KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pemeriksaan menyeluruh kondisi Jembatan Mahakam I berlangsung hingga Kamis Dini Hari, 1 Mei 2025.
Tiga metode pengujian ditempuh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kaltim untuk mencari tahu masih amankan jembatan, pasca dua kali diseruduk ponton dalam tiga bulan terakhir.
Pemeriksaan itu meliputi, uji beban dinamis. BBPJN mencari tahu seperti apa respons jembatan atas beban berulang yang diberikan. Kemudian memeriksa apakah ada pergeseran atau perubahan bentuk dalam struktur jembatan lewat pengujian geometrik.
Dan terakhir, uji kecepatan pulsa ultrasonik (Ultrasonic Pulse Velocity Test) dalam mengukur kekuatan beton pada pilar keempat jembatan yang ditabrak ponton pada 26 April lalu.
Kepala Bidang Pembangunan Jalan dan Jembatan I BBPJN Kaltim, David E Pasaribu, menerangkan pengujian memang sempat terhenti lantaran batas waktu penutupan arus kendaraan di atas jembatan berakhir Pukul 17.00 WITA.
“Yang malam ini untuk menghimpun data perbandingan saja,” katanya selepas investigasi menyeluruh kondisi jembatan.
Metode pemeriksaan masih sama. Yang berbeda hanya soal berat beban dalam pengujian beban dinamis. “Di siang kami pakai beban 8 ton. Di malam gunakan 12 ton,” imbuhnya.
Data dari sejumlah pengujian pada Rabu Sore, 30 April 2025, kondisi jembatan masih sama dengan data yang dihimpun saat investigasi menyeluruh awal Maret 2025. Kata David, jembatan masih aman dilintasi untuk kendaraan ringan seperti roda dua dan empat.
Kendaraan dengan tonase besar jelas tak disarankan melintas di atas jembatan yang berdiri sejak 1986 itu. “Disarankan dialihkan ke jalur lain,” tuturnya. Rekam data hasil pengujian akan dibahas dalam rapat teknis pada 2 Mei dan kepastian kondisi jembatan diumumkan pada 5 Mei mendatang.
“Hasil pemeriksaan yang sudah terkumpul dirapatkan dulu baru Jumat (2/5) nanti. Setelah itu baru diumumkan pada 5 Mei,” terangnya mengakhiri.
Diketahui, 2025 baru berjalan empat bulan, Jembatan Mahakam I sudah ditabrak dua kali oleh ponton yang melintas di bawahnya. Peristiwa pertama terjadi pada 16 Februari 2025, ketika ponton bermuatan kayu tersangkut di pilar ketiga jembatan. Insiden itu membuat fender atau pelindung pilar yang ada hancur.
Perusahaan pemilik kapal, PT Pelayaran Mitra Tujuh Samudra, disebut siap mengganti rugi dengan membangun ulang fender yang hancur tersebut dengan estimasi biaya Rp 35 miliar. fender sudah harus terbangun Desember 2025 ini.
Insiden kedua terjadi pada 26 April 2025, tongkang bermuatan batubara menyeruduk pilar keempat jembatan. Kapal baja dengan nama lambung BG Azamara 35 itu larut karena putus tali saat ditarik tugboat Liberty 7.
Editor : Uways Alqadrie