KALTIMPOST.ID, Tak semua yang tampak memukau dari atas panggung punya cerita bahagia di baliknya.
Vivi, salah satu mantan pemain sirkus di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua, akhirnya buka suara tentang trauma lama yang menghantuinya hingga kini.
“Saya kabur karena sering disiksa, disuruh latihan tengah malam, dipukulin,” kata Vivi lirih dalam tayangan YouTube Forum Keadilan TV, Kamis (17/4/2025).
Usianya saat itu baru belasan tahun. Vivi nekat berlari menyusuri hutan demi bisa bebas.
Baca Juga: Upacara Kesadaran Nasional, 16 Personel Polresta Balikpapan Raih Penghargaan
Namun, kebebasan itu tak berlangsung lama. Setelah tiga hari bersembunyi di rumah seorang kenalan di Cisarua, ia dipaksa kembali ke lingkungan sirkus oleh petugas keamanan TSI.
“Saya dijanjikan nggak bakal dipukuli lagi. Tapi nyatanya lebih parah,” ujar Vivi. Di dalam mobil, bos sirkus bernama Frans langsung memukulnya. Vivi gemetar ketakutan.
Penderitaannya tak berhenti di situ. Sesampainya di rumah, ia diseret ke kantor, dipukul, bahkan mengalami penyiksaan brutal.
“Dia ambil alat setrum, terus badan saya disetrum sampai ke alat vagina saya. Dia marah, maki-maki saya. Saya nggak boleh teriak, kalau bersuara malah disiksa lebih parah,” ceritanya, dengan suara gemetar.
Baca Juga: Dua Kelas di SD Patra Dharma I Balikpapan Hangus Terbakar, Polisi Himpun Keterangan Saksi
Vivi bukan satu-satunya korban. Sejumlah eks pemain sirkus OCI (Oriental Circus Indonesia) lainnya juga mengungkap kisah kelam yang dialami selama bekerja di bawah naungan sirkus tersebut. Mereka mengaku dipaksa bekerja saat hamil, dirantai, diberi makan tak layak, bahkan ada yang jatuh dari ketinggian 13 meter saat pertunjukan dan tak langsung dibawa ke rumah sakit.
Pengakuan mengejutkan ini membuat Kementerian HAM turun tangan. Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, menyebut bahwa pihaknya akan memanggil manajemen Taman Safari untuk klarifikasi.
Baca Juga: ESI Kaltim Kirim Dua Atlet di Kejuaraan Internasional, Tidak Gentar Hadapi Pemain Top Tier
“TSI wajib menjunjung prinsip Bisnis dan HAM. Kami akan dengarkan kedua belah pihak,” ujar Mugiyanto, Kamis (17/4/2025).
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, menegaskan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti di meja klarifikasi. “Kejahatan itu tidak boleh dibiarkan. Jangan ada eksploitasi dan kekerasan terhadap pekerja, apalagi anak di bawah umur,” katanya tegas.
Pihak Taman Safari Indonesia sendiri membantah keterlibatan dalam dugaan pelanggaran HAM ini.
Melalui Tony Sumampau, pendiri TSI, mereka menyebut bahwa tudingan tersebut tidak ada kaitannya dengan institusi mereka.
Baca Juga: KRUS Sengaja Dirusak Penambang, Perambahan Hutan Ternyata Sudah Terjadi Sejak Puasa Ramadan
“Ini tidak ada kaitan dengan Taman Safari kok dibawa-bawa. Sirkusnya pun sudah lepas dari kami,” ujar Tony. ***
Editor : Dwi Puspitarini