Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Mereka yang Mengembangkan Komoditas Perkebunan di Kaltim: Rusni Febriyanti, Olah Limbah Kelapa Sejak 2016 dan Bidik Pasar Luar Negeri

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 5 Oktober 2024 | 11:10 WIB

SEMANGAT: Produknya menjadi dua, yakni cocopeat dan cocofiber. Semakin naik kelas dengan dijadikan kerajinan. (FOTO: IST)
SEMANGAT: Produknya menjadi dua, yakni cocopeat dan cocofiber. Semakin naik kelas dengan dijadikan kerajinan. (FOTO: IST)
KALTIMPOST.ID, Delapan tahun mengolah sabut kelapa. Apalagi ketika mampu memberi dampak ke sekitar. Rusni merasa itu adalah dunianya. Semakin serius, dia dirikan koperasi. Agar manfaatnya semakin terasa. Pemberdayaan masyarakat pun terus berjalan.

Setelah lama merantau, Rusni kembali ke kampung halamannya. Memang dasarnya tak bisa diam, dia tergerak untuk memanfaatkan limbah kelapa yang banyak berserakan di depan rumah warga. Dia yakin ada potensi lain yang dikembangkan dari sampah tersebut.

“Jadi sebelum 2016 itu saya lihat banyak sabut yang dibiarkan, bahkan dibakar. Tingginya bahkan sampai seatap rumah. Saya penasaran, saya tanya lah ke mereka. Ternyata memang dibiarkan, bahkan disuruh ambil daripada jadi sarang nyamuk dan ular,” lanjutnya.

Coba berselancar di internet, dia menemukan potensi rupiah dari limbah itu. Bahkan pasarnya banyak di luar negeri. Diolah menjadi cocopeat hingga cocofiber. “Jadi bahan baku untuk pembuatan jok mobil sampai pesawat. Karena memang dari segi kualitas bagus, enggak akan kempes 10-20 tahun akan datang. Permintaannya juga ternyata tinggi,” beber Rusni.

Kala itu masih sekitar 2014. Terjalinlah kerjasama dengan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI). “Mereka datang ke PPU. Saya ajak ke titik-titik yang ada sabut kelapanya karena memang banyak. Setelah itu, langsung diminta cari lahan untuk bangun pabrik,” lanjutnya.

Berdirilah pabrik di Desa Pejala, Penajam. Namun tak langsung operasional. Hingga datang investor asal Samarinda hingga awal 2016, barulah pabrik beroperasi. Kapasitasnya mampu 3 ton per hari. Memberdayakan masyarakat sekitar hampir 20 karyawan.

Sudah ada pasarnya di China. Sehingga produksi pun berdasarkan permintaan. “Jadi memang investor yang dari Samarinda ini yang mengatur. Kami hanya produksi saja. Berjalan bertahun-tahun seperti itu sampai 2023, karena memang sudah selesai masanya,” sebutnya.

NILAI RUPIAH: Batok kelapa yang dibiarkan menjadi sampah, disulap oleh Rusni hingga memiliki nilai ekonomi. Sejak 2016 hingga sekarang konsisten memanfaatkan limbah menjadi rupiah. (FOTO: IST)
NILAI RUPIAH: Batok kelapa yang dibiarkan menjadi sampah, disulap oleh Rusni hingga memiliki nilai ekonomi. Sejak 2016 hingga sekarang konsisten memanfaatkan limbah menjadi rupiah. (FOTO: IST)

Namun pada 2020, Rusni mendirikan Koperasi Kriya Inovasi Mandara (KIM). Selain untuk sosial ekonomi, juga mencari celah lain dari pemanfaatan limbah kelapa. Disulap menjadi aneka kerajinan. Dari awal berdiri hingga sekarang, tercatat lebih dari 300 orang anggota koperasinya.

Hasil kerajinannya mulai diikutsertakan pameran. Mencari branding dan memperkenalkan. Permintaan mulai berdatangan. Semangatnya juga ingin memberdayakan ibu-ibu sekitar.

“Jadi punya pabrik cocopeat dan cocofiber sendiri, tapi masih skala kecil. Untuk pasarnya ya mulai dari nol lagi. Soalnya yang sejak 2016 itu kan dari investor semua, jadi enggak perlu cari pasar. Per hari produksi maksimal 500 kg. Alhamdulillah ada jalan, dapat kontrak dari salah satu perusahaan di Paser untuk produksi 70 ton,” paparnya.

Nah, 2022 masuk dari Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) untuk pembinaan. Sebab dari awal, fokus Rusni juga terkait pemberdayaan masyarakat hingga pengelolaan limbah. Fokus itu juga yang jadi perhatian PHKT. Sedikitnya sudah ada 50 jenis kerajinan turunan dari cocofiber yang dikembangkan.

Potensi yang besar itu juga menjadikan KIM sebagai salah satu UKM unggulan Ibu Kota Nusantara. Otorita IKN menjaring UKM potensial, dari 400 yang tergabung, terpilihlah lima dengan KIM di antaranya.

Potensi pasar pun makin lebar. Termasuk ketika mengikuti Trade Expo Indonesia (TEI) tahun lalu. “Bertemu dengan atase perdagangan, ikut business konseling. Kalau untuk ekspor dari kapasitas masih belum. Tapi sampe sudah dikirim. Ini lagi proses untuk pemesanan alat, persiapan ekspor. Cocopeat yang tinggi permintaan, dari Tiongkok, Jepang sampai Kanada,” ungkap perempuan kelahiran 1975 itu.

Pada akhir September kemarin, juga berkesempatan hadir di ajang Malaysia International Halal Showcase (MIHAS). Hasilkan letter of intent (LoI) dengan nilai RM 40.526, “Ini nanti janjian ketemu di TEI 2024 untuk bahas lebih lanjut. Mereka tertarik dengan pupuk yang kami kembangkan dari cocopeat juga,” tutupnya.

Editor : Uways Alqadrie
#UMKM Kaltim #sabut kelapa