Metode Sawah Pokok Murah (SPM) yang dikembangkan Ir Djoni, pakar pertanian asal Sumatera Barat, terbukti mampu menghasilkan panen melimpah tanpa perlu membajak lahan atau menggunakan pupuk kimia.
Dalam video yang diunggah akun Instagram @vasco_ruseimy, seorang petani menjelaskan kepada Wakil Gubernur Sumbar bahwa metode ini telah ia terapkan selama tujuh musim tanam berturut-turut.
Proses bercocok tanam dilakukan tanpa olah tanah intensif, tanpa cangkul, tanpa pupuk, dan tanpa alat berat.
“Sudah tujuh kali tanam, tanpa dibajak dan tanpa dipupuk. Panennya tetap bagus,” ungkap sang petani.
Solusi Efisien dan Ramah Lingkungan
SPM mengedepankan kesederhanaan dan keberlanjutan dalam praktik pertanian. Tanah dibiarkan tetap utuh tanpa dibalik atau dicangkul, sehingga struktur alami tanah dan mikroorganisme yang hidup di dalamnya tetap terjaga.
Hal ini dipercaya turut membantu mempertahankan kesuburan tanah dan produktivitas lahan.
Metode ini juga minim penggunaan pupuk kimia dan pestisida, sehingga berkontribusi pada pengurangan pencemaran lingkungan serta menjaga kualitas air dan kesehatan petani.
Peluang Besar untuk Ketahanan Pangan
Dengan efisiensi biaya dan hasil yang tetap optimal, metode SPM menjadi solusi nyata bagi petani kecil di berbagai daerah yang menghadapi keterbatasan alat berat dan tingginya harga pupuk.
Jika diterapkan secara luas, pendekatan ini berpotensi menjadi model pertanian masa depan yang berkelanjutan dan inklusif.
Baca Juga: Dua Presiden Makan Malam di Warung Warung Bakmi Bu Citro Solo, Ini Daftar Menu dan Harganya
Keunggulan Metode Sawah Pokok Murah:
Tidak perlu bajak atau olah tanah berat
Bebas pupuk kimia dan pestisida
Menjaga ekosistem dan kesuburan tanah alami
Hemat biaya operasional
Cocok untuk petani kecil di berbagai daerah
Inovasi ini menunjukkan bahwa pertanian tidak selalu identik dengan biaya tinggi. Dengan pendekatan yang tepat, hasil maksimal tetap bisa dicapai tanpa harus mengorbankan lingkungan.
Editor : Uways Alqadrie