BALIKPAPAN - Kebun Raya Balikpapan (KRB) membuktikan komitmen kota ini dalam menjaga paru-paru Kalimantan. Sejak diresmikan pada 20 Agustus 2014, KRB telah bertransformasi dari kawasan hutan seluas 309 hektaremenjadi pusat konservasi dan penelitian terkemuka.
Pengembangan intensif selama bertahun-tahun kini membuahkan hasil, ditandai dengan diraihnya predikat Terbaik II dalam Pembangunan dan Pengelolaan Kebun Raya Daerah Se-Indonesia dari BRIN, serta keanggotaan Botanic Gardens Conservation International (BGCI).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan, Sudirman Djayaleksana menekankan peran vital KRB dalam pembangunan kota. “Selama 20 tahun, Kebun Raya Balikpapan telah berkembang menjadi laboratorium alam, pusat edukasi lingkungan, ruang rekreasi, sekaligus benteng ekologis kota,” jelas Dirman, sapaan karibnya.
Ia menegaskan bahwa kawasan ini memiliki fungsi vital dalam pengendalian iklim, penyediaan udara bersih, penyimpanan air, dan mitigasi bencana. Dirman juga menyoroti peran Kebun Raya dalam pengembangan ekowisata dan peningkatan ekonomi masyarakat sekitar, sekaligus mengajak generasi muda untuk terus mencintai lingkungan.
“Pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang menumbuhkan ekonomi tanpa melupakan pelestarian lingkungan,” katanya.
Kepala UPTD Kebun Raya Balikpapan (KRB), Lukman Riyadi, menegaskan, pengembangan KRB selalu berpijak pada fungsi esensialnya. "Pengakuan BRIN dan keanggotaan BGCI adalah cerminan dari standar pengelolaan yang telah kami capai, yang kini sejajar dengan kebun raya dunia," ujar Lukman.
"Tugas utama kami sejak awal adalah menjaga flora dan fauna endemik Kalimantan, yang koleksinya telah mencapai lebih dari 1.200 spesies tanaman, termasuk pohon-pohon ikonik seperti ulin dan meranti, serta tumbuhan langka seperti kantung semar dan aneka anggrek,” tambahnya.
Pengembangan KRB juga difokuskan pada inovasi, Orchidarium. "Kami bangga Orchidarium ini merupakan pengembangan fasilitas konservasi yang pertama di Kebun Raya Daerah se-Indonesia," jelas Lukman, menegaskan peran KRB sebagai lead dalam konservasi anggrek daerah.
Pengembangan ilmiah terhadap Jahe Balikpapan (Etlingera balikpapanensis) dilakukan intensif bersama UNAIR Surabaya, dan diperkuat dengan kerja sama hingga 2028 untuk kultur jaringan 1.000 Jahe Balikpapan dan hilirisasi produknya.
“Pengembangan KRB berdampak positif pada Pendapatan Asli Daerah (PAD). "Sampai November 2025, kami berhasil melampaui target retribusi hingga 150%, dengan realisasi Rp 450.000.000," ungkap Lukman.
KRB juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, termasuk Embung Wain, yang menunjang program Eduwisatadan Jelajah Kebun bagi pelajar, semakin memperkuat peran KRB sebagai pusat edukasi. Ke depan, KRB akan terus dikembangkan, termasuk rencana kolaborasi pembuatan spesies anggrek baru, Anggrek Balikpapan, pada periode 2026-2028. (aji)
Editor : Sukri Sikki