KALTIMPOST.ID, Yahya Sinwar telah ditunjuk sebagai kepala baru biro politik Hamas, menggantikan Ismail Haniyeh yang tewas dalam serangan bom di Teheran.
Penunjukan ini diumumkan oleh Hamas dan disiarkan di saluran media pemerintah Iran yang pro-Hamas.
Sinwar, seorang militan garis keras, dikenal sebagai pemimpin militer Hamas dan diduga menjadi otak di balik serangan terhadap Israel pada 7 Oktober.
Sinwar adalah anggota pendiri Hamas dan pemimpin militer yang telah menghabiskan 23 tahun di penjara Israel sebelum dibebaskan dalam pertukaran tahanan pada 2011.
Sinwar dianggap sebagai tokoh yang sangat keras dan berkomitmen, menurut mantan interogator Israel.
Dengan pengangkatan Sinwar, Hamas kini dipimpin oleh seorang yang dikenal karena pendekatannya yang lebih keras terhadap Israel.
Sinwar diyakini mengendalikan sekitar 120 sandera Israel yang masih ditahan oleh Hamas.
Pengamat politik, Aaron David Miller, mengatakan, “Dengan memilih Sinwar, Hamas menghilangkan ilusi moderasi yang ada dan menunjukkan wajah sebenarnya.”
Sinwar dikenal menjalankan operasi dari terowongan bawah tanah di Gaza, memperkuat strategi pertahanan dan serangan militan tersebut.
Pembunuhan Haniyeh dan penunjukan Sinwar telah meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut.
Iran, yang mendukung Hamas, telah berjanji akan membalas serangan Israel. Juru bicara militer Israel, Laksamana Daniel Hagari, menyatakan, “Hanya ada satu tempat untuk Yahya Sinwar, dan itu di samping para teroris 7 Oktober lainnya.”
Di sisi lain, juru bicara Hamas, Osama Hamdan, mengatakan bahwa Sinwar akan melanjutkan negosiasi gencatan senjata, meskipun perundingan diperkirakan akan semakin sulit.
"Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengumumkan pemilihan Komandan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan Komandan Ismail Haniyeh yang telah wafat, semoga Allah merahmatinya," kata Hamas dalam pernyataan singkat, seperti dikutip Middle East Eye, Rabu, 7 Agustus 2024.
Pembunuhan Haniyeh terjadi selama pelantikan presiden baru Iran dan telah memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar.
Sinwar, yang sebelumnya menjalankan operasi militer dari Gaza, kini memegang kendali penuh atas Hamas, baik dari sisi militer maupun politik.
Pembunuhan para pemimpin Hamas oleh Israel, termasuk tokoh moderat, telah meningkatkan ketegangan antara Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dengan Biden menuduh Netanyahu merusak upaya untuk mencapai gencatan senjata.
Sinwar dikenal sulit berkomunikasi dengan dunia luar, menjadikan proses negosiasi semakin kompleks.
Seorang analis, Jeremy Diamond, menyatakan bahwa sikap keras Sinwar sering kali memperlambat proses negosiasi, dengan tanggapannya yang lambat mencapai pejabat Hamas di Qatar atau Kairo.
Dengan pengangkatan Sinwar, peluang untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata diperkirakan semakin kecil, dan ketegangan di wilayah Timur Tengah diperkirakan akan meningkat. (*)
Editor : Dwi Puspitarini