BALIKPAPAN- Momen Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 digelar Pemerintah Kota Balikpapan di halaman Kantor Wali Kota, Sabtu (2/5).
Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud, memimpin langsung jalannya upacara yang diikuti ratusan peserta baik guru, pelajar mulai tingkat PAUD hingga SMA/SMK, serta sejumlah OPD di lingkungan pemerintah kota.
Yang menjadi spesial dalam perayaan Hardiknas tahun ini, Pemerintah Kota turut melibatkan siswa secara penuh sebagai petugas upacara. Mulai dari pembaca doa hingga pembacaan Undang-Undang Dasar 1945 dilakukan oleh pelajar, termasuk siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB).
Wali Kota Balikpapan dalam amanatnya membacakan pidato Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) yang menekankan pentingnya menjadikan peringatan ini sebagai momentum refleksi bagi dunia pendidikan.
Rahmad menegaskan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul, yang menjadi kunci kemajuan daerah, untuk itu sektor pendidikan dan kesehatan terus menjadi prioritas utama dalam arah pembangunan Kota Balikpapan.
Menurutnya, kualitas SDM yang baik hanya dapat dicapai jika seluruh masyarakat memiliki akses pendidikan yang merata, tanpa terkendala oleh faktor ekonomi maupun sosial. “Pemerataan akses pendidikan bukan hanya soal fasilitas fisik, tetapi juga menyangkut keadilan sosial. Untuk itu tidak boleh ada lagi sekat sosial di dunia pendidikan,” terang Rahmad.
Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk belajar, tanpa membedakan latar belakang keluarganya. “Kita ingin memastikan adanya keadilan dan pemerataan dalam bidang pendidikan bagi seluruh warga, tanpa membedakan anak pejabat atau bukan, kaya maupun miskin,” ucapnya.
Dirinya juga menyampaikan pentingnya menjadikan sekolah sebagai ruang yang aman, sehat, dan menyenangkan. Menurutnya, sekolah harus mampu menjadi “rumah kedua” bagi peserta didik sekaligus memperkuat keterkaitan sosial di tengah masyarakat.
Selain itu, penguatan literasi dan literasi digital juga menjadi perhatian penting di tengah perkembangan zaman. Kemampuan memahami informasi dan beradaptasi dengan teknologi dinilai sebagai bekal utama bagi generasi muda.
Wali Kota juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari dunia usaha hingga komunitas, untuk terlibat aktif dalam mendukung program pendidikan di Kota Balikpapan. “Kolaborasi semua pihak sangat penting agar pemerataan pendidikan benar-benar terwujud di seluruh wilayah kota,” katanya.
Dan sebagai bentuk memperkuat komitmen mewujudkan pendidikan yang objektif, transparan, akuntabel, berkeadilan dan tanpa diskriminasi, Pemerintah Kota bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di momen tersebut juga melakukan penandatanganan komitmen bersama mendukung pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) bebas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Kota juga meluncurkan sejumlah program inovatif di bidang pendidikan. Di antaranya peluncuran buku karya Bunda PAUD bertema “7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” berbasis kearifan lokal, pencanangan wajib belajar satu tahun pra-sekolah dasar atau Wajib Belajar 13 Tahun. Selanjutnya program Balikpapan Cinta Literasi” melalui sinergi dengan Bunda PAUD dan PKK dalam bentuk video literasi yang akan ditayangkan di ruang publik, hotel, hingga videotron. Hingga program “SAGU SAKU” (Satu Guru Satu Buku) untuk jenjang SD dan SMP.
Tak hanya itu, penghargaan juga diberikan kepada tenaga Pendidik dan Kependidikan (PTK) serta siswa berprestasi sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Rahmad menyampaikan apresiasi kepada para pelajar yang terlibat dalam upacara serta mengajak masyarakat mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang diinisiasi Presiden RI, Prabowo Subianto.
Adanya gerakan tersebut bertujuan menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata, melalui aksi rutin kebersihan dan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan.
Di tempat yang sama, Bunda PAUD Kota Balikpapan Nurlena Rahmad Mas’ud menegaskan bahwa penguatan PAUD menjadi kunci memutus mata rantai anak putus sekolah.
“PAUD bukan hanya soal baca tulis. Di sana anak belajar membangun karakter, perkembangan kognitif, bersosialisasi, dan beradaptasi dengan lingkungan. Ini menjadi bekal penting sebelum mereka masuk SD,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak orang tua yang lebih memilih memasukkan anak ke les membaca dibanding PAUD. Padahal, pendekatan pendidikan usia dini dinilai lebih menyeluruh dalam membentuk kesiapan anak.
“Dengan pencanangan wajib belajar satu tahun pra-sekolah dasar, kami berharap para orang tua dapat semakin peduli dan paham pentingnya program ini untuk mempersiapkan anak secara akademik hingga emosional,” pungkasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani