BALIKPAPAN – PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan memperkuat dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional dengan membekali lima Kelompok Wanita Tani (KWT) di Kota Balikpapan pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC), kompos, dan pemanfaatan lubang biopori.
Kegiatan yang merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) itu digelar bekerja sama dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kota Balikpapan. Selain meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola pekarangan, program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan peluang ekonomi bagi keluarga.
Fuel Terminal Manager Pertamina Patra Niaga Kalimantan, Rudi Mahendra, mengatakan pelatihan tersebut menjadi bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional Integrated Terminal Balikpapan.
"Kami melihat wilayah sekitar terminal memiliki potensi yang bisa terus dikembangkan. Melalui pelatihan ini kami ingin membantu masyarakat, khususnya ibu-ibu Kelompok Wanita Tani, agar mampu memanfaatkan lahan yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga," ujarnya.
Tak hanya memberikan pelatihan, Pertamina juga menyerahkan bantuan peralatan pembuatan kompos dan sarana pendukung biopori agar peserta dapat langsung menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan masing-masing.
Menurut Rudi, pemanfaatan pekarangan rumah diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga menghasilkan nilai tambah ekonomi melalui penjualan hasil panen.
"Harapannya, ketika hasil panen berlebih dapat menjadi tambahan pendapatan keluarga. Kami juga akan terus melakukan pendampingan agar kelompok tani mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan," katanya.
Ketua Tim Penyuluhan Pertanian Kota Balikpapan dari Kementerian Pertanian, Roy Hatikorat Siombing, mengapresiasi keterlibatan dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan. Menurutnya, kontribusi masyarakat tidak harus diwujudkan melalui produksi beras, melainkan dapat dimulai dari pemenuhan kebutuhan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan.
"Kalau setiap rumah mampu memenuhi kebutuhan sayuran, cabai, tomat, atau tanaman pangan lainnya dari pekarangannya sendiri, itu sudah menjadi kontribusi nyata terhadap ketahanan pangan," jelasnya.
Ketua KWT Domsuk Ceria, Sanati, mengaku pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru bagi kelompoknya yang selama ini masih mengandalkan pupuk kimia dan pupuk kandang.
"Setelah mengikuti pelatihan ini kami ingin mulai beralih ke pupuk organik karena bahannya mudah didapat, murah, dan lebih ramah lingkungan," ujarnya.
Ia berharap pendampingan dari Pertamina terus berlanjut sehingga semakin banyak kelompok wanita tani yang mampu mengembangkan pertanian pekarangan secara mandiri dan berkelanjutan. (adv/aji/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan