KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kehidupan keluarga Cendana menarik perhatian publik karena Soeharto berkuasa selama 32 tahun. Di masa pemerintahannya, Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi, namun dengan catatan korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkaran keluarga dan kerabat dekat, serta tentang gaya pemerintahan otoriter.
Kestabilan ekonomi dan keamanan mulai goyah pada 1998. Indonesia memasuki masa krisis politik dan ekonomi. Demonstrasi besar-besaran pun terjadi.
Masyarakat dari kalangan mahasiswa sampai elit politik turun ke jalan, menguasai gedung dewan dengan satu tujuan: menuntut Soeharto turun. Soeharto kemudian menyatakan berhenti pada 21 Mei 1998.
Soeharto menikah dengan seorang perempuan bernama Siti Hartinah atau yang akrab disapa dengan Ibu Tien pada 26 Desember 1947. Dari pernikahan ini, pasangan tersebut dikaruniai 6 orang anak, yang masing-masing 3 anak perempuan dan 3 anak laki-laki.
Mereka bernama Siti Hardiyanti Rukmana, Sigit Harjojudanto, dan Bambang Trihatmodjo. Kemudian ada Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, serta Siti Hutami Endang Adiningsih.
Dari enam anak Soeharto, hanya Siti Hardiyanti Rukmana yang paling aktif dalam kegiatan sosial pada zaman Orde Baru. Pada era 80-an, Mbak Tutut pernah mempelopori terbentuknya Kirab Remaja.
Bertujuan untuk memupuk rasa cinta tanah air di kalangan remaja dan memperkenalkan suatu organisasi berbasis agama seperti Rohani Islam atau ROHIS sebagai wadah organisasi yang mencetak generasi beriman.
Tutut menjabat sebagai Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Pemberdayaan Wanita DPP Partai Golkar pada tahun 1992–98. Setelah Ibu Tien Soeharto meninggal dunia pada tahun 1996, Tutut melaksanakan tugas sebagai Ibu Negara Indonesia pada acara-acara resmi.
Selain itu, Suharto mengangkatnya sebagai Menteri Sosial pada bulan Maret 1998 dalam Kabinet Pembangunan VII. Selama menjabat Menteri Sosial, ia menerapkan program Makan Gratis.
Kebijakan makan gratis bagian dari upaya pemerintah dalam menanggulangi dampak krisis moneter untuk jangka pendek.
Sasaran utama makan gratis adalah warga yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Untuk rencana jangka panjangnya, korban PHK dibantu dengan program Takesra/Kukesra (Tabungan Kesejahteraan Rakyat/Kredit Usaha Kesra).
Tutut adalah satu-satunya anak Soeharto yang masuk dalam pemerintahan. Lima lainnya relatif tidak pernah berkecimpung di pemerintahan kecuali pernah menjadi anggota legislatif dan berbisnis.
Editor : Uways Alqadrie