Berdasarkan data Stasiun Geofisika (Stageof) Kelas III Balikpapan, gempa bumi tersebut terjadi pada pukul 01.12 Wita. Gempa bumi ini diduga dihasilkan oleh aktivitas subduksi atau proses geologi yang terjadi ketika dua atau lebih lempeng tektonik bertumbukan, dan salah satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya. Subduksi ini terjadi pada utara Sulawesi. Tepatnya di pinggiran barat subduksi utara Sulawesi.
“Gempa ini tidak dirasakan karena kekuatannya kecil. Hanya tercatat oleh seismograf yang tersebar di sekitar Semenanjung Mangkalihat,” kata Kepala Stageof Kelas III Balikpapan Rasmid kepada Kaltim Post, Rabu (1/1).
Pria yang sempat menjabat Kepala Seksi Data dan Informasi (Datin) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung ini juga menjelaskan sepanjang tahun 2024, gempa bumi memang paling banyak terjadi di Semenjung Mangkalihat, Berau. Gempa bumi ini, kata Rasmid disebabkan oleh aktivitas sesar Mangkalihat yang aktif. “Karena pergeseran kulit bumi kang, karena aktivitas tektonik, terutama gaya dorong dari blok Sulawesi,” pungkasnya.
Untuk diketahui, gempa bumi dengan kekuatan besar sebelumnya juga sempat melanda Kabupaten Berau pada 15 September 2024, pukul 20.08 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, episenter gempa bumi berada di darat, 145 km tenggara Kabupaten Berau. Dengan kekuatan gempa 5,6 magnitudo di kedalaman hiposenter 10 kilometer di bawah permukaan bumi.
Gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas IV MMI (Modified Mercalli Intensity), membuat orang terbangun, piring dan gelas dapat pecah, jendela dan pintu berbunyi, dinding berderit karena pecah-pecah. Kacau seakan-akan truk besar melanggar rumah, kendaraan yang sedang berhenti bergerak dengan jelas, yang terjadi di Karangan (Kutim) dan Maratua (Berau).
Lalu intensitas III skala MMI berupa getaran dirasakan nyata di rumah tingkat atas dan getaran seakan ada truk lewat dirasakan di Berau dan Kutim.
Selain itu, intensitas II MMI, berupa getaran gempa yang dirasakan oleh beberapa orang, terutama yang tinggal di rumah bertingkat, dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang di Kukar, Berau, Kutim, Samarinda, Bontang di Kaltim.
Ada juga dirasakan di Bulungan, Malinau, Tarakan di Kaltara, serta Donggala dan Tolitoli di Sulteng. Gempa bumi ini sertai dengan beberapa gempa bumi susulan secara beruntun.
Akibat gaya atau dorongan atau tekanan atau stress secara terus menerus terjadi pada Sesar Mangkalihat. Dan hasil analisis berdasarkan mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme sesar geser atau strike slip. Namun gempa susulan tidak dirasakan masyarakat, hanya tercatat saja pada seismograf.
Editor : Uways Alqadrie