Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Pelantikan Prabowo-Gibran di Hari Libur, Ini Alasan Penting di Baliknya

Dwi Puspitarini • Sabtu, 19 Oktober 2024 | 14:12 WIB

 

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersama Panglima TNI Agus Subianto, memimpin peninjauan pasukan pada Apel Gelar Pengamanan VVIP di Monas, Jakarta, Jumat (18/10/2024).
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, bersama Panglima TNI Agus Subianto, memimpin peninjauan pasukan pada Apel Gelar Pengamanan VVIP di Monas, Jakarta, Jumat (18/10/2024).

 

KALTIMPOST.ID, Pelantikan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang jatuh pada Minggu, 20 Oktober 2024, telah mengundang pertanyaan banyak pihak.

Publik bertanya-tanya, mengapa tanggal penting ini tidak diatur pada hari kerja, seperti Senin, agar bisa memberikan hari libur bagi para pekerja?

Menurut Feri Amsari, Pakar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, pelantikan Presiden pada 20 Oktober bukan sekadar kebetulan.

"Tradisi ketatanegaraan Indonesia sudah menetapkan bahwa setiap pelantikan Presiden dilakukan pada tanggal 20 Oktober, tepat pada pukul 10.00 WIB," jelasnya dalam wawancara yang dikutip dari JawaPos.com (19/10/2024).

 Baca Juga: Basuki Hadimuljono Pamit, Tangis dan Isak Iringi Kepergiannya dari Kementerian PUPR

Pelantikan yang jatuh pada hari Minggu ini tentu menimbulkan harapan di kalangan masyarakat akan adanya hari libur tambahan.

Namun, Feri Amsari menjelaskan bahwa pelantikan di tanggal 20 Oktober adalah siklus lima tahunan yang penting untuk menjaga kontinuitas pemerintahan.

Tradisi ini, menurutnya, tidak hanya dihormati tetapi juga menjadi bagian dari sistem hukum di Indonesia.

"Tradisi ketatanegaraan adalah sumber hukum juga. Oleh karena itu, tanggal pelantikan tidak bisa diubah sesuka hati," tambah Feri Amsari.

Menurutnya, siklus lima tahunan ini memiliki peran penting dalam memastikan transisi pemerintahan yang stabil.

Walaupun jatuh pada hari libur, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden tetap harus mengikuti ketetapan ini.

Baca Juga: Deteksi Dini Penyakit Jantung Koroner di Cardiovascular Center Mayapada Hospital: Cegah sebelum Terlambat

Pelantikan pada 20 Oktober bukan hanya simbolis, tetapi juga menjaga kesinambungan konstitusi dan ketertiban hukum di Indonesia.

Menjaga konsistensi ini penting karena perubahan siklus pelantikan akan berdampak besar pada tradisi kenegaraan di masa depan.

"Jika siklus ini diubah, maka kita akan kehilangan keseragaman dalam proses pergantian kepemimpinan," jelas Feri.

Bagi banyak orang, pelantikan di hari libur menimbulkan kekecewaan. Mereka berharap bisa mendapatkan hari libur ekstra jika pelantikan digeser ke hari kerja.

Namun, Feri menegaskan bahwa pengorbanan satu hari libur adalah harga kecil untuk menjaga konsistensi tradisi tata negara Indonesia.

Sebagai penutup, pelantikan yang berlangsung pada hari Minggu ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga tradisi dalam sistem pemerintahan Indonesia.

Meskipun banyak yang berharap bisa mendapatkan hari libur tambahan, pelantikan ini memiliki nilai lebih besar dalam menjaga stabilitas dan kesinambungan pemerintahan.(*)

 

Dapatkan info dan berita update lain dari Kaltim Post. Gabung/join dengan klik >> Whatsapp Channel Kaltim Post

Editor : Dwi Puspitarini
#jakarta #tradisi #prabowo subianto #gibran rakabuming raka #hari libur #pelantikan