Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Saat Program Komik Pesut Mahakam PHM “Berenang” Jauh; Diganjar Kalparatu hingga Platinum Award di Vietnam

Ismet Rifani • Minggu, 27 Oktober 2024 | 08:00 WIB
REWARD TINGKAT DUNIA: Komik Pesut Mahakam meraih penghargaan internasional Great Practice Award 2023 pada ajang Global Corporate Sustainability Award 2023 di Taiwan.
REWARD TINGKAT DUNIA: Komik Pesut Mahakam meraih penghargaan internasional Great Practice Award 2023 pada ajang Global Corporate Sustainability Award 2023 di Taiwan.

Kejutan langsung tiba saat perahu sandar di salah satu dermaga kecil di pinggiran Sungai Pela. Boleh jadi, ini adalah “resep rahasia” mengapa desa ini menelurkan berbagai pengakuan dan penghargaan, bahkan dari dunia internasional.

ISMET RIFANI, Desa Pela

LIHATLAH pria itu. Dia muncul dari rumah kayu cantik berlantai ulin. Tubuhnya kecil, berusia 40-an tahun, kelimis, sekilas jenaka, dengan perut buncit terlihat jelas. Kalimat terakhir ini tak bisa ditawar. Sebab, ia menyambut saya tanpa baju. Sebenarnya baju kausnya dipegang di jemari kanan, dan difungsikan sebagai kipas.

“Panas sekali hari ini. Mungkin sore hujan,” katanya sambil mengipas-ngipaskan kaus ke dadanya. Ia menyodorkan tangan, menjabat erat, tersenyum tulus dan mengucapkan pelan namanya, “Alimin.”

Pria yang saya temui ini adalah ketua Kelompok Sadar Wisata Bekayuh Baumbai Bebudaya (Pokdarwis 3B) di Desa Pela. Badannya boleh kecil, tapi ia memiliki nama besar. Berkali-kali mendapat penghargaan sebagai pemuda penggerak pedesaan oleh sejumlah lembaga pemerintah, dari tingkat daerah hingga pemerintah pusat.

September tahun ini misalnya, ia baru saja dianugerahi Lencana Satya Desa Wisata dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Dari kementerian yang sama ia juga dinobatkan sebagai Juara I Pelopor Desa Wisata Inspiratif Lomba Desa Wisata Nusantara 2024.

Tiga bulan sebelumnya, ia membawa Desa Pela meraih penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Tanah Air saat mendapat Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Masih banyak deretan penghargaan yang diraih, baik untuk individu maupun desa.

Alimin, di media sosialnya ditulis Alimin Azarbaijan, nama ini direkomendasikan oleh Pertamina Hulu Mahakam (PHM) untuk media visit, saat saya mendatangi Desa Pela, tengah September lalu.

Ia lahir dan besar di Desa Pela. Dalam labirin asimilasi, warga di desa ini, satu dengan lainnya, hampir semua bertalian kerabat.

Berbeda dengan desa-desa lain di Kecamatan Kota Bangun yang umumnya beretnis Kutai, warga Desa Pela mayoritas dihuni etnis Banjar, suku terbesar di Kalimantan Selatan.

Mereka pendatang, sejak zaman penjajahan Belanda. Alimin menyebut, tetua-tetua mereka merantau hingga ke hulu Mahakam ini karena tak ingin diperbudak oleh penjajah asal Eropa itu.

Populasi penduduk tak terlalu banyak, sekitar 600-an jiwa. Kepala Keluarga kurang dari 200. Itu data yang disampaikan Alimin.

Jika ada warga di ujung timur desa bertengkar, tak perlu bermalam, apa yang dipertengkarkan akan didengar warga di ujung barat hari itu juga, lengkap dengan bumbu-bumbunya.

Semisal Nanang memukul istrinya karena sang istri menghabiskan terlalu banyak waktu di depan tivi terbuai drama Korea. Sang istri tak terima. Kesal, marah, ia minggat, pulang ke rumah orang tua di desa sebelah.

Anak gadis mereka stres. Mau terjun ke sungai. Nanang ikut-ikutan stres. TV segera dijual murah. Ia mau merantau ke luar daerah. Telanjur malu. Meski Nanang sudah minta maaf, istrinya dilarang balik oleh mertua. Gugatan cerai disiapkan. Lalu… Maaf, maaf, saya melantur.

Saya hanya ingin menegaskan, Alimin mengenal semua pemuda di desa ini. Tak ada yang terlewat. Begitu pengakuannya. Ia memperlakukan dan merangkul mereka semua seperti saudara sedarah.

Keakraban, gotong royong khas desa, kehangatan yang tulus, terekam nyata saat mereka berkumpul, dan mengajak saya menghabiskan malam tenang di pinggiran Sungai Pela, di atas teras ulin berukuran empat kali meja pingpong.

Ada pondok terbuka, juga dari ulin yang dilengkapi bola lampu bercahaya tak terlalu terang.

Di dekat pondok ada bangunan baru, toilet modern lengkap dengan wastafel. Di sebelah bangunan baru ini, areanya agak gelap. Kunang-kunang terlihat mengitari tanaman di polybag yang berjejer.

“Ini bantuan dari PHM. Juga itu dan itu,” kata Alimin kepada saya. Ia menunjuk pondok kayu terbuka tempat kami berkumpul, juga toilet modern, dan museum nelayan yang letaknya di sebelah timur dari tempat kami berkumpul.

Di depan museum nelayan ada tugu prasasti yang ditandatangani Sandiaga Salahudin Uno. Isinya menyatakan Desa Pela sebagai Desa Wisata Terbaik se-Indonesia pada ajang Anugerah Desa Wisata 2022. Menteri Pariwisata Ekonomi Kreatif masa Presiden Jokowi ini pernah datang ke Desa Pela pada 2022, melihat langsung keindahan desa ini.

Alimin dan empat pemuda setempat sedang mengamati video tentang Desa Pela, dan beragam atraksi wisata setempat dari sebuah laptop. Video itu direkam Handri, pemuda yang menjemput saya menggunakan perahu dari Desa Sangkuliman, desa sebelah yang harus dilewati saat saya menuju Desa Pela.

“Lagi diedit, mau di-posting di media sosial,” jelas Alimin. Editan video yang sama akan dikirimkan ke salah satu badan wisata internasional yang melombakan wisata berbasis alam.

Satu dari empat pemuda itu mengutak-atik smartphone, lalu terdengar sayup-sayup suara merdu pria mendendangkan Fly Me to the Moon. Aha, rupanya Frank Sinatra sampai juga ke sini. Oh ternyata bukan! Itu versi remake dari Michael Buble.

Lalu tanpa diminta Alimin bercerita kepada saya bagaimana Pokdarwis 3B tenar seperti sekarang. “Diskusi, ngobrol hingga tengah malam seperti sekarang, sering kami lakukan. Desa ini punya potensi. Ada pesut, ada danau. Tinggal warganya, mau apa tidak menggunakan potensi yang ada,” kata Alimin bercerita bagaimana awal-awal ia mengajak pemuda setempat bersama-sama bergerak mengeksploitasi potensi yang mereka miliki, sejak 2019.

Ia misalnya menggagas warga bersih-bersih mengumpulkan sampah di sekitar permukiman. Berton-ton sampah berhasil dikumpulkan. Gerakan itu rupanya bergaung dan Desa Pela perlahan mulai dilirik dunia luar.

Seiring dengan Perdes Nomor 2/2018 yang pro terhadap keberlangsungan hidup pesut, Pokdarwis dibantu Yayasan Konservasi RASI, yang juga concern terhadap kelestarian pesut di perairan Mahakam, aktif mengenalkan mamalia air tawar ini sebagai bagian dari wisata desa setempat.

Lalu, pucuk dicinta ulam pun tiba. Semangat mengampanyekan pesut mahakam dan Danau Semayang ke dunia luar rupanya sejalan dengan salah satu kebijakan Pertamina Hulu Mahakam (PHM). Anak perusahaan Pertamina Hulu Indonesia (PHI) ini juga fokus menjaga keanekaragaman hayati, khususnya pesut mahakam, satwa endemik Sungai Mahakam yang saat ini memiliki status konservasi terancam punah.

SELAMATKAN PESUT: Nelayan mengaitkan pinger akustik di jaring. Perangkat elektronik kecil inovasi ini mengeluarkan suara pulse (ultrasonic) agar pesut tidak mendekat ke jaring nelayan.
SELAMATKAN PESUT: Nelayan mengaitkan pinger akustik di jaring. Perangkat elektronik kecil inovasi ini mengeluarkan suara pulse (ultrasonic) agar pesut tidak mendekat ke jaring nelayan.

PHM, berkolaborasi dengan Pokdarwis 3B, RASI, juga stakeholders terkait lainnya mengusung program Konservasi Endemik (Komik) Pesut Mahakam. Berbasis lingkungan, disinergikan dengan pengembangan Desa Wisata Pela sehingga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang konservasi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di wilayah ini.

Program yang mendapat sambutan positif warga desa, dan tak butuh waktu terlalu lama untuk mendapat respons yang sama dari masyarakat luas. Baik di dalam maupun di luar negeri. Kerja keras memang tak membohongi hasil. Sejumlah apresiasi dan penghargaan kini diterima. Baik untuk Pokdarwis, para penggerak, Desa Pela, maupun PHM.

Kisah hebat Program Komik Pesut Mahakam “berenang” jauh, melintasi pulau dan samudera hingga ke negeri seberang.

Pengakuan tingkat internasional untuk PHM misalnya, diperoleh pada ajang The 15th Global CSR & ESG Summit & Awards 2023 yang digelar di Kota Da Nang, Vietnam. Tidak tanggung-tanggung, untuk Komik Pesut Mahakam, PHM meraih Platinum sebagai penghargaan tertinggi.

Pada ajang ini, bersama Komik Pesut Mahakam PHM juga mengusung program Waste to Energy for Community (Wasteco).

Program ini merupakan bagian dari inisiatif Desa Energi Berdikari Pertamina yang mendukung upaya transisi energi nasional melalui pemanfaatan sumber energi baru dan terbarukan dari gas metana yang dihasilkan oleh sampah domestik/organik di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Manggar, Balikpapan.

Upaya ini dikembangkan PHM bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan.

Pada tahun yang sama program Komik Pesut Mahakam meraih penghargaan internasional Great Practice Award 2023 pada ajang Global Corporate Sustainability Award 2023 di Taiwan. Ajang ini diselenggarakan Alliance for Sustainable Development Goals (A SDGs) dan Taiwan Institute for Sustainable Energy.

Atas raihan ini, PHM tentu saja boleh berbangga. Pendampingan yang perusahaan berikan telah memberikan dampak baik bagi masyarakat binaan untuk berkembang dan menjadi lebih baik.

Frans Alexander A Hukom, head of Communication Relations & CID PHM, menyatakan, seiring penghargaan tingkat internasional tersebut, tentu saja pengembangan dan inovasi serta evaluasi terhadap dampak program harus tetap dilakukan untuk mencapai program pemberdayaan dan konservasi pesut yang berkelanjutan.

Capaian yang telah berhasil diperoleh Pokdarwis Desa Pela, menurutnya, menjadi salah satu bukti bahwa program yang telah dilaksanakan oleh PHM ini tidak hanya memberikan manfaat bagi perusahaan, tapi juga bagi penerima manfaat yaitu Pokdarwis Desa Pela.

Dalam perbincangan malam hari di tepi sungai ditemani cahaya bulan sabit itu, Alimin menyatakan masih banyak yang harus mereka kerjakan agar ketenaran Desa Pela juga akan terus meningkatkan taraf kesejahteraan warganya. Curahan finansial, tenaga, waktu, dan pikiran belum akan selesai. “Mau bagaimana lagi. Sudah telanjur basah. Kata orang, biar tekor asal kesohor,” katanya sebelum tertawa lepas. (dwi)

 

 

 

Editor : Duito Susanto
#pesut mahakam #pertamina hulu mahakam #Desa Pela