TANAH bergetar oleh langkah kaki yang tak terhitung jumlahnya.
“Cepat menjauh! Jangan sampai mereka menangkap kita,” teriak burung tua dari atas, sayapnya masih mencoba membelah angin yang terasa semakin berat.
Di bawahnya, seekor semut muda mendekap erat tubuh kucing hutan yang juga melarikan diri. Semut itu hanya bisa menyaksikan kawanannya mati satu per satu oleh langkah yang memburunya, sedangkan kucing hutan mempercepat langkahnya, melompat melewati semak, dan berusaha sebisa mungkin menjauh.
Baca Juga: Dalam Bayang Universitas
Gonggongan pecah seakan memenuhi segala sudut.
“Jangan biarkan mereka kabur!” ucap salah satu anjing.
Kucing hutan pun tiba di tempat persembunyian di mana burung tua telah menunggunya.
“Kenapa mereka mencoba membunuh kita?” tanya semut muda kebingungan dengan suara yang nyaris tak terdengar.
“Karena kita telah mengetahui terlalu banyak,” jawab burung tua sambil menoleh ke arah hutan yang kini terasa asing.
Hening sejenak, hanya terdengar suara gesekan daun. Lalu kucing hutan menambahkan.
“Dulu, hutan ini adalah tempat yang sempurna. Makanan dibagi merata, sungai tidak dipagar, dan tidak ada yang perlu takut untuk berjalan di siang hari.”
***
Lima tahun lalu, di tengah hutan yang sama, berdiri sebuah batu besar. Di atasnya, seekor singa sering terlihat mematung, kehadirannya cukup untuk membuat semua hewan merasa aman. Raungannya jarang terdengar. Tapi ketika itu keluar, maka hanya terdengar sebuah kebenaran dan keadilan. Hingga suatu hari, raungan itu perlahan hilang. Sang singa memilih pergi karena merasa kehadirannya tak lagi diperlukan untuk hutan yang damai. Dan sejak itu, hutan perlahan berubah.
Mulanya, perubahan terasa kecil. Kawanan monyet mulai berbicara lebih banyak dari biasanya.
Suatu hari semua hewan dikumpulkan di suatu tempat.
“Kita harus membuat beberapa peraturan baru dan perubahan untuk kebaikan bersama,” kata salah satu monyet.
Beberapa hewan mengangguk, kebanyakan dari mereka setuju dengan usulan itu, para tikus tersenyum dan sisanya masih mencoba mencerna.
Baca Juga: Garis Terakhir, Cerita Pendek Karya Sugiyarno Sutoko
Salah satu dari kawanan babi hutan kemudian melangkah maju.
“Lumbung harus dikelola dan dijaga, agar pembagian merata dan tidak diambil sesuka hati,” katanya.
Sejak itu, hutan dipercayakan kepada kawanan babi hutan, monyet, dan juga anjing. Awalnya, semua tampak masuk akal. Semua hewan diwajibkan menyerahkan persediaan makanan atau hasil hutan yang mereka punya kepada kawanan babi. Kemudian beberapa bagian akan dibagikan kembali dan sebagian besar disimpan di lumbung untuk dikelola. Katanya, agar kelak bisa digunakan ketika musim ekstrem melanda atau saat makanan sulit untuk ditemukan. Hingga suatu hari, beberapa hewan mulai menyadari sesuatu. Mereka yang bekerja lebih keras, malah memperoleh hasil lebih sedikit. Hal ini sangat terasa bagi faksi semut.
Di salah satu dahan dekat lumbung, burung tua melihat tikus keluar dari sana, melewati para anjing dengan santai pada dini hari, membawa makanan dalam jumlah yang lebih banyak dari kesepakatan.
“Ambillah ini, anggap sebagai tanda terima kasih dari kami,” kata salah satu tikus sambil memberi setengah bagiannya kepada anjing yang berjaga.
Burung tua dan kucing hutan juga memperhatikan kawanan babi hutan yang semakin gemuk dari musim ke musim, dan para anjing yang semakin semena-mena. Lalu ditambah dengan kawanan monyet yang juga terus berbicara, tentang aturan, ketertiban, dan sesuatu yang terdengar benar, tapi terasa keliru.
Suatu sore, semua hewan dikumpulkan kembali untuk membahas pengelolaan lumbung. Diskusi tersebut dipimpin oleh kawanan babi hutan dan monyet dengan bantuan penjagaan para anjing. Di antara kerumunan itu, ada satu suara yang berhasil membuat hutan hening sesaat di tengah diskusi yang berlangsung.
“Mereka mencoba menguasai lumbung dan hutan kita,” Teriak kucing hutan yang mencoba menyampaikan kebenaran.
Namun sebelum suaranya sempat menyadarkan banyak hewan, kawanan monyet telah lebih dulu menyebarkan rumor tentang burung tua dan kucing hutan, mengenai persekongkolan mereka dalam memenuhi ambisi untuk menguasai hutan.
“Jangan percaya kabar dari dua sahabat itu, mereka mencoba memecah belah kita,” kata salah satu monyet kepada beberapa hewan.
“Mereka hanya iri pada keberhasilan kawanan babi hutan dalam mengelola lumbung, kami malah merasa sejahtera sejak kesepakatan ini dijalankan,” sahut perwakilan kawanan tikus.
“Semua ini telah kita rundingkan bersama sejak lama, kalian yang memilih kami, dan kita telah setuju dengan kesepakan yang ada,” tambah salah satu babi hutan.
Para anjing mengangguk, lalu diikuti gonggongan yang memenuhi udara mencoba mengintimidasi hutan. Informasi yang direkayasa sebelumnya berhasil dilahap mentah-mentah oleh sebagian besar hewan hutan, beberapa hewan menyadari situasi, namun tak cukup berani untuk bersuara maupun bertindak, sedangkan sisanya mengambil jalan aman. Akhirnya kucing hutan dan burung tua perlahan diasingkan oleh para hewan, kelompoknya, dan bahkan hutan itu sendiri.
Kini dua sahabat itu hanya bisa melihat suara-suara kecil yang perlahan lenyap, ketakutan menjalar seperti akar pohon, dan hutan yang mulai lupa pada sesuatu bernama keadilan.
***
Gelap telah melahap matahari sepenuhnya. Meski ditemani ribuan titik putih di langit, kucing hutan, burung tua dan semut muda masih saja terjaga.
“Kita tidak bisa diam saja,” kata kucing hutan.
“Jadi apa yang mau kamu lakukan?” tanya burung tua.
“Ayo, kita lawan mereka, bersembunyi tak akan mengubah apapun,” jawabnya.
“Tapi kita terlalu kecil,” balas semut muda.
“Masalahnya bukan pada ukuran kita, tapi masalah terbesar adalah tidak ada lagi yang mereka takuti saat ini,” sahut burung tua.
“Sepertinya jalan satu-satunya kita harus menemukannya,” tambahnya.
“Siapa?” tanya semut muda.
Kucing hutan mengangkat kepalanya, ia mengerti setiap kata yang disampaikan oleh burung tua.
“Sang Singa,” jawab burung tua.
“Kalau ia masih ada, jika tidak?” tanya semut muda sekali lagi.
“Maka kita harus terus menemukan alasan untuk tetap berani,” jawab kucing hutan.
Gonggongan terdengar kembali, lebih dekat dan semakin keras. Semut berpengangan pada bulu di punggung kucing hutan dan burung tua kembali terbang. Tiga makhluk kecil itu memulai perjalanannya, mencari suara yang membuat segala hewan berhenti berdusta. Namun perjalanan itu tidak pernah sunyi, setiap langkah terasa dibuntuti bayangan yang siap menerkam kapan saja.
Lewat jaringan semut muda yang luas, perlahan keberadaan sang singa mulai menemukan titik terang. Melalui kabar yang dikumpulkan dari satu koloni ke koloni, mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.
Mereka terus berjalan, hari demi hari, berbekal satu keyakinan bahwa sang singa masih hidup, dan suatu hari akan mereka temukan.
“Berdasarkan semua informasi yang kita peroleh, keberadaan sang singa mengarah ke satu tempat,” kata semut muda.
“Ke arah mana?” tanya burung tua.
“Ke tebing di ujung hutan, tempat matahari terbit setiap hari,” jawabnya.
“Apakah kalian yakin untuk melanjutkan perjalanan ini?” tambah semut muda.
“Iya,” jawab burung tua.
“Bagaimana jika kita tidak berhasil menemukan sang singa?” tanya semut kembali.
“Berhasil atau tidak, itu bukan alasan untuk berhenti,” kata kucing hutan.
“Kita sudah terlalu jauh untuk mundur apalagi menyerah,” tambah burung tua.
Kucing hutan menoleh ke arah hutan tempat mereka berada, lalu kembali menatap burung tua dan semut muda.
“Kita harus lanjutkan ini. Bukan hanya untuk kita, tapi untuk keadilan bagi hutan yang masih kita cintai,” sahutnya.
***
“Mereka pun meneruskan perjalanan,” suara guru mereda pelan diikuti dengan buku tulis di tangannya yang tertutup.
Beberapa siswa saling menatap tanpa suara, menunggu lanjutan cerita yang tak kunjung tiba.
“Setelah itu bagaimana, Pak?” tanya seorang siswa di bangku belakang diikuti dengan suara siswa lain.
“Sang singa masih hidup, Pak?”
“Bagaimana nasib mereka bertiga, Pak?”
“Apakah hutan mereka kembali seperti dulu?”
Guru itu hanya tersenyum. Namun sebelum ia mnjawab, bel lebih dulu berbunyi, memutus cerita yang belum usai. Ia meminta siswa untuk berdoa bersama seperti biasa sebelum pulang.
Siswa mulai beranjak, sebagian masih menoleh ke depan.
“Ceritanya dilanjutkan di pertemuan selanjutnya ya, Pak?” tanya seorang siswa.
Guru mengangguk.
“Iya nak,” jawabnya.
Satu per satu mereka keluar, membawa rasa penasaran yang masih menggantung di udara. Suara mereka yang memenuhi kelas itu, kini perlahan menjauh, menyisakan guru dan sunyinya ruang kelas. Ia masih di sana sendiri di dalam kelas kayu yang mulai rapuh oleh usia, beberapa bagian telah berlubang sisa gigitan rayap, dan atapnya sesekali berderit, seakan telah lama menahan beban dunia. Ia menatap bangku-bangku yang kosong, membayangkan wajah siswanya yang tadi duduk di atasnya, yang masih percaya keadilan bisa datang tepat waktu.
Sore itu, langit tampak lebih pucat saat ia melangkah pulang, jalan di depan sekolah masih tetap sama, penuh lubang dan genangan. Bahkan air yang menggenang mampu memantulkan bayangan langit yang retak. Di sebelah kiri, terbentang danau luas sisa pertambangan bertahun-tahun lalu. Sedangkan tidak jauh dari sana, beberapa pohon berdiri menunggu untuk tumbang, seperti nasib temannya yang ditebang paksa.
Sepanjang perjalanan pikirannya berjalan lebih jauh dari langkahnya. Tentang gaji yang datang, lalu habis sebelum sempat disyukuri. Mengenai harga kebutuhan yang terus naik, sedangkan penghasilan yang tetap diam di tempat. Prihal hari esok yang selalu menyambutnya, tanpa pernah benar-benar memberi kepastian.
Guru terdiam sejenak lalu melangkah perlahan, melewati jalan berlubang, danau yang diam, dan pohon-pohon yang mulai kehilangan daun. Ia meneruskan langkahnya, membawa cerita tiga makhluk kecil yang harus ia lanjutkan, meski hidupnya sendiri terasa seperti kisah yang belum pernah benar-benar berpihak. (*)
*)WAHDI ANWAR (YelloWna) merupakan penulis amatir yang lahir di Tenggarong, 16 Juni 1996. Sejak 2018, ia mengabdikan diri sebagai pengajar matematika di Samarinda. Kecintaannya pada warna kuning, terutama bunga matahari, menjadi simbol harapan. Ketika waktu senggang, ia menyempatkan untuk menulis puisi dan cerpen sebagai jalan merekam pengalaman atau kisah hidup.
*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak mentoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.
Editor : Duito Susanto