di Swedia tewas tertembak.
Kejadian berlangsung pada Rabu malam (30/1) pukul 23.11 waktu setempat di apartemennya saat ia tengah melakukan siaran langsung di media sosial TikTok.
Dari laporan media setempat, saat live, Momika terlihat berbicara dengan pengikutnya sebelum tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Beberapa saat kemudian, siaran live terputus dan polisi datang ke lokasi mengakhiri siaran langsung tersebut.
Pihak berwenang langsung melakukan penyelidikan dan mengamankan lokasi tersebut.
Dalam perkembangan selanjutnya, polisi telah menahan lima orang terkait kasus ini, tapi belum mengidentifikasi identitas korban dan rincian cedera yang dialami.
Investigasi terus berlangsung saat pihak berwenang memeriksa kemungkinan motif di balik penembakan ini.
Momika pertama kali menarik perhatian dunia usai membakar dan menginjak-injak Al-Qur’an di depan masjid terbesar di Stockholm pada 2023 dan 2024 lalu.
Ia berdalih bahwa aksinya bukan untuk menyerang muslim secara individu, melainkan sebagai bentuk penolakan terhadap ajaran Islam yang menurutnya berbahaya bagi masyarakat Swedia.
Tindakannya memicu gelombang kecaman internasional serta unjuk rasa di berbagai negara muslim, seperti Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, yang mengecam Swedia karena mengizinkan aksi tersebut dengan dalih kebebasan berbicara.
Akibatnya ketegangan diplomatik meningkat dan beberapa negara menyerukan boikot terhadap produk Swedia.
Pemerintah Swedia menghadapi tekanan besar dari dalam dan luar negeri, terutama karena meningkatnya risiko serangan terror terkait insiden tersebut.
Keamanan nasional Swedia juga diperketat, termasuk pengamanan di kedutaan besar mereka di luar negeri.
Pada 2023 Momika didakwa atas tuduhan penghasutan terhadap kelompok etnis atau nasional dan menghadapi proses hukum.
Sosok Salwan Momika
Salwan Momika berasal dari Qaraqosh, Distrik Al Hamdaniya, Irak Utara. Lahir pada 23 Juni 1986 dalam keluarga Katolik Assyrian.
Semasa perang saudara Irak pada 2006-2008, ia bergabung dengan partai patriotic Assyrian dan bekerja sebagai penjaga keamanan di kantor partai di Mosul.
Kala ISIS merebut Mosul 2014, ia bergabung dengan Pasukan Mobilisasi Populer (PMF). Dalam rekaman video ia muncul mengenakan pakaian militer dan menyatakan kesetiaannya pada Brigade Imam Ali, sayap militer Gerakan Islam Irak.
Di 2017 ia pindah ke Jerman pakai visa Schengen dan secara terbuka meninggalkan agamanya dan menyatakan dirinya seorang Ateis.
Setahun setelahnya ia pindah ke Swedia dan diberikan status pengungsi. Permohonannya untuk mendapatkan izin tinggal permanen ditolak karena memberikan informasi tidak akurat terkait keterlibatannya dengan Brigade Imam Ali.
Editor : Hernawati