Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Susilo Wicaksono Bongkar Jejak Aksara Nusantara: Dari Prasasti Muara Kaman ke Logo Tipografi Modern

Raden Roro Mira Budi Asih • Sabtu, 28 Juni 2025 | 06:15 WIB

Susilo Wicaksono melakukan penelitian aksara, pada batu kepala atau yupa di Muara Kaman. Batu itu terdapat tulisan Bhena yang artinya Penguasa Bintang. (DOK PRIBADI UNTUK KALTIM POST)
Susilo Wicaksono melakukan penelitian aksara, pada batu kepala atau yupa di Muara Kaman. Batu itu terdapat tulisan Bhena yang artinya Penguasa Bintang. (DOK PRIBADI UNTUK KALTIM POST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Dari ketertarikan masa kecil pada aksara Jawa hingga menjadi penggiat aksara Pallawa di Samarinda, perjalanan Susilo Wicaksono bukan sekadar lintasan pribadi. Dia menjadikan aksara kuno sebagai medium seni, sejarah, dan identitas budaya.

“Aksara itu pintu dari prasejarah. Di Kalimantan, belum banyak yang sadar bahwa kita punya warisan aksara yang belum sepenuhnya dibaca,” kata pria yang karib disapa Wicak itu. Dia juga tak mau menyebut dirinya seniman. Pekerja seni, adalah profesi yang dia sematkan untuk dirinya.

Selama pandemi, Wicak melakukan riset mendalam terhadap tujuh prasasti kuno. Salah satunya masih berada di Muara Kaman. Prasasti tersebut, menurutnya, memuat aksara Kawi dan Pallawa yang merupakan turunan dari aksara Brahmi.

Pallawa adalah aksara yang berasal dari India Selatan dan merupakan aksara pertama yang dikenalkan di nusantara. Pallawa menjadi induk dari berbagai aksara di Asia Tenggara, termasuk aksara-aksara di Indonesia seperti Kawi. Aksara itu juga digunakan pada beberapa prasasti di Indonesia, seperti Prasasti Yupa di Kutai.

Baca Juga: Waspada Penipuan Digital! OJK Ingatkan Masyarakat Tak Lengah, AI Kini Jadi Alat Kejahatan

“Bentuknya khas. Kepala hurufnya kotak. Ini membedakan aksara di Kalimantan dari yang di Sumatera,” jelasnya. Ciri topografi huruf ini jadi petunjuk penting dalam membedakan asal dan era aksara tersebut.

Berbekal latar belakang seni rupa, Wicak mengolah kajian filologinya ke ranah visual. Pria kelahiran 1979 itu merumuskan bentuk aksara menjadi elemen tipografi, bahkan menciptakan identitas grafis yang bisa diadaptasi ke dalam logo dan desain kontemporer.

Pameran aksara di Museum Kota Samarinda.
Pameran aksara di Museum Kota Samarinda.

“Bikin logo dengan aksara khas ini lebih kuat secara identitas. Karena nggak gampang dijiplak. Ada karakter,” ujarnya. Dia merumuskan aksara supaya bisa ditulis ke bahasa Indonesia. Supaya bisa jadi logo yang berkarakter.

Tak hanya membaca dan menyalin ulang, dia juga membangun komunitas. Di grup Facebook, dia aktif dan mengajak publik mengenali atau mengedukasi aksara. Aktif memberikan edukasi tentang pentingnya dokumentasi dan pelestarian naskah kuno kepada pemerintah dan penggiat sejarah.

Pemerintah, lanjutnya, sudah mulai menyadari pentingnya pelestarian. “Sudah masuk dalam bahasan di KSBN (Komite Seni dan Budaya Nasional),” kata pria yang juga pernah mengerjakan proyek seni kaca di rumah wali kota Samarinda sebelumnya, gereja Advent di Kutai Barat, hingga ornamen di Islamic Center Berau.

Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Naik, Daya Beli Warga Kaltim Terdongkrak

Namun, untuk masuk ke dalam ranah pendidikan, diakui masih belum dilirik. Dia menciptakan permainan kartu aksara yang dia beri nama Permainan Sama-Sama. Mencocokkan kartu yang berisi berbagai bentuk aksara dan pelafalannya.

Padahal, kartu tersebut bisa jadi alternatif alat permainan edukatif (APE) yang berbasis kearifan lokal. Dikenalkan sejak dini, agar anak-anak mengenali aksara atau setidaknya bagian dari sejarah.

Kini, Wicak tengah mendorong agar aksara-aksara lokal, terutama Pallawa dan Kawi yang 80 persen bersumber dari bahasa Sansekerta, bisa menjadi bagian dari desain budaya Indonesia modern. “Dari aksara bisa lahir kesadaran identitas. Ini bukan hanya soal huruf, tapi juga tentang cara kita melihat diri,” pungkasnya. (*)

Editor : Muhammad Rizki
#Aksara Nusantara