KALTIMPOST.ID, Tidak banyak yang mengetahui asal-usul penamaan sebuah daerah di Penajam Paser Utara (PPU), seperti Penajam, Petung, Pemaluan, dan lain sebagainya.
Untuk menjawab hal ini, Kaltim Post berselancar di media internet dan menemukan dokumen yang mengungkap jatidiri nama-nama tersebut melalui hasil penelitian.
Aquari Mustikawati dan kawan-kawan dari Kantor Bahasa Kalimantan Timur pada 2019 mengungkap kekayaan jejak budaya masyarakat PPU melalui cerita asal-usul daerahnya.
Penelitian ini menyoroti bagaimana sistem nilai, norma sosial, pola pikir, dan etos kerja masyarakat Penajam Paser Utara di masa lampau terekam dalam narasi tradisional mereka.
Metode penelitian ini menggunakan pendekatan pustaka untuk pengumpulan data dan metode kualitatif deskriptif untuk menganalisis cerita-cerita yang berupa sejarah, legenda, atau kejadian penting, termasuk tokoh-tokoh berpengaruh di dalamnya.
Baca Juga: Warga Labangka Resah, Desak Satpol PP Tutup Kafe Diduga Sarang Miras dan Prostitusi Ilegal
Teori budaya digunakan sebagai kerangka analisis untuk memahami budaya masyarakat PPU di masa lalu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat PPU di masa lalu merekam kearifan lokal masing-masing daerah dalam cerita asal-usul.
Cerita-cerita ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai panduan untuk memahami sejarah masyarakat dan mengembangkan potensi daerah.
Beberapa temuan kunci dari penelitian ini meliputi penamaan daerah berdasarkan legenda.
Banyak daerah di PPU dinamai berdasarkan legenda lokal. Contohnya adalah nama "Penajam" yang berasal dari legenda batu asah yang digunakan untuk menajamkan senjata, "Pemaluan" dari kisah Putri Rintik Manik yang pemalu, "Gunung Hantu" dari legenda pengeboran minyak yang diganggu makhluk gaib, dan "Balikpapan" yang berasal dari legenda kesaktian punggawa Serangkak Tulang Tunggal serta kembalinya papan-papan kayu secara misterius.
Baca Juga: Sengketa Lahan Sawit PPU: PT APMR Tak Hadiri Mediasi, Warga Siap Tempuh Jalur Hukum
Penamaan daerah berdasarkan kejadian sejarah, yaitu nama-nama daerah juga berasal dari peristiwa sejarah atau kejadian penting yang pernah terjadi.
"Penajam" dalam bahasa Bugis berarti "berhenti" atau "pajan", mengacu pada kelompok perampok yang berhenti dari aktivitas mereka.
"Nenang" yang saat ini diketahui menjadi nama sebuah kelurahan di Kecamatan Penajam, PPU, dinamai karena kondisi daerah yang digenangi air setinggi pinggang, sehingga masyarakat harus berenang atau berjalan di air. "Sungai Parit", nama kelurahan di Penajam, PPU, dinamai dari upaya masyarakat membuat parit untuk mengalirkan air ke laut.
"Babulu", nama kecamatan di PPU berasal dari banyaknya nyamuk saat pembukaan hutan yang menyerupai bulu.
Baca Juga: Park Jin Young Jadi Tokoh Jahat Paling Gila di Film Korea High Five, Tayang Juni 2025
"Separe" dari kebiasaan meminjam benih padi "satu bonggol padi". "Gunung Seteleng", kelurahan di Kecamatan Penajam juga namanya diambilkan dari meriam Jepang yang disebut "setelen".
Penamaan daerah berdasarkan fenomena alam, yaitu beberapa daerah dinamai berdasarkan kondisi alamnya.
"Nipahnipah" karena banyaknya pohon nipah, "Petung" karena banyaknya tanaman bambu petung, "Gersik" karena banyak mengandung pasir (kersik dalam bahasa Paser), dan "Semayang" karena banyaknya pohon pinang yang mayangnya (bunganya) diambil untuk upacara pernikahan (semanyang, artinya mencari mayang).
Penamaan daerah berdasarkan tokoh yang dihormati, yaitu nama tokoh berpengaruh juga diabadikan sebagai nama daerah, seperti "Pantai Lango" dari Kakah Lango dan "Sungai Aji Raden" dari Aji Raden, tokoh pembuka daerah dan penumpas bajak laut.
Jejak budaya yang terungkap dalam cerita asal-usul ini meliputi kearifan lokal seperti gotong-royong, kelestarian lingkungan, adaptasi manusia, dan politik.
Baca Juga: Lee Jae-myung Jadi Presiden Korea Selatan Tanpa Masa Transisi
Misalnya, cerita asal-usul Nenang dan Sungai Parit menunjukkan adaptasi masyarakat dalam menghadapi kondisi daerah yang tergenang air.
Sementara itu, cerita asal-usul Balikpapan, Sepinggan, dan Pulau Tokon mengandung nilai-nilai politik yang berkaitan dengan hubungan Kesultanan Kutai dan Paser.
Secara keseluruhan, cerita asal-usul Kabupaten PPU merupakan warisan budaya yang kaya akan dasar-dasar kehidupan masyarakat, sistem nilai, norma sosial, pola pikir, dan etos kerja di masa lalu.
Memahami jejak budaya ini penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk pengembangan potensi daerah dan menghindari konflik. ***
Editor : Dwi Puspitarini