujan belum menunjukkan tanda berhenti hingga menjelang sore. Aliran air dari bukit semakin kuat. Desa seperti cekungan yang dipaksa menampung seluruh air dari perbukitan gundul. Genangan naik ke teras. Hujan seperti tirai air saat tiba-tiba suara gemuruh terdengar dari barat.

“Ran, itu apa?” suara ibunya gemetar.

Mereka keluar. Dari bukit, lumpur gelap meluncur deras membawa pohon-pohon sawit seperti batang korek patah. Longsor besar. Tetangga berlarian membawa anak, beberapa motor terendam, dan sebagian warga hanya menatap bukit, seolah tidak percaya hutan yang dulu tebal kini berubah rapuh seperti bubuk.

Menjelang magrib, hujan mereda. Desa sudah setengah terendam. Warga berkumpul mengungsi di balai desa. Ranti duduk dengan beberapa siswanya yang ketakutan.

“Bu, besok libur, ya?” tanya Rafi pelan.

“Iya, sampai aman.”

“Bu, kalau hutan masih ada, apa desa tidak akan begini?”

“Mungkin tidak separah ini.”

“Sayang ya, Bu. Saya belum pernah lihat hutan seperti cerita Ibu. Banyak burung, tanahnya empuk, dan sungainya jernih.”

Kata-kata itu membuat dada Ranti sesak. Ia teringat masa kecilnya berlari di bawah kanopi hutan, memungut buah, dan membangun pondok ranting. Semua kini hanya tinggal cerita.

“Semoga suatu hari kamu bisa lihat,” ucapnya lirih, meski tak yakin.

Malam turun. Meski hujan berhenti, genangan tetap tinggi. Warga tidur di lantai balai desa. Ranti duduk di depan pintu, menatap gelap desa. Di kejauhan, siluet ribuan sawit berdiri kaku tidak melindungi siapa pun. Ia memejamkan mata. Kalimat itu kembali muncul. Sama pohonnya, beda nasibnya. Namun kini ia sadar, yang paling berubah nasibnya adalah manusia di sekitarnya.

Bagi perusahaan, sawit adalah angka produksi. Bagi pejabat, sawit adalah pajak dan proyek. Bagi pasar global, sawit adalah bahan murah untuk segala barang. Tapi bagi desa Ranti, sawit adalah kehilangan hutan, kehilangan air, kehilangan tanah, bahkan kehilangan rasa aman.

Ranti merasakan dadanya sesak. Tapi ia tahu, anak-anak seperti Rafi dan Sari berhak pada masa depan yang tidak terus dibayangi bencana. Ia menatap ke arah bukit gelap yang pernah menjadi rumah berbagai kehidupan sebelum diganti deretan pohon seragam. Di dalam hatinya tumbuh satu tekad kecil, “Jika hutan sulit kembali dalam waktu dekat, setidaknya pengetahuan bisa tumbuh dulu.” (dwi)

 

Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 9 buku solo dan 53 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Jeremba (Kumpulan CerpenRemaja, 2025). Bisa dikontak melalui Instagram@saharienwe

Editor : Duito Susanto
#lingkungan #cerpen #Sahari nor wakhid #hutan #sawit #guru menulis #bencana alam