Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Sebelum Peristiwa Penyerangan di Dusun Muara Kate, Oknum Pejabat Diduga Kondisikan Agar Truk Batu Bara Bisa Lewat

Dwi Restu Amrullah • Selasa, 19 November 2024 | 06:00 WIB
Ilustrasi penolakan hauling batu bara oleh masyarakat Dusun Muara Kate, Kabupaten Paser.
Ilustrasi penolakan hauling batu bara oleh masyarakat Dusun Muara Kate, Kabupaten Paser.

KALTIMPOST.ID, TANAH GROGOT– Latar belakang penyerangan yang menewaskan penjaga posko stop hauling batu bara di Dusun Muara Kate, Desa Muara Langon, Kecamatan Muara Komam pada Jumat (15/11/2024) terus berusaha dibuka.

Sejumlah informasi pun bermunculan di media sosial yang menyebutkan adanya dugaan keterlibatan oknum pejabat masyarakat di Kecamatan Muara Komam.

Sebuah video berdurasi 1 menit menyebar di media sosial, memperlihatkan pertemuan beberapa orang di sebuah warung makan sebelum peristiwa terjadi. Dalam video tersebut, terlihat perangkat pemerintahan setempat, termasuk lurah dan kepala desa.

Oknum kepala desa dan lurah itu diduga ikut memfasilitasi truk batu bara melintas di jalan nasional yang berada di bawah kendali kementerian.

Dugaan ini diperkuat oleh video pendek yang diunggah di Facebook oleh akun @Bryan Paser melalui reels, dan dibagikan oleh Info Seputar Batu Sopang.

Dalam video tersebut, seorang pria mengenakan kemeja hijau yang diduga adalah perangkat desa di Muara Langon, terlihat berbicara dengan sejumlah orang. Dari penelusuran, kepala desa tersebut adalah Agus Karianto.

Dalam video itu, Agus terdengar menyampaikan bahwa larangan hauling datang dari pihak luar.

"Pernyataan tidak boleh hauling itu karena ada pihak luar yang datang. Jadi kalau untuk warga Desa Langon masih kondusif," ucap pria yang diduga kuat adalah Agus.

Dia pun meminta pihak yang akan hauling untuk bersabar. "Jadi yang ada di kesepakatan supaya bisa duduk bareng di sana. Di sana tidak minta nominal, tapi minta komitmen jam keberangkatan PS (dump truk bermuatan batu bara)," lanjutnya.

Sumber yang dapat dipercaya dan tak ingin identitasnya disebutkan membenarkan bahwa pertemuan di warung kopi pinggir jalan tersebut turut dihadiri oleh Lurah Muara Komam, Muksin.

"Pertemuan itu terjadi sebelum kejadian penyerangan," tutur sumber tersebut.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh pihak perusahaan dan ormas yang hendak melakukan demo tandingan.

"Setelah pertemuan itu, lurah dan kades menemui warga sekitar TKP dan meminta supaya hauling bisa berjalan lagi," jelasnya.

Sebelum penyerangan terjadi, kades dan lurah sempat mendatangi warga untuk meminta agar hauling bisa kembali berjalan.

"Sekitar Senin atau Selasa lalu mereka datang ke warga, meminta agar hauling bisa dilakukan. Warga bingung karena yang mengeluarkan larangan hauling adalah pj bupati," ucapnya.

Terkait video yang tersebar, Camat Muara Komam, Mustafa, mengatakan bahwa pihaknya masih akan menelusuri kebenarannya.

"Yang jelas, kecamatan saat ini berupaya menenangkan warga di sini (Muara Komam) supaya tidak ada konflik yang meluas atau isu SARA, apalagi menjelang pilkada. Kami bersama aparat penegak hukum berusaha untuk secepatnya menguak pelaku tersebut," tutur Mustafa melalui sambungan telepon WhatsApp, Senin (18/11).

Mustafa juga menyatakan bahwa pihaknya akan mengadakan rapat untuk sosialisasi ke masyarakat. "Kami akan menyampaikan bahwa kejadian itu murni kriminal, tidak ada kaitannya dengan SARA," tandasnya.

Senada dengan camat, Kapolres Paser AKBP Novy Adi Nathaniel menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan pendalaman terkait video tersebut.

"Kami belum bisa pastikan kebenarannya. Setiap informasi yang didapat kami dalami," pungkasnya. Terkait perkembangan kasus tersebut, perwira menengah Polri tersebut menegaskan bahwa jajarannya sudah memeriksa 11 saksi.

"Sementara anggota semua masih di lapangan," kuncinya.(*)

 

Editor : Thomas Dwi Priyandoko
#paser #Truk hauling MCM #Muara Kate #batu bara