KALTIMPOST.ID, Dalam beberapa waktu terakhir, eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, menjadi perhatian luas masyarakat dunia. Meski terjadi jauh dari Indonesia, peristiwa tersebut dengan cepat hadir dalam ruang keseharian kita melalui televisi, portal berita, dan media sosial.
Tidak sedikit orang mulai membicarakan kemungkinan Perang Dunia III, bahkan ada yang mengaitkannya dengan tanda-tanda bahwa kiamat sudah dekat. Fenomena ini menunjukkan bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga memengaruhi ruang psikologis masyarakat yang jauh dari lokasi konflik.
Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat dipahami sebagai fenomena psikologi kolektif. Ketika sebuah peristiwa besar terjadi dan terus diberitakan, masyarakat dapat merasakan emosi secara bersama-sama, mulai dari rasa cemas, khawatir, hingga marah. Meskipun kita tidak mengalami perang secara langsung, paparan informasi yang terus-menerus membuat konflik tersebut terasa dekat secara emosional.
Tidak mengherankan jika kemudian muncul kecemasan kolektif. Sebagian orang khawatir konflik akan meluas dan memicu perang global. Sebagian lainnya merasa gelisah memikirkan dampaknya terhadap stabilitas dunia, ekonomi, maupun keamanan internasional.
Bahkan dalam percakapan sehari-hari, narasi tentang kemungkinan perang besar atau tanda-tanda akhir zaman kerap muncul sebagai bentuk penafsiran masyarakat terhadap situasi yang dianggap tidak menentu.
Secara psikologis, reaksi ini sebenarnya cukup wajar. Ketika manusia menghadapi informasi tentang ancaman besar, otak secara alami merespons dengan kewaspadaan.
Masalahnya, di era digital arus informasi bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan kita untuk memprosesnya secara rasional. Berita, potongan video, opini, hingga spekulasi beredar tanpa henti di layar ponsel. Dalam kondisi seperti ini, rasa takut sering kali menyebar lebih cepat daripada fakta.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai penyebaran emosi sosial, yaitu ketika kecemasan dapat menular dari satu orang ke orang lain melalui percakapan, komentar di media sosial, atau pemberitaan yang dramatis.
Akibatnya, diskusi publik tentang konflik global tidak jarang berubah menjadi perdebatan emosional. Ada yang menilainya dari sudut pandang politik, ada yang melihatnya dari perspektif agama, dan ada pula yang menekankan aspek kemanusiaan.
Di sisi lain, konflik global juga memunculkan empati dan simpati terhadap para korban. Banyak masyarakat merasakan kepedulian terhadap penderitaan warga sipil yang terdampak perang.
Dalam konteks Indonesia, sikap empati ini sering diperkuat oleh pernyataan atau sikap organisasi keagamaan dan lembaga publik. Organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, maupun Majelis Ulama Indonesia (MUI) kerap menyampaikan seruan kemanusiaan, doa, serta ajakan untuk menjaga perdamaian.
Baca Juga: Stok Senjata Menipis Usai Gempur Iran, Trump Kumpulkan Bos Raksasa Pertahanan AS ke Gedung Putih
Sikap-sikap tersebut dapat membantu membentuk cara masyarakat memandang konflik, sekaligus memengaruhi emosi kolektif yang berkembang di ruang publik.
Hal yang sama juga berlaku pada sikap pemerintah. Pernyataan resmi pemerintah mengenai konflik internasional sering menjadi rujukan penting bagi masyarakat dalam memahami situasi.
Ketika pemerintah menekankan diplomasi, perdamaian, dan perlindungan warga sipil, pesan tersebut dapat membantu meredam ketegangan emosional di tengah masyarakat. Sebaliknya, ketidakjelasan informasi justru dapat membuka ruang bagi spekulasi yang memperbesar kecemasan.
Karena itu, di tengah derasnya arus informasi global, masyarakat perlu mengembangkan literasi emosional. Literasi ini bukan hanya soal memahami informasi, tetapi juga kemampuan mengenali dan mengelola emosi yang muncul akibat paparan berita. Menyadari bahwa rasa cemas atau khawatir merupakan respons manusiawi dapat membantu kita bersikap lebih reflektif dan tidak mudah terbawa arus ketakutan atau provokasi.
Pada akhirnya, konflik global memang dapat mengguncang emosi publik, bahkan di negara yang jauh dari medan perang. Namun dengan pemahaman yang lebih baik tentang psikologi kolektif, disertai literasi emosional yang sehat, masyarakat dapat tetap menjaga empati terhadap korban perang tanpa larut dalam kecemasan yang berlebihan. Diskusi publik pun dapat berkembang menjadi ruang refleksi bersama, bukan sekadar pertukaran ketakutan.
*) Oleh: Dr. Evi Kurniasari Purwaningrum, M.Psi., Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda