Rasa kesal disertai kecewa terhadap beberapa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Samarinda, atas dugaan adanya intimidasi dan bullying terhadap anaknya perlahan mulai terurai di forum tersebut.
Biru Hukum Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kaltim Sudirman menyebut, poin penting dari audiensi bersama senator yang baru dilantik itu, membahas seputar dampak lain dari polemik jual beli buku di sekolah.
Sebab, lanjut dia, sebagian siswa beserta wali murid diduga mendapat intimidasi dan bullying di tempat lingkungan sekolah anaknya.
“Persoalan ini berawal dari jual beli buku. Tapi kemudian bergeser adanya intimidasi dan bullying. Bahkan, sebagian oknum sekolah ada mengatakan edaran yang diterima dari pemerintah terkait hanyalah hoaks belaka,” ucapnya saat dikonfirmasi Kaltim Post, Jumat (20/9).
Dalam pertemuan tersebut, kepada aliansi Dewan mengatakan bahwa polemik tersebut tentu akan ditindaklanjuti dengan serius.
Meski diketahui saat ini struktural senator Samarinda belum terbentuk, namun karena masalah ini cukup penting, pihak wakil rakyat sepakat akan meninjau lebih dalam duduk permasalahan ini
“Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Wali Kota Samarinda beserta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samairnda telah mengeluarkan keputusan dan surat edaran, yang bunyinya melarang memperjualbelikan buku di sekolah. Namun surat tersebut nyatanya diabaikan oleh oknum sekolah,” timpal Sudirman.
Ditegaskan Sudirman, dalam waktu dekat bila DPRD Samarinda tidak menyambangi sekolah-sekolah yang telah dilaporkan, para wali murid akan melaksanakan demo di titik sekolah yang diduga kuat melakukan intimidasi.
“Ada salah satu sekolah di kawasan Sungai Kunjang. Di sana para wali murid ini akan melakukan aksi, jika DPRD Samarinda tidak meninjau sekolah yang dilaporkan. Namun jika diakomodir oleh dewan, maka wali murid akan menunda aksi tersebut,” ungkapnya.
Senada, Anggota DPRD Samarinda Joha Fajal menyebut, keluhan dari aliansi atas dugaan terdapat intimidasi dari oknum sekolah hampir terjadi se-Samarinda.
Penyebabnya tidak lain semenjal polemik praktik jual beli buku bergulir, bahkan ada yang mengaku anaknya dibullying karena tak mampu membeli sebuah buku.
“Kami sudah mendengarkan seluruh keluhan dari Aliansi Gabungan Mamak Marah. Mereka keberatan atas perlakukan intimidasi dan bullying terhadap anaknya dan wali murid, kalau dihitung-hitung hampir seluruh sekolah SD dan SMP,” kata dia.
Hasil rapat, bahwa pimpinan beserta anggota menyampaikan akan menindaklanjuti keluhan yang dikatakan para wali murid tersebut.
“Akan segera ditindaklanjuti walaupun Disdikbud dan Wali Kota sudah menyampaikan surat edaran terkait hal tersebut. Ada beragam keluhan, termasuk jika anak tidak bisa membeli buku, disarankan untuk pindah sekolah,” tukas Politikus NasDem itu. (*)
Editor : Almasrifah