DEMAM berdarah dengue (DBD) menjadi momok bagi Indonesia saat musim hujan. Sehingga dalam beberapa bulan terakhir angka DBD merangkak. Hingga minggu ke-12 tahun ini, sudah 350 orang meninggal karena DBD. Jumlah mereka yang terkena DBD sejauh ini ada 46.168 orang. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Kemenkes Imran Pambudi, Senin (1/4) menyatakan, salah satu dugaan kasus DBD tinggi di sebuah wilayah karena program pemberantasan sarang nyamuk (PSN) rendah. Program ini terdiri dari menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas (3M).
Menurut catatan, Bandung dan Subang menjadi daerah dengan jumlah kasus dan kematian karena DBD tinggi. “Wilayah yang kasusnya tinggi karena nyamuk aedes aegepty di sana banyak dan ada sumber penularannya sehingga lebih cepat menyebar,” ucap Imran. Kota Bandung menjadi salah satu wilayah yang menjadi pilot project wolbachia. Proyek ini diharapkan dapat mengendalikan perkembangan nyamuk aedes aegepty di wilayah tersebut. Namun, ternyata Kota Bandung menjadi daerah yang banyak terjadi DBD. Amran beralasan ini lantaran belum seluruh wilayah Bandung terlibat dalam proyek wolbachia. “Di Bandung baru satu kelurahan yang disebar dan baru bulan lalu disebar,” katanya.
Dengan sedikitnya wilayah yang menjadi pilot project dan durasi waktu yang belum lama membuat khasiat wolbachia belum terlihat efeknya. “Efek baru terlihat setelah minimal 60 persen nyamuk di suatu wilayah sudah ber-wolbachia,” ungkapnya. Ini terlihat di Jogjakarta yang sudah sepuluh tahun mengembangkan wolbachia.
Angka kasus DBD di wilayah ini rendah begitu juga angka keparahan karena penyakit ini. Sebelumnya, Imran mengungkapkan adanya vaksin DBD. Kampanye yang sedang digiatkan adalah #Ayo3MplusVaksinDBD. Selain mengajak untuk PSN, kampanye ini juga memberikan opsi preventif lain, yakni vaksinasi DBD. “Komitmen lainnya dalam pencegahan DBD adalah mendirikan koalisi bersama (KOBAR) lawan dengue yang digagas oleh Kaukus Kesehatan DPR RI dengan Kemenkes,” katanya. (lyn/jpg/riz)
Editor : Muhammad Rizki