Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tanam 80 Ribu Mangrove untuk Redam Abrasi, Kawasan Pesisir Pulau Tanjung Tanah Terancam Hilang

Nasya Rahaya • Minggu, 19 Januari 2025 | 09:36 WIB
ANTISIPASI: Pulau Tanjung Tanah Desa Babulu Laut ditanami mangrove agar tak terjadi abrasi lanjutan sampai ke daratan. (FOTO: IST)
ANTISIPASI: Pulau Tanjung Tanah Desa Babulu Laut ditanami mangrove agar tak terjadi abrasi lanjutan sampai ke daratan. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sejak tahun lalu, Pulau Tanjung Tanah yang terletak di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kaltim, jadi salah satu titik fokus upaya rehabilitasi ekosistem mangrove. 

Pulau ini memiliki peran strategis sebagai pelindung kawasan permukiman Babulu Laut dari ancaman abrasi pesisir yang saban hari semakin parah. 

Program rehabilitasi ini bertujuan menyelamatkan ekosistem mangrove yang sudah terdegradasi akibat konversi lahan menjadi tambak dan dampak gelombang laut yang kuat. Desa Babulu Laut merupakan salah satu wilayah yang terletak di kawasan pesisir, dengan sejarah panjang tentang pergeseran penggunaan lahan dari waktu ke waktu.

Dimulai pada 1974, masyarakat setempat mengubah hutan rawa menjadi kebun kelapa dan tambak. Namun, pada 2000-an, akibat intrusi air laut yang merusak lahan, kebun kelapa tidak lagi bisa bertahan. Terus berlangsung hingga dua dekade, tepatnya pada 2020, konversi lahan semakin masif, menggantikan sawah dengan tanaman sawit dan memperluas area tambak.

Pulau Tanjung Tanah, yang berada di bagian terdepan dan menghadap langsung ke Selat Makassar, mendera akibat abrasi. Berdasarkan pengamatan masyarakat, abrasi yang terjadi dapat menggerus pesisir hingga 5 hingga 10 meter setiap tahunnya. Kondisi ini memperburuk keberlanjutan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada hasil tambak dan sumber daya alam lainnya.

Kondisi ini membuat Pokja Pesisir bekerja sama dengan Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI) melakukan intervensi dengan melakukan rehabilitasi mangrove di pesisir Pulau Tanjung Tanah. “Tanjung Tanah memiliki peran penting sebagai benteng pelindung bagi permukiman warga di Babulu Laut. Program ini bertujuan memitigasi ancaman abrasi yang kian parah dan mengembalikan ekosistem mangrove yang rusak,” ujar Mappaselle, Direktur Pokja Pesisir. 

Di bawah terik matahari, di atas ketinting, pria yang karib di sapa Selle itu menceritakan program yang digagasnya sembari memperlihatkan kepada Kaltim Post, pagar pelindung mangrove yang mereka buat.

Pada awalnya, sebuah survei dilakukan pada Desember 2023 oleh tim Pokja Pesisir, kemudian survei lanjutan dilakukan YPUI pada Januari 2024. Dari hasil survei ini, diketahui bahwa Pulau Tanjung Tanah mengalami abrasi yang cukup tinggi, hingga 1.000 meter dan terancam semakin hilang jika tidak ada tindakan rehabilitasi.

“Kami khawatir, jika dibiarkan kawasan pesisir ini bisa hilang dan warga akan terancam kehilangan sumber pendapatan serta tempat tinggal mereka,” sebutnya.

Menjelang akhir 2024, kegiatan rehabilitasi mangrove dimulai dengan penanaman 80 ribu pohon mangrove di sepanjang pesisir Pulau Tanjung Tanah. Jenis mangrove yang ditanam di antaranya adalah Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Avicennia sp, Bruguiera sp, dan Ceriops tagal. 

Rehabilitasi melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam kegiatan persemaian dan penanaman bibit. Melibatkan lebih dari 60 orang, sebagian besar adalah anggota keluarga dari Desa Babulu Laut, program ini juga memberikan manfaat ekonomi langsung kepada masyarakat.

Selain penanaman mangrove, untuk meminimalkan angka kematian tanaman mangrove akibat gelombang laut yang cukup besar, Pokja Pesisir juga membangun pagar kayu peredam gelombang. 

Pagar ini memiliki panjang 70 meter dan dibangun dengan beberapa lapis, yang berfungsi melindungi tanaman mangrove dari tekanan gelombang laut yang tinggi. Bahan yang digunakan adalah kayu galam dan kayu ulin yang dikenal memiliki ketahanan terhadap korosi dan mampu menahan tekanan gelombang.

SEMANGAT: Direktur Pokja Pesisir Mappaselle menjadi yang terdepan dalam program menjaga mangrove di Babulu Laut. (FOTO: IST)
SEMANGAT: Direktur Pokja Pesisir Mappaselle menjadi yang terdepan dalam program menjaga mangrove di Babulu Laut. (FOTO: IST)

Pagar yang dipasang dengan desain zig-zag juga berfungsi mengurangi dampak gelombang laut yang kuat, terutama pada musim gelombang selatan dan timur laut. Setiap lapisan dapat mereduksi kekuatan gelombang yang datang, sehingga tanaman mangrove bisa lebih terlindungi. 

Demi memastikan keberhasilan program rehabilitasi mangrove, Pokja Pesisir juga memberikan pelatihan kepada masyarakat setempat. Pada Juni 2024, sebuah pelatihan reforestasi diberikan kepada 27 orang warga Babulu Laut, termasuk teknik pemilihan bibit yang baik, cara persemaian, serta teknik penanaman dan perawatan mangrove. 

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengelola mangrove dan memastikan keberhasilan rehabilitasi,” tambahnya.

Selain mengurangi ancaman abrasi, rehabilitasi mangrove di Pulau Tanjung Tanah juga memberikan dampak positif bagi ekosistem sekitar. Mangrove yang ditanam akan membantu meningkatkan kualitas air, memperbaiki habitat ikan, serta menjadi tempat berlindung bagi berbagai spesies biota laut. 

Program ini juga mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir dalam jangka panjang dengan menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi baru melalui budidaya mangrove, perikanan, dan ekowisata.

Editor : Uways Alqadrie
#Kabupaten ppu #Kecamatan Babulu #bekantan #hutan mangrove