BALIKPAPAN – Upaya pemberdayaan masyarakat yang dijalankan Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sepinggan terus menunjukkan hasil positif. Melalui program pembinaan kelompok tani yang telah berjalan selama lima tahun, lahan yang sebelumnya kurang produktif kini mulai menghasilkan berbagai komoditas pangan dan menjadi sumber penghasilan bagi puluhan warga.
Komitmen tersebut kembali diperkuat melalui pelatihan pengelolaan lahan pertanian dan pembuatan pestisida nabati yang digelar bagi kelompok tani binaan di wilayah ring 1 AFT Sepinggan, Balikpapan, Selasa (23/6).
Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan berkelanjutan yang bertujuan meningkatkan kapasitas petani sekaligus menjaga produktivitas lahan.
“Kelompok tani di kawasan ini merupakan mitra binaan Pertamina yang telah kami dampingi selama kurang lebih lima tahun. Hari ini kami memberikan penguatan melalui pelatihan yang menghadirkan praktisi pertanian agar masyarakat memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola lahan,” kata Edi.
Selain pelatihan, Pertamina juga menyerahkan sejumlah bantuan sarana pertanian berupa alat semprot, perlengkapan pemupukan, serta bahan pendukung untuk memperbaiki kualitas tanah.
Menurut Edi, salah satu tantangan terbesar yang dihadapi petani di kawasan tersebut adalah kondisi tanah yang memiliki tingkat keasaman cukup tinggi. Saat program dimulai, pH tanah hanya berada di kisaran 3 sehingga kurang ideal untuk budidaya tanaman.
Namun melalui pendampingan, penggunaan bahan penetral tanah, dan penerapan teknik pengelolaan lahan yang tepat, kondisi tanah kini mengalami perbaikan signifikan.
“Alhamdulillah saat ini pH tanah sudah meningkat menjadi sekitar 6,5. Ini menunjukkan kualitas lahan semakin baik dan lebih siap untuk mendukung berbagai kegiatan budidaya pertanian,” ujarnya.
Dampak program tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Ketua Kelompok Tani Hidayah, Rahman, mengungkapkan kelompoknya telah menjadi mitra binaan Pertamina AFT Sepinggan selama hampir lima tahun.
Saat ini kelompok tani mengelola lahan seluas sekitar enam hektare dengan berbagai komoditas unggulan seperti cabai, jagung, singkong, dan ubi.
“Alhamdulillah kolaborasi dengan Pertamina berjalan sangat baik. Kami mendapatkan banyak bantuan, mulai dari embung, mulsa, bibit, hingga pelatihan seperti yang dilaksanakan hari ini,” katanya.
Rahman menjelaskan, komoditas cabai menjadi salah satu andalan kelompok tani. Dalam kondisi normal, panen dapat dilakukan hingga empat kali dalam sebulan. Hasil panen kemudian dipasarkan langsung ke pasar tanpa melalui tengkulak sehingga petani memperoleh keuntungan lebih besar.
“Kami menjual langsung ke pasar. Selisih harga dengan tengkulak bisa mencapai Rp5.000 sampai Rp10.000 per kilogram, sehingga lebih menguntungkan bagi petani,” ujarnya.
Untuk menghadapi cuaca panas dan musim kemarau yang kerap terjadi di Balikpapan, kelompok tani juga memanfaatkan embung yang telah dibangun melalui dukungan Pertamina. Embung tersebut berfungsi sebagai cadangan air sekaligus sarana pengolahan pupuk organik berbasis fermentasi.
Program pembinaan tersebut juga berhasil meningkatkan partisipasi masyarakat. Jika pada awal pembentukannya hanya diikuti sekitar 10 orang, kini jumlah anggota kelompok tani telah berkembang menjadi sekitar 30 hingga 35 orang.
“Dulu banyak anggota yang bekerja sebagai buruh harian lepas. Sekarang mulai beralih menjadi petani karena melihat sektor ini memiliki prospek yang baik,” tutur Rahman.
Manfaat serupa dirasakan kelompok Kampung KB Seraya Adhika. Ketua kelompok, Sadariah, mengaku pelatihan yang diberikan Pertamina membantu masyarakat memahami teknik pengelolaan lahan yang sebelumnya menjadi kendala utama.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina. Sebelumnya kami sudah pernah menanam, tetapi banyak yang gagal karena kondisi tanah dan cuaca yang panas. Setelah mendapatkan pelatihan, kami jadi tahu cara mengolah tanah dan membuat pestisida yang tepat,” ujarnya.
Kelompok tersebut kini mulai mengembangkan berbagai tanaman hortikultura dan tanaman obat keluarga (TOGA) seperti sawi, pakcoy, dan kangkung. Harapannya, kebun yang sempat tidak produktif dapat kembali berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Melalui program pembinaan yang berkelanjutan, Pertamina berharap tidak hanya mampu meningkatkan produktivitas pertanian warga sekitar wilayah operasional, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal di Kota Balikpapan. (*)
Editor : Ismet Rifani