KALTIMPOST.ID – Titiek Puspa diketahui lahir di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 1 November 1937.
Namun hanya sedikit yang tahu bahwa ia kemudian tumbuh besar di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Daerah penghasil tembakau ini menjadi saksi perjalanan masa kecil sang diva yang penuh perjuangan dan kenangan emosional.
Titiek Puspa kecil pindah ke Temanggung saat berusia usia lima tahun. Ia merupakan bagian dari eksodus warga Ambarawa yang mencari tempat hidup yang lebih aman setelah kekacauan akibat perang melawan penjajahan Belanda dan Jepang.
“Eyang dulu sekolah jalan kaki, berangkat masih gelap dengan banyak pedhut (kabut), bawa obor,” kenang Titiek saat mengunjungi Temanggung pada tahun 2014.
Baca Juga: Bukan Instruksi Biasa, Wasiat Titiek Puspa Ini Bikin Keluarga Tak Berani Membantah
Pada sekitar tahun 1941, perempuan yang awalnya bernama Sudarwati yang kemudian diubah menjadi Kadarwati serta Sumarti ini, tinggal di Desa Greges, Kecamatan Tembarak.
Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan panjang melewati sawah dan jalanan berlumpur hanya untuk bisa sekolah.
Tak jarang ia terjatuh, bajunya belepotan lumpur, namun ia tetap melanjutkan perjalanan ke sekolah dalam kondisi basah dan kotor.
Beberapa tahun kemudian, ia pindah ke Desa Kranggan, Kecamatan Kranggan. Untuk sekolah, ia harus menyeberangi Sungai Progo.
Walau medan lebih mudah, ia tetap menghadapi banyak rintangan demi mendapatkan pendidikan.
Dari Kranggan, ia sempat pindah ke Jalan Pahlawan Temanggung, dan juga sempat sekolah di Magelang serta Semarang.
Awal Karier dan Cinta pada Dunia Anak-anak
Tahun 1950-an menjadi titik balik Titiek Puspa. Ia pindah ke Jakarta untuk mengejar cita-cita dan mengabdi di dunia seni.
Ia semapat mengambil pendidikan guru Taman Kanak-Kanak karena terinspirasi dari orang tuanya yang memiliki 12 anak.
Ia ingin menyayangi banyak anak meskipun hanya memiliki dua anak kandung.
“Saya selalu memohon kepada Tuhan agar punya dua anak saja, tetapi bisa tetap memiliki kasih sayang untuk banyak anak,” tuturnya.
Kariernya melesat setelah merilis piringan hitam pertamanya di bawah label Gembira, dengan lagu-lagu seperti Di Sudut Bibirmu dan Esok Malam Kau Kujelang. Ia juga berduet bersama Tuty Daulay dalam lagu Indada Siririton, diiringi musik Empat Sekawan Sariman.
Pada pertengahan tahun 1960-an, Titiek menjadi penyanyi tetap Orkes Studio Jakarta. Ia mendapat banyak bimbingan dari Iskandar, pemimpin orkes dan pencipta lagu, serta suaminya Zainal Ardi yang merupakan penyiar Radio Republik Indonesia.
Di puncak kesuksesannya, kedua orang tua Titiek meninggal dunia dan dimakamkan di Temanggung, begitu pula salah satu kakaknya. Hubungan batin Titiek Puspa dengan Temanggung tetap kuat dan tak tergantikan. Meski bukan tanah kelahirannya, Temanggung adalah tempat di mana ia ditempa, dibesarkan, dan menemukan arah hidupnya.
Titiek Puspa diketahui meninggal dunia pada Kamis, 10 April 2025 di Jakarta setelah menjalani perawatan akibat perdarahan otak di RS Medistra.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko