KALTIMPOST.ID, BONTANG - Polemik yang dihadapi oleh Universitas Trunajaya kian pelik. Wacana Pemkot Bontang untuk melakukan akuisisi pun batal. Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni membenarkan situasi tersebut.
“Agak repot kalau Pemkot Bontang mengakuisisi Universitas Trunajaya. Karena yang ada saja yakni Stitek itu dikelola oleh yayasan,” kata Neni.
Namun demikian pihaknya masih berupaya untuk mencari jalan keluar. Utamanya bagi nasib mahasiswa yang ada di civitas akademika tersebut. Salah satunya yakni berkoordinasi dengan LLDikti.
“Kami akan fasilitasi. Harapannya Unijaya ini tidak ditutup,” ucapnya.
Nantinya ia mengusulkan agar mahasiswa Unijaya ketika masuk ujian bisa bergabung dengan Universitas Muhamadiyah Kalimantan Timur (UMKT) atau Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Samarinda. Terpenting mahasiswa tersebut terdaftar.
“Kalau tidak, masak ujug-ujug lulus,” tutur dia.
Sejatinya Unijaya diberi waktu oleh LLDikti untuk menyelesaikan rekomendasi administrasi kurun 2x3 bulan. Namun dalam durasi yang diberikan tidak selesai. Berdasarkan informasi dari Inspektorat dan Asisten I Sekkot Bontang ketika bertandang ke LLDikti.
“Saya sudah menugaskan mereka ternyata hukumannya terlalu berat juga jika tidak menyelesaikan admnistrasi,” terangnya.
Sebelumnya pada awal Maret lalu Neni ingin mengakuisisi Unijaya. Hal itu disampiakan pasca Rapat Paripurna ke-11 Masa Sidang II DPRD.
“Saat ini Universitas Trunajaya dibekukan oleh Kemendikti Saintek karena ada beberapa masalah gaji dosen,” terangnya.
Bahkan pihak kampus sudah menawarkan untuk diambil alih oleh Pemkot Bontang. Apalagi Neni-AH memiliki program terkait dengan penggratisan uang kuliah tetap (UKT) bagi mahasiswa Kota Taman yang berkuliah di Bontang.
Bahkan pihak kampus menawarkan sebesar Rp10 miliar untuk proses akuisisi. Neni memandang nominal ini tidaklah mahal. Saat itu penawaran dilakukan kepada Neni secara pribadi. Tetapi orang nomor satu di Bontang ini berpendapat akan lebih bagus jika diakuisisi oleh pemkot. (*)
Editor : Duito Susanto