Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Waspada Alumni Covid-19: Kerusakan Paru-Paru Bisa Permanen, Pemulihan Tergantung Usia dan Kondisi Kesehatan

Nasya Rahaya • Minggu, 23 Februari 2025 | 07:45 WIB

dr. Yanti Evi Ariani, Spesialis Paru-Paru RSUD AW Sjahranie.
dr. Yanti Evi Ariani, Spesialis Paru-Paru RSUD AW Sjahranie.
KALTIMPOST.ID, Meski pandemi Covid-19 telah mereda, dampaknya pada kesehatan paru-paru tidak dapat diabaikan, terutama bagi pasien yang pernah mengalami gejala berat dan kritis.

Dokter spesialis paru-paru di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdoel Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, dr Yanti Evi Ariani Gultom mengatakan, ada hal yang perlu diperhatikan oleh "alumni Covid-19" untuk memastikan kesehatan paru-paru mereka tetap terjaga.

Dia menjelaskan bahwa pasien yang mengalami Covid-19 berat atau kritis umumnya mengalami kelainan pada paru-paru, yang dapat terlihat jelas melalui pemeriksaan rontgen. Namun, waktu pemulihan dan tingkat kerusakan tergantung pada usia dan kondisi kesehatan pasien.

“Pasien muda tanpa komorbid biasanya bisa pulih lebih cepat. Sebaliknya, pasien berusia lanjut dengan komorbid -penyakit lain yang terjadi bersamaan dengan penyakit utama- seperti diabetes, asma, CKD (Chronic Kidney Disease), dan penyakit jantung bisa memerlukan waktu lebih lama untuk pulih, bahkan hingga 12 bulan,” ungkap dr Yanti.

Dia menambahkan bahwa bagi pasien berusia 65 tahun ke atas dengan kondisi paru-paru yang terpengaruh pasca-Covid, kerusakan pada paru-paru bisa bersifat permanen jika tidak ada pemulihan dalam waktu satu tahun.

“Kondisi paru-paru yang rusak akibat Covid bisa memperburuk gejala saat terinfeksi bakteri atau virus lain, seperti batuk berat atau batuk darah, terutama jika pasien memiliki riwayat merokok atau obesitas,” jelasnya.

Selain itu, dia juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat dalam mempercepat pemulihan. Meskipun ada pasien yang memiliki kerusakan paru-paru pasca-Covid, mereka tetap dapat mempertahankan fungsi paru yang baik dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti rutin berolahraga dan menjaga pola makan yang seimbang.

“Jika seseorang memiliki komorbid, namun berhasil mengontrol kondisi tersebut dengan baik, misalnya dengan mengatur pola makan dan rutin berolahraga, maka imunitas tubuh tetap dapat bekerja dengan baik dan pemulihan paru-paru bisa berjalan lebih optimal,” lanjutnya.

Baginya, penting untuk masyarakat mengenali diri sendiri termasuk kondisi tubuh. Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu atau mudah jatuh sakit, seperti asma atau diabetes yang tidak terkontrol, disarankan untuk terus menjaga imunitas tubuh, berolahraga secara teratur, dan menghindari kebiasaan merokok serta konsumsi alkohol berlebih.

“Jika seseorang memiliki risiko tinggi, seperti perokok atau obesitas, meski rontgennya normal, kondisi tubuhnya bisa sangat rentan terhadap infeksi,” tambahnya.

Sebagai tambahan, dia juga menyarankan penggunaan masker di tempat keramaian untuk melindungi diri dari potensi penularan penyakit, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi paru-paru yang lebih rentan.

“Polusi udara dan kerumunan orang menjadi faktor risiko tambahan bagi mereka yang paru-parunya sudah terganggu, terutama di tempat-tempat yang penuh orang seperti market,” katanya.

Pola hidup yang sehat adalah kunci utama dalam mencegah komplikasi lanjutan pasca-Covid pun di sisi lain menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

“Kami selalu mengingatkan pasien bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menentukan pemulihan. Semua faktor, mulai dari pola makan, olahraga, istirahat yang cukup, hingga pengelolaan stres, akan memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan,” tutupnya. (ndu)

Editor : Almasrifah
#Abdoel Wahab Sjahranie #aws #covid #Komorbid #paru-paru