KALTIMPOST.ID, Apa yang seharusnya menjadi awal renovasi gedung rektorat Universitas Lambung Mangkurat (ULM), justru berubah jadi petaka.
Api berkobar hebat pada Senin pagi (28/7/2025) sekitar pukul 06.25 WITA dan baru bisa dipadamkan dua jam kemudian.
Gedung Rektorat ULM hangus terbakar, dengan kerusakan parah di bagian aula, akademik, dan ruang kepegawaian. Ironisnya, aula tersebut baru saja difungsikan sebagai ruang sementara akibat rencana renovasi.
“Akademik, kemahasiswaan, dan aula habis semua. Kami memang ada rencana renovasi, jadi semua pekerjaan dipindah ke aula. Tapi aulanya malah terbakar,” ujar Rizki, staf kepemimpinan Rektorat ULM kepada media.
Rizki datang ke lokasi saat api masih berkobar, demi menyelamatkan dokumen penting miliknya yang berada di lantai dua.
Dengan langkah cepat dan penuh ketegangan, ia berhasil menyelamatkan berkas-berkas itu tepat sebelum api menjalar lebih jauh.
"Alhamdulillah masih selamat, tapi saya lihat lantai satu habis semua,” ungkapnya.
Lantai bawah gedung nyaris tak menyisakan apa-apa selain lemari besi arsip yang hangus dan penyok.
Sementara lantai dua juga tak luput dari dampak, plafon rusak parah karena suhu tinggi dan sebagian atap ikut terkoyak.
“Meski lantai dua nggak terbakar total, tapi tetap rusak. Panasnya luar biasa. Banyak plafon yang jatuh,” tambah Rizki.
Begitu api berhasil dijinakkan, petugas pemadam mulai meninggalkan lokasi. Namun, satu masalah baru muncul, air bekas pemadaman justru tergenang karena tidak adanya sistem pembuangan dalam gedung.
Baca Juga: Kalender Agustus 2025 Berdasarkan SKB 3 Menteri: Libur Cuma Sekali, tapi Banjir Hari Penting
“Alhamdulillah sudah padam. Kami sekarang mencoba mencari cara agar air bisa keluar dari dalam gedung, karena tidak ada sistem pembuangan, sampai lantai sempat tergenang,” kata Acid, petugas Dinas Pemadam Kebakaran Kota Banjarmasin.
Tak lama berselang, aparat kepolisian memasang garis polisi. Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan.
Gedung Rektorat ULM sebelumnya menjadi sorotan karena rencana perombakan besar-besaran. ***
Editor : Dwi Puspitarini