Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dampak limbah PT PHSS, Nelayan Kerang Dara di Muara Badak Merana: 3.871 Ton Gagal Panen, Kerugian Mencapai Puluhan Miliar

Edwin Agustyan • Rabu, 26 Februari 2025 | 06:00 WIB
MENJERIT: Kolam penampungan limbah yang dijebol hingga membuat air limbah mengalir ke pesisir yang lokasinya berdampingan. (FOTO: IST)
MENJERIT: Kolam penampungan limbah yang dijebol hingga membuat air limbah mengalir ke pesisir yang lokasinya berdampingan. (FOTO: IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Di bawah sengatan matahari Abdul Samad berdiri di tengah lumpur. Air matanya mengalir deras, dia histeris melihat kerang dara miliknya mati. 

Diduga kuat kematian kerang dara tersebut gara-gara limbah lokasi kolam penampungan limbah bekas pengeboran minyak PT Pertamina Hulu Sanga Sanga, Muara Badak, Kutai Kartanegara. Terlihat dari hasil pengecekan langsung nelayan pada 28 Desember 2024.

Kemudian, pria 66 tahun itu berjongkok mengambil beberapa kerang dara dari lumpur. Isak tangis semakin keras keluar dari mulutnya bersamaan dengan tatapan pilu pada kondisi ribuan kerang dara yang terhampar di keramba miliknya.

"Bayangkan dari delapan keramba tak ada satu pun yang selamat. Semua mati tidak ada yang tersisa," katanya saat ditemui, Ahad, 16 Februari 2025.

Dengan penuh keengganan, ia mengabarkan hal ini kepada sang istri. Tangisan histeris sang istri membuat Abdul Samad kembali menangis. Detik itu juga, Abdul Samad merasa dunianya runtuh.

Bukan tanpa alasan, kerang dara milik Abdul Samad yang mati merupakan kerang dara yang sudah siap panen. Alhasil, kerugian besar membayanginya. "Saya habis Rp 70 juta hanya untuk beli bibitnya. Belum biaya operasional lainnya," ungkapnya.

Abdul Samad mengisahkan, 2024 kemarin merupakan tahun keduanya terjun sebagai pembudidaya kerang dara. Di tahun pertamanya sebagai pembudidaya, Abdul Samad menebar 10 ton bibit kerang dara.

Saat panen ia mampu meraup keuntungan bersih sebesar Rp200 juta lebih. Angka itu di luar biaya operasional, gaji pekerja harian, pembelian peralatan dan lain sebagainya. "Kalau masuk musim panen, setiap hari bisa dapat Rp 10 juta," terangnya.

Selain digunakan untuk membeli kapal kecil, keuntungan yang diperoleh Abdul Samad dari panen di musim pertama digunakan kembali untuk membeli bibit. Ia mengaku, harga bibit bervariasi. Mulai dari Rp 7.000 sampai Rp 9.000 per kilogram.

"Bahkan saya kemarin belinya Rp 10.000. Itu sudah yang saya tebar, ada 7 ton. Tapi, pas musim panen malah mati," katanya sembari mengisap dalam rokok di sela-sela jarinya.

Sebelum menjadi seorang pembudidaya kerang dara, Abdul Samad merupakan seorang nelayan jaring. Namun, ia memutuskan untuk beralih profesi setelah melihat kesuksesan tetangganya sebagai pembudidaya kerang dara.

Dari 1 ton bibit kerang dara yang ditebar, pembudidaya bisa memanen hingga 7 ton. Harga jual kerang dara per kilogramnya pun mencapai dua kali lipat dari harga bibit. Untuk size pertama, harga jual kerang dara bisa menyentuh angka Rp 18.000 per kilogram. Sementara size kedua, dibanderol Rp 14.000-16.000 per kilogram.

"Size ketiga bisa dijual Rp 8.000. Tapi, kadang dikembalikan lagi ke keramba, tunggu besar baru dipanen lagi," jelasnya.

Tak hanya Abdul Samad, duka juga menyelimuti Hemma. Pria 53 tahun itu harus menerima kenyataan jika 9,6 ton bibit kerang dara yang ditebarnya di musim ini mati mendadak.

Matinya kerang dara yang sudah memasuki masa panen itu diketahuinya pada pertengahan Desember 2024 lalu.

Hemma kalut bukan main, lantaran modal pembelian bibit kerang dara itu merupakan hasil pinjaman bank. "Harga bibit Rp9.000 per kilonya. Saya tebar 9,6 ton jadi total untuk beli bibit saja sekitar Rp 86 jutaan," katanya parau.

Hemma mengaku, sebelum ribuan kerang dara di lima kerambanya mati, ia sempat melakukan panen dan memperoleh keuntungan sebesar Rp 8 juta. Kerang dara yang dipanennya itu dijual ke pengepul untuk kemudian di ekspor ke Thailand.

Akan tetapi, tak lama berselang Hemma memperoleh informasi jika kerang dara yang di ekspor ke Thailand dibuang begitu saja. Lantaran kondisi kerang dara dinilai sudah tidak layak oleh pembeli. Padahal, menurut Hemma, selama ini ekspor kerang dara selalu berjalan lancar.

Bahkan kerang dara asal Muara Badak disebut oleh pembeli dari Thailand sebagai kerang dara terbaik. “Kami dikirimkan videonya dari Thailand. Kerang dara kami dibuang di pinggir jalan sama pembeli,” ungkapnya.

Dikatakan Hemma, video yang dikirimkan oleh pembeli dari Thailand itu sontak membuat seluruh pembudidaya kerang dara di Muara Badak berbondong-bondong mengecek kondisi keramba mereka. Hasilnya, nyaris seluruh kerang dara mati. 

“Sementara kerang dara yang hidup coba dimakan sendiri sama teman-teman, tapi setelah itu diare. Coba dijual juga tidak ada yang mau beli karena jelek, bau busuk,” paparnya.

Berbeda dengan Abdul Samad, 2024 merupakan tahun ketiga bagi Hemma sebagai pembudidaya kerang dara. Pada musim pertama dan kedua dirinya mampu meraup keuntungan besar. Di musim kedua saja, Hemma berhasil memperoleh keuntungan hingga Rp300 juta lebih dari hasil menebar 9,6 ton bibit kerang dara.

Berbekal pengalaman itu, Hemma kembali menebar 9,6 ton bibit kerang dara di musim ketiga atau pada 2024 lalu. Harapannya bisa meraup pundi-pundi dengan nominal yang sama seperti musim sebelumnya. Sayang, harapan yang sejak awal dibangun Hemma harus pupus tepat di depan mata.

Sementara itu, Riswan Jamil, juga nelayan kerang dara, kondisi yang tidak biasa ini membuat para pembudidaya gusar.

Baca Juga: Jalan Mentewekng Kutai Barat Makin Rusak, Bahkan Ada yang Jatuh, PUPR Kubar Pun Menyedot Genangan Air

Mereka pun beramai-ramai mencari penyebab kematian massal kerang dara. Hingga akhirnya berujung pada dugaan pencemaran lingkungan, yaitu limbah dari aktivitas pengeboran RIG GWDC di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS).

Dugaan ini diperkuat dengan bukti jebolnya tanggul penampungan limbah milik PHSS yang mengarah langsung ke laut. Menyadari kondisi itu, warga pun memutuskan untuk mengambil sampel lumpur di keramba untuk kemudian diuji di laboratorium.

Saat nelayan mengambil sampel, mereka mengalami gatal-gatal. Padahal, selama ini para pembudidaya tidak pernah diserang gatal-gatal hebat. “Semua yang turun menggaruk (badan). Padahal saat itu air konda (pasang),” jelasnya.

Lokasi budi daya kerang dara yang mengalami mati massal terhampar sepanjang Pantai Tanjung hingga Pantai Salo Sembala, dengan radius sekitar 2 mil dari garis pantai.

Nelayan meyakini bahwa mati massal yang membuat mereka gagal panen disebabkan oleh limbah PT PHSS. Untuk menguatkan keyakinan itu, mereka juga melakukan uji lab.

Serangkaian aksi demonstrasi mereka lakukan di depan Pintu 1 PT PHSS. Selama delapan hari mereka menginap di akses masuk dan keluar perusahaan.

Puncaknya pada 12 Februari yang berujung pada diamankannya 10 orang massa aksi. Nelayan menuntut agar PT PHSS memberikan ganti rugi. Termasuk juga membersihkan tambak dari sisa limbah. “Ada 299 nelayan yang gagal panen,” kata koordinator aksi, Yusuf.

Yusuf menyebut bahwa total terdapat 3.871 ton kerang dara yang gagal panen. Dengan estimasi kerugian mencapai Rp 50 miliar.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Muara Badak #PT PHSS #PT Pertamina Hulu Indonesia