Begitu pula harga buyback (harga yang digunakan ketika menjual emas kembali) berada di posisi Rp 1.472.000 per gram atau turun Rp 3.000.
Harga emas Antam hari ini mengalami penurunan bersamaan dengan harga emas global yang turun mengalami depresiasi pada 08:51 WIB sebesar 0,62% di angka US$ 2.783,58 per troy ons.
Kendati sedikit mengalami penurunan, namun harga emas dunia masih bertengger di level yang cukup tinggi pasca Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya menerapkan kenaikan tarif impor yang telah lama direncanakannya atas barang-barang dari Kanada, Meksiko, dan China. Tarif tersebut diharapkan mulai berlaku pada Selasa, 4 Februari 2025.
Sebelumnya, pada Sabtu (01/02/2025), Trump menandatangani perintah yang mengenakan tarif sebesar 25% atas impor dari Meksiko dan Kanada, serta bea masuk sebesar 10% atas produk China.
Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk pada Jumat (31/1/2025) di butik emas LM Graha Dipta Pulo Gadung tercatat di Rp 1.620.000, melesat Rp 14.000 per gram. Harga Tersebut merupakan tertinggi sepanjang masa.
Begitu juga dengan harga buyback (harga yang digunakan ketika menjual emas kembali) berada di posisi Rp1.471.000 per gram, melonjak Rp15.000 per gram.
Harga emas Antam mengukir harga tertinggi sepanjang masa didorong oleh penguatan harga emas global yang juga mencapai harga rekor tertinggi.
Berdasarkan data Refinitiv harga emas di pasar spot pada perdagangan Kamis (30/1/2025) tercatat di US$2.793,88 per troy ons atau melesat 1,31% dari posisi sebelumnya. Ini merupakan harga tertinggi sepanjang masa.
Sementara itu, indeks dolar melemah 0,2%, membuat emas lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Kemudian imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun turun ke level terendah dalam lebih dari sebulan.
"Emas bersinar sebagai aset safe-haven, dengan investor mencari perlindungan di tengah ketidakpastian pasar," ujar Susannah Streeter, kepala divisi uang dan pasar di Hargreaves Lansdown.
The Fed mempertahankan suku bunga pada hari Rabu sesuai ekspektasi, dengan Ketua Jerome Powell menyatakan bahwa tidak akan ada urgensi untuk kembali menurunkannya dalam waktu dekat.
Editor : Uways Alqadrie