Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lansia Rentan Depresi, Tapi Jarang Disadari: Apa yang Salah?

Nasya Rahaya • Minggu, 22 Desember 2024 | 06:58 WIB

 

Ilustrasi
Ilustrasi

  

KALTIMPOST.ID, Depresi bukan hanya masalah bagi orang masih pada usia produktif.

Bagi lansia, gangguan ini seringkali muncul sebagai kondisi yang tidak dapat dihindari, namun seringkali diabaikan. Jika dibiarkan bisa membahayakan.

Pada usia yang semakin senja, seseorang rentan terhadap berbagai perubahan fisik dan psikologis yang memengaruhi kualitas hidupnya.

Tidak jarang, perasaan kesepian, keterbatasan fisik dan perubahan peran sosial memicu depresi yang berkepanjangan.

Di Indonesia, prevalensi depresi untuk seluruh usia sebesar 1,4 persen menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan RI.

Berdasarkan karakteristik kelompok umur, prevalensi depresi paling tinggi ada pada kelompok 15-24 tahun, yaitu sebesar 2 persen, kemudian diikuti kelompok lansia 1,9 persen.

Sementara kelompok usia 35-44 tahun memiliki prevalensi depresi paling sedikit.

“Lansia ini jadi kelompok usia paling banyak kedua yang mengidap depresi. Jadi untuk lansia sebenarnya sangat rentan untuk terjadi depresi. Penting bagi keluarga dan lingkungan sosial untuk lebih peka terhadap perubahan emosional lansia, karena banyak dari mereka yang enggan mengungkapkan perasaan,” sebut Psikolog Klinis RSUD Abdoel Wahab Sjahranie, Wahyu Nhira Utami.

Lansia rentan depresi. Depresi pada lansia bisa dipicu oleh berbagai faktor.

“Lansia sangat rentan terhadap banyak masalah, baik dari sisi fisik, psikologis, maupun sosial. Biasanya, faktor-faktor seperti gangguan kesehatan, perasaan kesepian dan merasa terisolasi bisa sangat mempengaruhi kondisi mental mereka,” ujarnya.

Baca Juga: Prestasi Anak Bukan Ambisi Orang Tua

Nhira mengatakan, gangguan kesehatan yang sering dialami lansia seperti penyakit kronis, penurunan mobilitas atau bahkan kehilangan pasangan hidup bisa memicu perasaan tidak berdaya dan kesedihan yang mendalam.

“Ketika seseorang mengalami penurunan fungsi tubuh yang signifikan, itu bisa sangat mengurangi rasa percaya diri dan membuat mereka merasa tidak berguna,” katanya.

Selain itu, semakin bertambahnya usia sering kali berarti semakin sedikitnya interaksi sosial, karena teman-teman seusianya sudah mulai meninggal atau sakit, yang juga memperburuk kondisi mental para lansia.

Gejala tanda depresi pada lansia bisa sangat berbeda dengan yang dialami oleh orang yang lebih muda.

Nhira menjelaskan lansia yang mengalami depresi sering menunjukkan tanda-tanda yang biasa namun menetap, seperti perasaan sedih yang berlarut-larut, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya mereka nikmati dan keengganan untuk berinteraksi sosial.

“Emosi mereka lebih mudah terganggu, mudah marah dan cenderung lebih sensitif. Mereka juga cenderung tidak tertarik pada kegiatan yang sebelumnya sangat mereka nikmati,” jelas Nhira.

Selain itu, terdapat juga perubahan perilaku motorik seperti pergerakan dan bicara yang lebih lambat, serta gangguan tidur dan nafsu makan.

Dalam banyak kasus, lansia yang mengalami depresi juga merasa tidak berharga dan sering memikirkan kematian atau bahkan bunuh diri.

Untuk itu depresi bisa diindentifikasi dengan diagnosis yang tepat, seperti DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders), diagnose menggunakan pedoman ini dinilai cukup akurat.

Penyebab depresi pada lansia tidak hanya terkait dengan faktor psikologis, tetapi juga biologis dan sosial.

“Depresi merupakan gangguan yang terjadi akibat perubahan dalam tubuh dan otak yang memengaruhi cara seseorang berpikir dan merasakan,” jelasnya.

Beberapa faktor yang bisa menyebabkan depresi pada lansia antara lain gangguan hormon, penurunan fungsi tubuh, atau masalah dengan kesehatan mental yang sudah ada sebelumnya.

Di sisi psikologis, banyak lansia yang merasa kesepian dan terisolasi. Mereka merasa tidak berguna dan di lingkungan sekitar atau keluarga mereka.

“Perasaan ini sering muncul terutama ketika mereka tidak lagi memiliki pasangan hidup atau teman dekat yang semakin memperburuk perasaan mereka,” paparnya.

Selain itu, banyak lansia juga merasa tujuan hidup mereka mulai memudar, yang sering kali memicu perasaan depresif.

Lansia yang memiliki riwayat gangguan mental sebelumnya memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami depresi.

“Mereka memiliki kerentanan lebih besar karena sudah terbiasa dengan masalah psikologis, sehingga ketika kondisi fisik mereka memburuk, itu bisa memicu atau memperburuk depresi,” katanya.

Oleh karena itu, sangat penting untuk keluarga memberi perhatian khusus pada lansia dengan riwayat gangguan mental sebelumnya.

Kemudian, depresi yang tidak ditangani dengan baik dapat memiliki dampak jangka panjang yang merugikan kualitas hidup lansia.

“Lansia yang mengalami depresi sering kali merasa terisolasi dan tidak berdaya. Mereka tidak dapat menikmati hidup dan merasa marah atau menyesal terhadap masa lalu mereka,” sebutnya.

Dampak terburuk dari depresi pada lansia adalah kecenderungan untuk mengakhiri hidup.

“Ini adalah sesuatu yang sangat menyedihkan. Ketika seseorang merasa tidak ada lagi harapan dalam hidupnya, maka keinginan untuk mengakhiri hidup sering muncul. Inilah yang perlu kita cegah,” tambahnya.

Dalam penanganannya, Nhira sangat merekomendasikan terapi kognitif-behavioral (CBT) sebagai salah satu metode yang terbukti efektif.

“Pada kondisi tertentu depresi ini perlu ditangani dengan obat-obatan, penanganannya akan baik ketika CBT berjalan beriringan dengan medikofarmasi atau farmakoterapi. Jadi, itu akan baik sekali hasilnya kalau treatment-nya berbarengan,” terangnya.

Merawat lansia yang mengalami depresi bukanlah tugas yang mudah. “Seringkali, lansia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya. Mereka merasa bahwa itu adalah bagian dari usia tua atau bahkan takut dianggap lemah jika mengakui masalah psikologis,” imbuhnya.

Baca Juga: Ibarat Bom Waktu, Sakit Kepala Bisa Jadi Tanda Bahaya: Kenali Aneurisma Otak, Ancaman Tanpa Gejala

Untuk itu, peran keluarga sangat penting dalam mendukung lansia agar mau mencari bantuan profesional.

Keluarga sering kali dihadapi dengan persoalan yang tentang motivasi lansia untuk menjalani terapi dan pengobatan.

“Berbicara tentang konsisten. Pemulihan tidak bisa instan. Ada fase naik turun dan kadang-kadang keluarga pun merasa frustasi melihat proses pemulihan yang lambat,” katanya.

Selain itu, lansia yang mengalami depresi juga seringkali enggan untuk rutin mengonsumsi obat-obatan atau mengikuti jadwal konsultasi.

Ini membutuhkan kesabaran dan ketekunan dari keluarga, untuk mendampingi mereka tanpa membuatnya merasa tertekan.

Ada beberapa saran untuk menjaga kesehatan mental lansia. “Pertama, lansia perlu tetap aktif secara fisik, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan menjaga pola tidur yang baik. Interaksi sosial dengan keluarga terdekat dapat terjaga dengan baik,” katanya.

Lansia yang merasa terhubung dengan lingkungan sosial dan memiliki aktivitas yang memberikan makna akan lebih kecil kemungkinannya untuk depresi.

Dia juga menyarankan agar lansia melakukan skrining kesehatan mental secara berkala.

“Sebaiknya melakukan pemeriksaan secara rutin, lansia akan lebih peka terhadap kondisi emosionalnya dan lebih terbuka untuk mencari bantuan profesional jika merasa tidak nyaman atau kehilangan seseorang yang mereka sayangi. Agar tetap bisa menikmati masa senja dengan kualitas hidup yang lebih baik,” pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#Depresi lansia #penyebab #gejala #kesehatan mental