Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Garis Terakhir, Cerita Pendek Karya Sugiyarno Sutoko

Redaksi KP • Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:56 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

KALTIMPOST.ID - Di pendopo, Seto duduk bersila dengan sebuah buku tebal bersampul merah di pangkuannya—warna yang menyala di antara sarung dan kemeja putihnya yang tenang. Buku itu berisi gambar-gambar mimpi yang ia sketsa setiap kali terbangun di tengah malam, lengkap dengan tanggal dan jam kecil di sudut halaman. 

Ia jarang membukanya kembali. Baginya, tidak semua mimpi pantas diperlakukan seperti pesan. Hanya beberapa gambar mimpi saja yang ia tengok lagi karena serupa dengan yang ia alami di alam nyata. Semacam pertanda. Seperti mimpi berulang ia mengerjakan ujian, beberapa hari kemudian ia benar diuji di tempat kerja. Atau mimpi ia melihat istrinya bergaun putih, tersenyum dengan kedua tangan memegang perut. 

Baca Juga: Manusia yang Melahirkan Anjing

Tak lama berselang, istrinya hamil. Namun kali ini Seto tak sanggup mengabaikan tiga mimpi terakhirnya. Buku merah itu telah mengguncang batinnya—mendorongnya pulang dengan rasa takut yang tak ia pahami.

Jam sebelas malam, Seto masih bersila. Dingin angin kemarau membawa ingatannya ke malam pertama ia tiba di padepokan, sepuluh tahun silam. Saat itu, selepas Isya ia dimandikan oleh Mbah Guru. Setengah sadar, ia hanya mengingat sensasi air dingin menusuk tulang dan beberapa kali ia bersendawa kencang. Sendawa yang oleh puluhan murid padepokan terdengar bak auman macan. 

Seto pun teringat hari-hari Mbah Guru menyita semua buku gambarnya dan menjauhkan ponsel dan televisi dari jangkauannya. Sebulan, rutinitasnya hanya beribadah. Sisanya ia bersantai, berkeliling kebun teh atau mengunjungi rumah saudara-saudara seperguruan. Laku Mbah Guru berhasil. Daya khayal Seto menumpul, sementara seluruh inderanya justru menajam.

Baca Juga: Jerit Sunyi Hutan Kutai 

Ia teringat suatu kali Mbah Guru menanyakan aroma beberapa tamunya setelah mereka pulang. Seto menguraikan spektrum aroma masing-masing mulai dari hambar, harum, hingga busuk menyengat. 
Di kali lain, ia diminta menerawang keadaan rumah seorang tamu. Seto menceritakan penglihatan batinnya secara presisi mulai dari warna cat, bentuk gagang pintu, posisi taman, hingga wujud patung kepala Sang Buddha di tepi kolam. 

Ia pun teringat sewaktu ibunya berkunjung, Mbah Guru menanyakan silsilah lengkap keluarganya. Saat Ibunya menyebut nama Simbah Buyut, Mbah Guru tertegun, lalu mengangguk-angguk pelan.

Lepas tengah malam, majelis ilmu selesai. Satu per satu jamaah berpamitan hingga tinggal menyisakan tiga santri sepuh yang masih bertahan. Pendopo itu sekarang tampak lebih lengang, terasa lebih lapang. Mbah Guru menatap Seto lalu mengangguk, isyarat agar ia mendekat. 

Seto berdiri, berjalan pelan lalu duduk bersila di depan Mbah Guru berhadapan-hadapan. Dalam jarak dekat, ukiran Gunungan Wayang pada sekat kayu di belakang Mbah Guru tampak begitu jelas. 
Ada desir halus tatkala ia memandang ornamen itu. Desir yang mengingatkannya pada tahap akhir rancangan pendopo yang ia kerjakan ketika masih kuliah. Saat itu, Mbah Guru memilih Gunungan Wayang sebagai motif ukiran. 

Di hadapan murid-muridnya, ia bertutur bahwa Gunungan menandai awal dan akhir pertunjukan wayang—perlambang awal dan akhir kehidupan. Segala lakon, kata Mbah Guru, pada akhirnya akan kembali ke Gunungan.

“Kudengar engkau masih suka menggambar,” ujar Mbah Guru.

Seto mengangguk, lalu menunduk.

“Jadi, apa mimpimu kali ini?” Mbah Guru bertanya dengan suara lebih dalam.

Seto membuka halaman yang sudah ia tandai, memutar buku, dan mengangkatnya agar lebih terlihat. Ujung jarinya tampak sedikit gemetar. Pada dua halaman bersambung itu tampak coretan garis-garis yang ditarik cepat, membentuk gambar sebuah ruangan berdinding kaca, ada riak air kolam di sisi luarnya dengan view perbukitan dan gunung di kejauhan.

“Ini rumah rancangan saya untuk seorang pengusaha tambang. Sehari setelah mimpi saya ini, ia ditemukan meninggal, tenggelam di dasar kolam.”

Seto menarik napas panjang lalu mengembuskan pelan, seolah hendak mengungkapkan beban yang ia tahan. Tanpa menunggu tanggapan, ia membuka halaman berikutnya. Terlihat garis-garis bergelombang yang ditarik dengan gemetar, membentuk gambar rumah dua lantai dengan sebuah pohon besar di samping kanan.

“Ini rumah yang saya rancang untuk seorang ketua partai. Sehari setelah mimpi saya ini, pohon besar itu tumbang dan menimpanya di kamar tidur. Hingga sekarang ia masih koma.”

Suasana hening. Seto membalik halaman. Terlihat garis-garis meliuk serupa huruf ‘S’ dengan garis-garis pendek yang membentuk gambar sebuah tangga putar di tengah ruangan. 

“Ini tangga di rumah rancangan saya. Pemiliknya seorang pengacara. Sehari setelah mimpi ini ia dikabarkan hilang dan hingga sekarang belum ditemukan.” 

Seto menurunkan buku, menutup halaman, lalu meletakkan di depannya. 

“Punten, Mbah Guru. Mengapa saya mengalami mimpi-mimpi itu?” 

Mbah Guru memejamkan mata, ketiga murid di sampingnya memilih diam menundukkan pandangan.  

“Seto,” suara Mbah Guru tiba-tiba mengeras, “sudah berapa kali kuingatkan jangan bermain-main dengan mimpi.”

Ia membuka mata dan menatap lurus.
“Orang yang terlalu lama menatap mimpi bisa lupa bahwa hidup berjalan tanpa menunggu tafsirnya. Atau kau mengira dirimu cukup istimewa untuk membaca takdir orang lain?”

Ucapan Mbah Guru terdengar seperti petir di telinga Seto. Hatinya berontak. Ia telah menempuh delapan jam perjalanan hanya untuk satu hal: penjelasan yang masuk akal. Penjelasan yang ia harap dapat menenangkan hatinya. 

“Sekarang, istirahatlah! Tenangkan dirimu di sini barang seminggu.”

Seto terdiam tanpa mengiyakan. Malam itu ia menginap di padepokan. Sebelum tidur, ia telah memesan tiket kereta senja yang akan membawanya kembali ke perantauan. 
***
Selepas Magrib, Seto telah berada di dalam gerbong kereta, duduk termangu menatap remang di luar jendela. Di bangku samping tergeletak buku merahnya dengan pena menyembul di balik sampul. Sesekali ia menyeruput wedang jahe panas di gelas kertas. Ia akui tidurnya semalam di padepokan adalah tidur terbaiknya dalam sebulan. 

Seto meletakkan minuman di tepi jendela, merogoh headset di saku jaket, lalu memutar playlist di ponselnya. Ia pilih lagu-lagu lama yang mengingatkannya pada kehidupan di kota kecil yang saat ini mengabur di belakang. 

Waktu kanak-kanak ia tampil serupa bandit kecil di kampungnya. Bukan karena ia jago berkelahi, melainkan karena hanya rumahnya yang memiliki televisi. Setiap sore sebelum Magrib kawan-kawannya telah berbaris di depan rumah untuk menonton tayangan kartun di TVRI. 

Bak juragan, ia berdiri di ambang pintu. Satu per satu kawannya masuk sambil menyerahkan upeti, mulai dari segenggam kelereng, beberapa ekor jangkrik beserta kandangnya, seplastik kacang mete mentah hingga beberapa potong batang tebu. Bagi yang tidak setor harus menerima pilihan: pulang atau menonton dari kejauhan. Kekuasaan Seto kecil pudar ketika satu per satu temannya mulai memiliki televisi sendiri. Perlahan, ia ditinggalkan.

Dua stasiun terlewati. Seto masih tenggelam dalam lagu dan lamunan. Ia mengenang masa remaja yang ia habiskan dengan lagu-lagu barat, komik dan buku gambar. Awalnya ia menyukai karakter-karakter animasi Jepang, kemudian bosan dan beralih menggambar segala benda keseharian. 

Ia betah jongkok di toilet, mengamati pola karat di pintu seng, menemukan suatu bentuk, lalu menggambarnya. Di lain waktu, ia menghentikan langkah ketika pulang sekolah, memandangi gumpalan-gumpalan awan, menemukan suatu bentuk, lalu menggambarnya. Menyadari potensi sang anak, orang tua Seto merestuinya belajar Ilmu Seni Bangunan. Di sinilah, kerumitan imajinasi Seto mempertemukannya dengan sosok Mbah Guru.

Kala itu di akhir studinya, Seto menerima job mendesain ulang bangunan gedung bekas rumah sakit swasta menjadi sekolah taman kanak-kanak. Mendekati tenggat, ia kerahkan seluruh daya kreasinya. Berhari-hari ia mensurvei gedung tua itu dan bermalam-malam berikutnya ia menggambar. 

Kurang tidur, kurang makan, hingga pada suatu pagi Seto tumbang. Tubuhnya lemas tak mampu bergerak. Keluarganya membawanya ke dokter umum lalu dirujuk ke psikiater. Namun diagnosa mereka serupa: Seto baik-baik saja. 

Tergerak oleh firasat, ibunya membawanya ke padepokan Mbah Guru. Rumornya Seto ketempelan jin penunggu rumah sakit. Dalam perawatan Mbah Guru, Seto berangsur-angsur pulih. 

Di padepokan itu Mbah Guru mengajarinya intisari kehidupan. Relasi keduanya berkembang dari tabib dan pasien menjadi guru dan murid. Di mata Mbah Guru, Seto adalah murid yang istimewa. Sedangkan di mata Seto, Mbah Guru adalah pembimbing yang keras. 

Meski menaruh hormat, Seto kerap berseberangan dengan gurunya. Seto selalu menuntut penjelasan atas setiap kejadian. Sebaliknya, Mbah Guru gigih mengingatkan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Puncaknya Seto memutuskan untuk merantau, meninggalkan padepokan.

Tengah malam, Seto menguap, mematikan playlist, melepas headset lalu memasukkan kembali ke saku jaket. Ia menurunkan sandaran kursi dan merapatkan kancing jaket. Ia raih buku merahnya lalu mendekapnya di dada. Seto mendesah pelan. Di kaca jendela, bayangannya sendiri tampak samar. 

Bagaimana jika semua itu hanya kebetulan? Tiga mimpi. Tiga musibah. Mungkin ia terlalu jauh menafsirkan. Mungkin kali ini Mbah Guru benar, dirinya harus legawa, menerima tanpa perlu bertanya apalagi merasa mampu mengubah alur cerita. 

Ya, Seto telah memutuskan untuk menyerah. Barangkali hidup memang bukan teka-teki yang harus ia pecahkan sendirian. Ajaib! Dalam satu hembusan napas panjang, dadanya terasa lapang, kepalanya terasa ringan, lalu gelombang kantuk mulai datang tak tertahankan. Lepas tengah malam, Seto tertidur.

Menjelang subuh, sebuah daya misterius menghentak Seto seperti seseorang mengguncang bahunya dari dalam mimpi. Ia terbangun, napasnya terengah-engah, peluh membanjiri sekujur tubuh. 

Saat kesadarannya belum penuh ia raih buku merah yang hampir terjatuh. Dengan tangan gemetar, ia membuka halaman kosong lalu menggambar. Pada tarikan garis terakhir, sesuatu di dalam dirinya runtuh. Napasnya yang berat pecah menjadi isak yang tak lagi bisa ia tahan. Air matanya mengalir deras membasahi halaman buku. Di kertas yang basah itu tampak garis-garis bergelombang membentuk Gunungan Wayang—seolah sebuah lakon baru saja ditutup. (*)

Editor : Duito Susanto
#tafsir mimpi #sastra indonesia #cerita pendek #kaltim post