APAKAH langit sedang berduka dengan cara berbeda atau kitalah yang terlalu sibuk membaca bencana sebagai peristiwa biasa? Asap pernah menghitamkan langit karena keserakahan tangan manusia. Kini abu datang dari perut bumi tanpa meminta izin kepada siapa pun. Di antara keduanya, ada manusia yang seharusnya belajar bahwa setiap bencana patut dijadikan peringatan agar kita berani menengok kembali keputusan-keputusan yang pernah kita anggap benar.
Sebelum bel pulang berdenting, Bu Murni akan roboh di lantai ruang guru. Tak seorang pun menyangka penyebabnya bukan abu vulkanik yang sejak pagi turun seperti salju keliru alamat, melainkan rasa bersalah yang selama beberapa pekan tumbuh diam-diam di dalam dirinya.
Beberapa minggu sebelumnya, asap kebakaran hutan dan lahan telah menutup langit kota. Kini abu gunung dari ratusan kilometer jauhnya kembali membuat udara kehilangan kejernihannya. Dua bencana yang tidak bersaudara. Dua langit yang sama-sama kelabu. Namun bagi Bu Murni, keduanya seperti dua halaman dari satu buku yang belum selesai dibacanya.
Baca Juga: Persimpangan, Sebuah Cerita Pendek Karya Wahdi Anwar
Ruang guru SMP Negeri itu pengap. Abu tipis menyusup dari celah jendela dan mengendap di meja. Bu Murni duduk dengan map presensi di pangkuan. Tangannya gemetar. Di hadapannya, Pak Syawal berdiri dengan wajah tegang.
“Seharusnya kegiatan luar ruangan dibatalkan sejak pagi. Abu vulkanik bukan gerimis,” kata Pak Syawal.
“Keputusan bukan ada di tangan saya, Pak,” jawab Bu Murni sambil menatap.
“Tapi, dulu Ibu juga bilang begitu.”
Bu Murni mengangkat wajah. Ia tahu ke mana percakapan itu akan bermuara. Luka lama yang belum sepenuhnya kering. Luka yang mengembalikan ingatan mereka pada satu nama murid di kelas VIII-B, Aiman.
Percakapan terpotong dengan terbukanya pintu. Pak Yusuf masuk dengan langkah tenang. Ia membawa map presensi yang terlambat lagi, seperti kebiasaannya yang selama ini dianggap sepele.
“Kenapa suasananya seperti ruang sidang?” tanyanya.
“Karena kita sedang mengadili keputusan lama,” jawab Pak Syawal.
“Bencana begini sebaiknya kita hadapi dengan doa.”
“Tindakan juga penting,” potong Pak Syawal.
“Bukankah doa juga tindakan?”
“Bukan. Doa yang dipakai untuk menunda keputusan, bukanlah tindakan.”
Bu Murni menunduk. Perdebatan itu seperti membuka pintu yang selama ini ia kunci dari dalam. Ia masih ingat hari ketika asap karhutla memenuhi sekolah. Langit menjadi cokelat. Jarak pandang menyusut. Bau hangus menempel pada seragam dan rambut anak-anak. Saat itu pemerintah meminta kegiatan pendidikan tetap berjalan sebisa mungkin. Kalender pembelajaran harus bergerak. Program harus terlaksana. Kehadiran harus terjaga. Ada target yang harus dicapai dan laporan yang harus dikirim. Bu Murni percaya pada semua itu.
Baca Juga: Dua Arah Pulang, Cerita Pendek Karya Bella Sapitri
“Anak-anak tidak boleh terus tertinggal,” katanya waktu itu.
Pak Syawal menolak. Ia menunjukkan kabar dari puskesmas tentang meningkatnya keluhan pernapasan. Ia meminta kegiatan dihentikan.
Namun, Bu Murni bertahan. Baginya, menjadi guru berarti menjaga kelas tetap hidup ketika keadaan sedang sulit. Ia tidak ingin disebut guru yang mudah menyerah hanya karena keadaan.
Hari itu, Aiman jatuh di tengah pelajaran. Anak itu memiliki riwayat asma yang selama ini terkendali. Asap membuat napasnya memburuk. Tubuhnya melemah sebelum sempat mencapai UKS. Pak Syawal menggendongnya keluar dan membawanya ke puskesmas. Aiman selamat.
Namun sejak hari itu, Bu Murni merasa ada sesuatu dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar pulih. Bukan karena Pak Syawal menyalahkannya, melainkan karena ia tidak melakukannya.
Setiap kali melihat anak-anak berbaris dalam sebuah program sekolah, Bu Murni teringat Aiman. Setiap kali menerima instruksi tentang target, capaian, dokumentasi, dan keterlaksanaan kegiatan, ia bertanya dalam hati, “Untuk siapa semua itu jika keselamatan anak hanya menjadi catatan kecil di antara lembar laporan?”
Ia tidak membenci program pemerintah. Ia tahu banyak program lahir dari niat baik. Pendidikan memang membutuhkan arah. Sekolah membutuhkan kebijakan. Guru membutuhkan sistem. Tetapi belakangan, ia merasa ada sesuatu yang keliru ketika keberhasilan terlalu sering diukur dari apa yang tampak selesai, bukan dari apa yang sungguh-sungguh bermakna.
Mungkin, pikirnya, bencana datang bukan hanya untuk menguji ketahanan manusia. Mungkin juga bencana datang sebagai peringatan kepada mereka yang terlalu lama merasa paling tahu.
Asap karhutla telah memperingatkannya tentang kesombongan manusia terhadap alam. Abu vulkanik pagi itu memperingatkannya tentang keterbatasan manusia terhadap kuasa yang jauh lebih besar. Di antara keduanya, Bu Murni menemukan kesalahannya sendiri.
Baca Juga: Hari-Hari Ungu Kembang Perawan
“Saya masih memikirkan Aiman. Saya sering membayangkan kalau waktu itu lebih memilih menghentikan kegiatan. Mungkin semuanya berbeda,” katanya tiba-tiba.
“Saya juga bersalah. Saya marah, tapi tidak cukup keras memperjuangkan keselamatan anak-anak,” balas Pak Syawal sambil menarik kursi dan duduk.
Pak Yusuf perlahan meletakkan mapnya. Wajahnya tak lagi setenang tadi.
“Saya juga harus mengaku. Waktu itu saya terlalu mudah mengatakan bahwa semuanya adalah ujian. Saya lupa bahwa manusia diberi akal untuk membaca keadaan. Doa tidak boleh menjadi alasan untuk diam.”
Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sementara, abu terus turun di luar. Tidak deras. Justru karena itulah, kehadirannya terasa lebih menggetarkan. Abu datang perlahan dan membuat segala sesuatu berubah tanpa suara.
“Barangkali,” kata Bu Murni, “kita terlalu sering menunggu bencana untuk belajar peduli. Lalu setelah bencana pergi, kita kembali lupa.”
Pak Syawal dan Pak Yusuf hanya bergeming. Bu Murni berdiri. Ia mengambil map kegiatan dan menutupnya.
“Untuk hari ini, kegiatan luar ruangan kita hentikan. Kita tetap mengajar di dalam kelas. Anak-anak kita lindungi. Setelah itu, kita doa bersama,” sambung Bu Murni.
“Sekarang, doa dan ikhtiar punya tempat yang sama,” balas Pak Yusuf dengan sungging senyumnya.
Di halaman, beberapa murid berjalan sambil menutup hidung. Abu menempel pada daun jambu dan membuatnya kelabu. Pemandangan itu mengingatkannya bahwa alam tidak pernah benar-benar diam. Alam mencatat kesalahan manusia dengan caranya sendiri.
Baca Juga: Manusia yang Melahirkan Anjing
Bel pulang berdenting. Bu Murni duduk kembali. Tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Sesuatu yang selama ini ditahannya runtuh begitu saja. Ia roboh di lantai ruang guru. Pak Syawal dan Pak Yusuf segera menolongnya.
Ketika kesadarannya kembali, hal pertama yang dilihatnya adalah langit di balik jendela. Masih kelabu. Namun di sela abu yang menggantung, sepotong biru mulai tampak. Bu Murni memandangnya lama.
Barangkali bencana memang tidak selalu datang untuk menghukum. Barangkali ia datang untuk mengetuk kesadaran yang terlalu lama tertidur. Untuk mengingatkan bahwa pendidikan bukan perlombaan menyelesaikan program. Bukan pula deretan angka yang harus tampak berhasil di atas kertas. Pendidikan adalah keberanian memilih manusia ketika sistem membuat kita sibuk mengejar keterlaksanaan.
Langit boleh berduka dengan cara yang berbeda. Tetapi jika manusia bersedia belajar, setiap duka selalu mengajarkan manusia untuk menjaga apa yang sudah dititipkan kepada kita? (*)
*)Sahari Nor Wakhid, Guru SMP Negeri 5 Sangatta Utara, Kutai Timur. Mulai menekuni dunia kepenulisan sejak tahun 2020. Telah menerbitkan 11 buku solo dan 65 antologi bersama. Buku paling mutakhirnya adalah Di Antara Sampiran dan Isi (Kumpulan Puisi, 2026). Bisa dikontak melalui Instagram @saharienwe
*)Redaksi memberi ruang berekspresi bagi para penulis dalam bentuk cerita pendek, cerita bersambung, atau karya puisi. Redaksi tidak menoleransi segala bentuk pelanggaran etika penulisan, termasuk plagiarisme.
Editor : Duito Susanto