Dalam Bayang Universitas

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 07:31 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Dapatkah sebuah negeri melahirkan pemimpin besar dengan membangun universitas baru? Tidak hanya satu, tetapi sepuluh universitas akan didirikan. Sementara itu, ruang-ruang kelas tempat pertama kali belajar mengeja masih dipenuhi atap bocor dan guru menagih janji kesejahteraan yang tak kunjung tiba?

Sebuah Cerita Pendek Karya Sahari Nor Wakhid

HUJAN turun perlahan. Garis-garis bening mengaburkan halaman sekolah. Udara di ruang guru dipenuhi aroma kopi yang mulai kehilangan hangatnya, bercampur dengan aroma buku-buku lama yang telah menyimpan jejak puluhan tahun pengabdian. Di atas meja kayu yang catnya mulai mengelupas, layar sebuah ponsel memancarkan berita yang sedang memenuhi ruang-ruang percakapan di seluruh negeri. Huruf-hurufnya menyala terang, seakan sengaja menantang siapa pun yang membacanya. Universitas Republik Indonesia akan dibentuk sebagai lembaga pendidikan untuk mencetak calon pemimpin bangsa.

Berita itu tidak bersuara, tetapi mampu mengusik kesunyian Yusril, seorang guru IPS SMP Negeri. Ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya mengembuskan napas perlahan.

“Barangkali memang sudah waktunya,” ucapnya.

Baca Juga: Manusia yang Melahirkan Anjing

Kalimat itu meluncur tenang, tetapi terdengar seperti batu yang dijatuhkan ke permukaan danau. Riaknya segera merambat ke seluruh ruangan hingga sampai pada Hikmah, guru matematika yang berada di seberang mejanya. Ia mengangkat wajah dari setumpuk buku latihan yang sedang diperiksanya.

“Waktunya untuk apa, Pak?” tanyanya.

“Mempersiapkan pemimpin. Negeri ini terlalu sering berharap pemimpin besar lahir secara kebetulan. Sudah saatnya mereka dipersiapkan secara khusus,” jawab Yusril mantap.

“Kalau begitu, izinkan saya bertanya. Pohon mana yang lebih pantas disiram lebih dahulu, pucuknya atau akarnya?”

“Kalau akarnya sudah tumbuh, bukankah sekarang saatnya memperkuat pucuknya?”

“Tidak. Yang kita miliki justru akar yang belum seluruhnya kuat.”

“URI dirancang bukan sekadar universitas. Tempat itu akan membentuk karakter, integritas, kemampuan manajerial, wawasan kebangsaan, bahkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukankah selama ini kita selalu mengeluhkan kualitas pemimpin?” ucap Yusril seraya menarik kursinya.

“Karakter tidak lahir ketika seseorang mengenakan jas almamater. Karakter lahir jauh sebelum seseorang mengenal kata universitas.”

Yusril tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju pada papan tulis kecil di sudut ruang guru. Tulisan yang mulai memudar masih terbaca jelas. “Setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar.”

Baca Juga: Dua Buku Lahir dari Tanah Rantau: Nikmat Harahap Mengubah Perjuangan Menjadi Karya

Kalimat sederhana itu menyeret Hikmah ke lorong waktu yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Bertahun-tahun silam, ia masih menjadi guru muda di sebuah sekolah kecil. Dinding ruang kelas terbuat dari papan yang mulai lapuk. Atapnya bocor. Ketika hujan turun, anak-anak menggeser bangku agar buku mereka tidak basah. Seorang murid perempuan datang tanpa alas kaki. Seorang anak laki-laki membawa buku yang sampulnya direkatkan dengan kertas seadanya karena telah diwariskan dari kakaknya.

Suatu pagi ia bertanya kepada mereka, “Apa cita-cita kalian?”

Anak laki-laki itu tersenyum malu sambil menjawab, “Saya ingin menjadi orang yang bisa membuat sekolah ini tidak bocor lagi, Bu.”

Jawaban sederhana itu mengendap bertahun-tahun di dasar hatinya. Dari situ, ia belajar memahami sesuatu. Pemimpin tidak lahir dari ruang kuliah. Mereka lahir ketika seorang anak miskin tetap berani bermimpi meski langit di atas kepalanya meneteskan hujan.

Ruang guru kembali memenuhi pandangannya.

“Pemimpin pertama kali dibentuk oleh guru PAUD yang mengajari mereka menggenggam pensil. Guru SD yang mengenalkan huruf. Guru SMP yang mengajari mereka berpikir. Guru SMA yang membiasakan mereka bertanggung jawab. Universitas hanya memoles apa yang telah tumbuh.”

“Kalau begitu mengapa masih banyak pemimpin yang gagal? Bukankah mereka juga melewati semua jenjang pendidikan itu?” tanya Yusril dengan nada mulai meninggi hingga bangkit dari duduknya.

Pertanyaan itu menggantung. Jarum jam dinding seolah melambat. Hujan di luar terdengar semakin jelas.

“Mungkin, karena kita belum pernah memiliki tempat yang benar-benar dirancang untuk membentuk pemimpin,” lanjut Yusril.

“Atau mungkin karena kita terlalu sibuk membangun tempat baru, sementara fondasi rumah yang lama mulai retak,” balas Hikmah tak mau kalah.

Yusril terdiam. Untuk sesaat, ia tidak lagi melihat Hikmah. Yang hadir di pelupuk matanya justru dirinya sendiri dua puluh tahun lalu. Saat ia hampir berhenti menjadi guru. Gajinya tak cukup membayar kontrakan. Ia pernah berjalan pulang dengan sepatu yang robek di bagian depan. Ia pernah berpikir meninggalkan ruang kelas demi pekerjaan yang lebih menjanjikan. Namun suatu pagi, seorang murid berlari menghampirinya.

“Pak, kalau Bapak pindah, siapa yang akan mengajari saya sampai bisa?”

Kalimat pendek itu mengikat langkahnya hingga hari ini. Ia bertahan. Bukan karena hidup menjadi mudah. Melainkan karena ada anak-anak yang menggantungkan harapan kepada gurunya.

Kesunyian kembali memenuhi ruang guru. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Layar ponsel Hikmah kembali menyala. Ia membuka berbagai tanggapan masyarakat. Sebagian menyambut URI sebagai harapan baru. Sebagian lain mempertanyakan urgensinya. Ada yang bertanya mengapa universitas baru harus dibangun ketika sekolah-sekolah di pelosok masih kekurangan ruang kelas. Ada yang mengeluhkan kesejahteraan guru yang belum juga memadai. Ada pula yang yakin bahwa membangun pemimpin tidak cukup dengan mendirikan gedung baru.

“Masalahnya bukan pada universitas itu. Masalahnya adalah keyakinan bahwa gedung baru mampu memperbaiki sesuatu yang sejak awal retak,” ucap Hikmah sambil mematikan layar ponselnya.

“Bagaimana jika gedung baru justru menjadi bagian dari perbaikannya?”

“Itu mungkin.”

“Jadi Ibu setuju?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Saya hanya mengakui kemungkinan.”

Pintu ruang guru tiba-tiba terbuka. Kepala sekolah masuk membawa setumpuk berkas. Ia memandang kedua guru itu bergantian.

“Besok ada tiga siswa kelas tujuh yang hasil asesmen membacanya masih jauh di bawah harapan. Kita perlu memikirkan strategi pendampingan mereka,” ucap kepala sekolah sambil meletakkan berkas di atas meja.

Yusril menatap daftar nama siswa yang membutuhkan bimbingan. Hikmah membuka lembar hasil asesmen literasi. Mereka baru menyadari bahwa selama hampir satu jam memperdebatkan masa depan pendidikan nasional, ada tiga anak yang sedang menunggu seseorang mengajari mereka memahami kalimat sederhana.

Di luar, hujan mulai reda. Sinar matahari sore menyelinap melalui kaca, memantulkan bayangan dua guru yang masih berdiri teguh pada keyakinannya masing-masing. Yang satu percaya bahwa bangsa memerlukan tempat khusus untuk menempa calon pemimpin. Yang lain percaya bahwa pemimpin terbaik dimulai dari ruang kelas sederhana tempat seorang anak pertama kali mengenal huruf, belajar jujur, menghargai sesama, dan bermimpi tanpa takut ditertawakan.

Mungkin universitas baru memang akan melahirkan pemimpin-pemimpin besar. Mungkin pula yang lebih mendesak adalah memastikan setiap anak memperoleh pendidikan dasar yang bermutu dan setiap guru dapat mengajar tanpa dibebani kegelisahan tentang kesejahteraannya.

Hujan benar-benar berhenti. Meninggalkan pertanyaan apakah masa depan sebuah bangsa dibangun dari universitas yang akan didirikan, atau justru dari ruang-ruang kelas sederhana yang sejak lama menunggu untuk lebih dahulu diperjuangkan? (*) 

*)Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 11 buku solo dan 65 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Di Antara Sampiran dan Isi (Kumpulan Puisi, 2026). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe

*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.

Editor : Duito Susanto
universitas republik indonesia pendidikan dasar kesejahteraan guru cerita pendek Sahari nor wakhid