Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Covid-19 Merebak Kembali di China? Mahasiswi Indonesia Asal PPU Beri Kesaksian Langsung dari Shanxi

Ari Arief • Rabu, 21 Mei 2025 | 15:43 WIB
BANTAH: Aaliyah Adawiyah, mahasiswi asal Penajam, PPU saat mengisi Libur Nasional Tiongkok dengan mengunjungi Tembok Besar China.
BANTAH: Aaliyah Adawiyah, mahasiswi asal Penajam, PPU saat mengisi Libur Nasional Tiongkok dengan mengunjungi Tembok Besar China.

KALTIMPOST.ID, Kabar mengenai merebaknya kembali kasus Covid-19 di China atau Tiongkok yang ramai diberitakan media massa nasional dan lokal di Indonesia belakangan ini, dibantah keras oleh seorang mahasiswi Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di sana.

Aaliyah Adawiyah, mahasiswi kedokteran asal Penajam Paser Utara (PPU) yang saat ini berada di Shanxi Medical University, China, menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar.

“Ah, itu berita tidak benar," tegas Aaliyah Adawiyah, yang akrab disapa Yayang, saat dihubungi Kaltim Post, Rabu (21/5).

Mahasiswi yang kini memasuki tahun keenam perkuliahannya itu menyampaikan bahwa banyak pemberitaan mengenai China yang seringkali tidak memiliki dasar validitas, termasuk mengenai isu merebaknya kembali Covid-19.

Yayang menekankan bahwa suasana di tempat-tempat publik di Tiongkok saat ini tampak tenang dan tidak ada indikasi keresahan publik seperti yang terjadi pada awal kemunculan virus sekitar Maret 2020 lalu.

Kala itu, ia bahkan terpaksa dipulangkan ke Indonesia oleh pihak universitasnya.

“Sekarang ini saya lihat publik di Tiongkok tampak tetap tenang. Kegiatan publik tidak terganggu,” ujarnya.

Aaliyah juga menambahkan, teman-teman kuliahnya, terutama yang berasal dari Taiwan, turut membantah adanya kejadian Covid-19 yang merebak lagi.

Mereka bahkan menduga hal itu sebagai bagian konspirasi tertentu untuk tujuan tertentu pula.

Sementara itu, kesaksian langsung dari warga negara Indonesia yang berada di lokasi diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai situasi terkini di Taiwan, sekaligus meredakan kekhawatiran yang mungkin timbul akibat informasi yang perlu terverifikasi lebih lanjut.

Seperti dilansir media ini, wabah Covid-19 kembali biki Hong Kong, China dilanda kepanikan.

Dalam empat pekan terakhir, berdasarkan laporan South China Morning Post sudah 30 orang meninggal dunia.

Pusat Proteksi Kesehatan Hong Kong menyatakan pada Kamis (15/5) angka kasus positif Covid-19 naik 13,7 persen dari 6,2 persen selama empat pekan sejak awal April.

Data itu diambil sampel dari tes yang diambil secara proporsional. Peningkatan tersebut merupakan yang tertinggi selama setahun terakhir, dikutip dari SCMP.

Sampel positif Covid-19 dari hasil tes saluran pembuangan dan para pasien di klinik juga menunjukkan angka.

“Dengan referensi dari data masa lalu, kami menyebarkan penyebaran Covid akan tetap pada tingkat tertinggi setidaknya dalam beberapa pekan ke depan,” kata pengontrol Pusat Proteksi Kesehatan Hong Kong, Edwin Tsui Lok-kin, dikutip dari SCMP.

Kasus 30 orang meninggal dari 81 pasien dengan kasus berat akibat Covid-19 di Hong Kong tercatat dalam empat pekan.

Angka kematian itu termasuk pasien 65 tahun atau lebih tua, dengan 90 persen merupakan pasien komorbid.

Sementara itu, hanya satu orang yang meninggal di dunia akibat Covid-19 yang telah menerima vaksin booster dalam empat bulan terakhir.

“Berdasarkan perkiraan dari pusat, antara pasien lansia berusia 65 tahun atau lebih tua, 75 persen dari mereka (yang meninggal) tinggal di panti asuhan dan 90 persen di perumahan belum menerima vaksin booster. Saya kembali mengimbau kepada warga yang berisiko tinggi (baik lansia maupun mereka yang memiliki penyakit kronis) untuk mendapatkan vaksin sedini mungkin,” kata Tsui.

Profesor pediatri Universitas Hong Kong dan Ketua Komite Sains untuk Pencegahan Penyakit oleh Vaksin, Lau Yu Lung, dampak bagi individu dan masyarakat tidak separah 2023 dan 2024 meskipun angka kasus Covid-19 menunjukkan peningkatan yang tinggi.

“Sistem pemantauan saluran pembuangan untuk pekan ke-18 menunjukkan hampir 700 ribu (sampel) salinan salinan gen per liter. Melihat ke belakang pada Maret 2024 saat puncak kenaikan kasus sekitar 400 ribu (sampel salinan gen).  Data tujuan ini tidak bergantung pada tingkat pengujian, menunjukkan tingkat transmisi di komunitas memang lebih tinggi sekarang daripada puncaknya pada tahun 2024,” ujar Yu Lung.

Editor : Hernawati
#Shanxi Medical University #china #covid -19 #mahasiswi kedokteran