Oleh: Kholif Mundzira
Seraung, Apa yang Terjadi Bila Telur itu Menetas?
Mula-mulanya sebelum masuk ke dalam tulisan ini, yang saya akui sebagai pergumulan yang penuh subjektivitas serta keterbata-bataan, tulisan ini saya hadirkan dan layangkan sebagai bentuk respons persahabatan sekaligus kecurigaan terhadap tulisan Novan Leany berjudul "Seraung: Membaca Sungai Seni Samarinda Melalui Pintu Belakang" yang dimuat laune.id pada Mei 06, 2025.
Ini sekaligus tantangan untuknya atau siapapun yang dapat melanjutkan semangat Novan yang berupaya mendokumentasikan peristiwa kesenian di kampung halaman tersebut ke dalam tulisan, tidak mesti dihadirkan dalam website yang mapan atau surat kabar, bisa jadi lewat story ataupun feed masing-masing.
Apresiasi saya terhadapnya, abang sekaligus kawan nongkrong yang diam-diam berupaya rajin merawat api kritis pada lingkar-lingkar kecil di setiap lekukan-lekukan tubuh sungai yang mulai ditaklukkan alirannya, dengan beton-beton yang menghunjam tanah, serta rutin tercemari limbah-limbah asing yang semakin menubuh itu.
Dalam ketidakmapanan ekosistem justru lahir sosok-sosok penggugat yang terus mengais-ngais sedimentasi, terus mengupayakan kembalinya kelegaan aliran dari hulu hingga hilir dan keutuhan interaktivitas.
Selebihnya, saya takjub terhadap kawan-kawan seniman, cendikiawan, dan lain sebagainya yang kembali menghadirkan semangat "Seraung jilid 2" bertajuk "Seniman Muda dikepung Kota". Getaran kenekatan itu terasa, di antara riuh-rendah ketidakpastian kota yang terus berubah, diubah, didefinisikan oleh entah, dan rasanya tak pernah benar-benar selesai, berdiri di atas fondasi yang tak utuh, rentan roboh.
Sebaliknya, kawan-kawan yang begitu jujur memperjuangkan, suaranya terdengar sayup di antara keriuhan tersebut. Barangkali, beginilah yang dirasakan kawan-kawan lain adalah jalan-jalan sunyi yang tak pernah benar-benar dianggap secara utuh, sekalipun getolnya.
Dalam segala keterbatasan maupun yang dimaksimalkan, bahkan sangat mungkin ada kesalahan dan kelalaian yang mungkin terjadi lagi, apa yang terproyeksikan pada perhelatan Seraung kedua ini bisa jadi adalah salah satu bentuk respons atau jawaban terhadap tulisan itu maupun orang-orang yang berpikiran seperti penulis ataupun bisa juga tidak, ia murni hadir melalui api kecil yang masih terjaga nyalanya, di sela-sela kesibukan kota yang kian ekstraktif dan eksploitatif.
Maka, sewaktu-waktu ia dapat menjadi api perlawanan terhadap kesemena-menaan. Apapun motifnya, kegiatan ini sangat patut untuk dihadiri, disaksikan, dialami bersama, dan ditinjau kembali secara sadar.
Kesenian Kampung Halaman Kami: Solidaritas atau Sentimentalitas?
Saya tergelitik ketika membaca kalimat pada salah satu paragraf tulisan itu, menuju akhir, kurang lebih begini "Jika boleh sedikit beropini..." pada satu konteks pembahasan. Bagi saya yang pernah mengalami situasi di kampung halaman sekaligus berangkat untuk nongkrong dari satu ke lain komunitas maupun menghadiri kegiatan yang dihadirkan komunitas-komunitas seni di Samarinda.
Sejauh saya tahu, hampir 80 persen tulisan tersebut secara utuh, sedari awal memanglah mengandung opini atau selanjutnya saya sebut sebagai sentimen-sentimen terselubung. Bagaimana tidak? Ini bukan hanya dia, sudah tentu saya akan berkelakuan sama.
Begitu juga sebagian dari kami, disadari ataupun tidak, sentimen-sentimen tersebut terus berulang menjadi gosip liar. Sebagaimana takdir, bermula sejak lahir, tinggal, dan berkesenian di kota yang kondisinya seringkali memaksa keluh-kesah tak berkesudahan terhadap ketidakpastian nasib, persis mantra-mantra tak berbalas, bergulir di antara individu dan lingkar-lingkar kecil di kota ini. Entah sampai kapan. Ke mana? Kepada siapa?
Bila memberanikan diri jadi seniman. Nyatanya, sejak dini akan bingung antara idealisme atau industri, di sebuah kota yang sunyi dan minim apresiasi. Meski, sudah berkali-kali merogoh kantong hampir melompong, memeras-meras tenaga hingga asat, berpayah-berpayah menggunakan waktu demi menghadirkan karya-karya adiluhung, serta kegiatan-kegiatan kecil yang bagi kita akan dihadiri banyak orang.
Akan tetapi, ke mana orang-orang di kota ini? Ke mana orang-orang yang berdebat soal bagaimana kesenian yang dirapalkan dalam diri kita, atau tercurah dalam lingkaran-lingkaran yang itu-itu saja? Mereka hadir, tapi mengapa kritik-kritik atas ketidaksempurnaan, ketidakutuhan, maupun kesalahan itu hanya menjadi gosip belaka?
Saya kira, segala kegundahan adalah ketiadaan niatan bagi pemerintahnya yang pernah melontarkan mimpi-mimpi serta ekspektasi yang tinggi. Namun, minus soal melibatkan secara aktif bagaimana seharusnya mimpi itu dirangkai, hingga merusak nilai-nilai yang telah kau percayai. Bahkan, seringkali lupa pada apa-apa saja yang sudah pernah ditagih dari setiap kesempatan.
Sementara, infrastruktur yang dihadirkan tidak totalitas, terkesan setengah-setengah, pilih kasih, atau bahkan nihil. Seperti tidak ada keseriusan dalam menjamin kehidupan pelaku-pelaku seni serta kelancaran roda ekosistem tersebut.
Ke mana pelaku-pelaku seni yang lain ketika kita membutuhkan energi yang sama untuk menggugat, mengapa rasanya tercerai-berai? Lalu, bagi seorang seniman lain yang belajar jauh-jauh sekali di kota-kota yang mendukung minatnya, yang diyakini jauh lebih mapan secara wawasan dan ekosistem, dan kita harap akan mendukung pola pikir sendiri, ketika balik ke kampung halaman. Lantas, apa yang kita rasakan setelah kembali? Kita harus apa dan bagaimana? Ataukah justru dianggap sebagai pengganggu padahal engkau berharap menjadi sang penyelamat. Semakin hari semakin sentimentil, semakin abstrak.
Tak jarang faktor-faktor tersebut, sering memicu konflik horizontal antar sesama pegiat yang juga disinggung tulisan itu, yang sesungguhnya seringkali tidak begitu penting yang membuat Novan merasakan diskusi yang lebih "substansial" atau yang dia ungkapkan sebagai "....isu-isu yang berat" jarang terjadi atau mandeg.
Tulisan itu tidak hanya sedang merefleksikan, melainkan cerminan begitu terjalnya perjalanan para seniman pada sebuah kota, untuk menemukan momentum, celah dan keniscayaan demi tercapainya ekosistem yang mapan. Jelas, tulisannya adalah curahan hati orang-orang yang memilih melancong jauh-jauh di kota seni, yang katanya lebih mapan. Nyatanya, terseok-seok ketika pulang ke kampung halaman. Begitu pula apa yang saya rasakan, menempuh jalan serupa dengan nasib sepadan.
Pada lanskap pemerintahan yang seringkali absen, mimpi-mimpi kemapanan acapkali kita senandungkan bagai mitos di sela-sela terus menempa keahlian masing-masing disiplin yang juga serba mandiri, dan sesekali adu jotos. Seperti tulisan itu, saya turut merasakan dugaan, mengenai peran institusi dan lembaga-lembaga pendidikan terutama yang berfokus dengan seni dan humaniora yang ada di kota ini, seperti terbatas formalitas dan visi-misi yang kabur.
Infrastruktur hadir sebagai fasilitas kelembagaan, namun seringkali absen secara substansi pendidikan yang layak dan total. Apalagi, diminta menghadirkan pemikir-pemikir yang dapat membentuk diskursus tersebut seperti pengkaji maupun peneliti?
Lagi-lagi, upaya tersebut muncul dari inisiatif atau dipasrahkan pada para akademisi maupun praktisi lepas serta para pengajar yang sadar dan bersikeras, menjadi gerilyawan di sela-sela kota, di sela-sela jam belajar, macam transaksi gelap, dengan tak berharap akan berbalas apapun. Ini juga yang membuat seniman seringkali harus serba mandiri.
Bagi saya, mengenai sentimen, tentu perlulah untuk kita segera menyelesaikan bersama dengan kepala dingin. Perihal dugaan perlu kita bongkar dan gugat, menagih hak-hak tersebut kepada “mereka” yang bertanggung jawab. Sebab, terlalu naif untuk terus-terusan pasrah, menunggu, dan menghamba pada kekuasaan yang seringkali tidak pernah benar-benar memilih untuk mengerti. Barangkali.
Di samping rutin menuntut hak, dan secara bertahap memurnikan hati dari sesuatu yang begitu sentimentil, perlulah membangun dan menghadirkan upaya serempak dan bergulir dari bawah, yang dirawat dan dijaga bersama. Agar, apa yang ingin tercapai lekas sampai. Di posisi ini, perlulah melihat lebih jauh sejarah perjalanan dari upaya-upaya yang pernah dilakukan di kota ini.
Jangan-jangan, kita memang belum lantang, atau selama ini merindu kepada sesuatu yang belum pernah ada? Sampai tahap ini perlu ditekankan dan digarisbawahi adalah upaya solidaritas. Hidup di sebuah kota dengan pegiat yang tak banyak dan menolak dibuat sepi. Saya kira, letak persoalannya bukan sekadar ketidakhadiran pemerintah, namun masih tercerai-berainya suara-suara lantang yang sesungguhnya belum pernah benar-benar sampai.
Sebab, sentimen-sentimen yang mengeruh, ikut mereduksi upaya-upaya yang ada, dan yang terdengar hanyalah sayup-sayup dan keheningan. Maka, perlulah diselesaikan, cari jalan terbaik yang adil untuk bersama. Lagi-lagi “solidaritas”, adalah kunci utama yang perlu ditanamkan di setiap laku kesenian kita, dirawat terus-menerus sekalipun berbeda, baik cara pandang dan pendekatan seni. Suatu ciri kekhasan dinamika itu akan memicu terbentuknya diskursus lebih lanjut. Di situlah bagi saya arena bermain, semakin ramai, berlipat ganda, dan semakin lantang.
Kemudian, forum semacam ini baiknya tidak perlu terburu-buru dilihat lewat kacamata kemapanan, bukan maksud saya menafikan kritik. Seringkali para diaspora, pengamat, maupun pemikir yang terlanjur begitu tercemar "kemapanan" seni di kota-kota besar, yang mendapat "privilege", berekspektasi besar dan memaksakan kehendak mengenai "kemapanan" di kota ini.
Lantas, kemapanan apa yang dimaksud? Di sinilah, pentingnya melihat apa yang dihadapkan persoalan struktural maupun sistemik yang melatar belakangi sebuah kota dan telah mengganggu sirkulasi terdistribusinya kelegaan aliran sungai tersebut (kita harusnya sudah sama-sama tahu).
Lalu nasihat bagi kita semua yang memilih jalan ini, pandai-pandailah menyikapi segala sesuatunya dengan mental yang tangguh, rajin-rajin mendengar dan berpikiran terbuka.
Kemudian, cobalah menghadirkan dan memperluas keterbukaan interaksi dan informasi, dialektika, maupun kritik yang lebih substansial dibandingkan sentimen, menerka harapan-harapan dan entah apalah lagi. Justru, bagi saya, ketidakmapanan atau ketidakutuhan harusnya hadir dalam setiap kondisi, agar tak berhenti, lekas puas, dan begitu nyaman seperti kekuasaan.
Perbincangan Sungai Seni yang Terkunci di Pintu Belakang
Tidak hanya berhenti pada Seraung, setiap event seni maupun kegiatan kebudayaan lain yang hadir sepanjang tahun pun, penting untuk dirawat dengan saling tukar kunjung, merespons, menguatkan, dan berjejaring. Pada momen absennya kekuasaan, yang perlu terus dijaga pula adalah kesadaran itu sendiri untuk merawat ikatan kolektif.
Tulisan ini tak bermaksud melanjutkan narasi luka lama seperti apa yang dituliskan tentang Seraung sebelumnya, dan saya yakin penulis pun juga risih dengan keberlarutan hal-hal yang sifatnya sentimentil dan rasanya tak ada habisnya itu, bahkan bisa-bisa membuat siapapun yang waras jadi terikut arus keruh tersebut. Di sini saya mencoba meninjau sentimen apa yang sebenarnya hadir di baliknya, yang terus hadir di balik setiap kita.
Dengan maksud tujuan, sebagai kesadaran bersama agar kita tidak mudah didefiniskan maupun disimplifikasikan ke dalam kalimat-kalimat klise yang akan bergulir bagai estafet bola liar di antara kita yang justru semakin memporak-porandakan. Bisa jadi itulah yang Novan kutip dari apa yang Korrie ungkapkan: "Jalan ini semakin sunyi, tapi kita tak sampai-sampai juga."
Adakah kiranya jalan yang dituju bersama ini mulai ditinggalkan, oleh beberapa insan-insan yang seharusnya sempat memiliki impian, tujuan, atau semangat yang sama. Karena, kerumitan yang berlarut-larut di dalam, dan faktor-faktor eskternal yang merepotkan, sekalipun jalan tersebut lengang pun tak lagi ramai orang. Justru, semakin susah untuk segera sampai. Sebab, kita bingung, heran, apalah tujuan sesungguhnya. Karena, begitu sunyi, sepi, dan mudah tersesat.
Sebagai penutup, persoalan paling terpenting dalam tulisan saya ini, terletak pada sebuah pertanyaan, adalah mengenai judul dari Seraung kedua tersebut, mengapa menyematkan kata "Muda" dalam "Seniman Muda Dikepung Kota"? Apakah kegiatan ini hanya diselenggarakan dan dirayakan oleh muda-mudi kota, atau sebuah sentilan terselubung terhadap sesuatu yang masih belum usai juga. Apakah baiknya segera diselesaikan sebelum melangkah lebih jauh ke depan atau akan dibiarkan saja?
Kemudian, bagaimana Seraung-Seraung yang akan datang dilaksanakan, dengan cara seperti apa, berorientasi atau hanya akan menjadi semacam festival seperti festival-festival lainnya yang mengutamakan perayaan simbolik, unjuk ketangkasan dan yang meriah-meriah saja, ataukah akan tetap mempertahankan kekuatan duduk bersamanya yang mengedepankan substansi, kritisisme, dan kewarasan bersama?
Sembari membahas dan mengenalkan apa itu dekolonialisasi bisakah kiranya juga membicarakan cara-cara kita bersiasat di antara ketercerai-beraian di tengah-tengah kota yang semakin mengepung ini, bagaimana cara agar kita lebih politis agar tidak mudah dipolitisasi, apa yang sekiranya telah kita lewatkan?
Selamat merayakan kesenian, selamat berfestival. Semoga pesan ini berbalas. (*)
*)Kholif Mundzira (1998) adalah seniman interdisiplin asal Samarinda yang mengeksplorasi fungsi dan sirkulasi media audio-visual-teks dalam ruang komunal dan sistem sosial. Sebagai penulis dan sutradara, karya filmnya seperti Temimpi Maunjun (2021) dan Remeh-Temeh Segumpal Daging (2023) telah diputar di berbagai festival film nasional dan internasional. Ia juga berpartisipasi dalam beberapa program lokakarya dan residensi seperti “Taktik Tidal” (Samarinda, 2024), “Gelombang Sunyi” (Tenggarong, 2024) dan “Rules of the Game” (Jakarta, 2025).
Editor : Duito Susanto