KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Kasus HIV di Kota Samarinda, kembali mengkhawatirkan. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda mencatat ratusan kasus baru. Pencegahan penularan HIV yang dapat berujung pada kematian dapat dilakukan dengan adanya keterbukaan dari masyarakat.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismed Kusasih menyadari bahwa, melawan HIV bukan sekadar soal menyediakan obat atau alat pemeriksaan. Lebih dari itu, dia menekankan pentingnya keterbukaan dan kolaborasi lintas pihak. “Penanganan HIV tidak bisa hanya mengandalkan dinas kesehatan. Harus kolaboratif, karena ini erat kaitannya dengan perilaku seksual,” ujarnya kepada Kaltim Post, Minggu (10/8/2025).
HIV kini masuk dalam 12 standar pelayanan minimal (SPM) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Posisi ini menegaskan urgensi penanganan HIV, sejajar dengan layanan untuk ibu hamil, bayi, balita, usia sekolah, usia lanjut, hipertensi, diabetes melitus, gangguan jiwa berat, dan tuberkulosis.
Langkah awal, kata Ismed, adalah memetakan faktor risiko penularan. Dari sana, upaya menghapus diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV) menjadi agenda yang tak kalah penting. “Seperti Covid-19, kalau mau menekan angka kasus, penanganan harus dimulai dari hulunya,” ujarnya.
Tidak semua kasus HIV di Samarinda berasal dari warga kota ini. Skrining yang dilakukan di sebuah tempat, misalnya, kerap mendapati orang dari luar daerah positif HIV. Meski begitu, data mereka tetap tercatat di basis data Samarinda.
"Misalnya dia kerja di Samarinda, lalu dinyatakan positif saat dilakukan pemeriksaan di Samarinda. Maka, dia masuk data di sini," jelasnya. Nah, dr Ismed Kusasih menggarisbawahi bahwa stigma negatif terhasap ODHIV membuat sebagian orang enggan menjalani pemeriksaan. Padahal, seluruh puskesmas di Samarinda kini mampu melakukan skrining dan pengobatan dengan jaminan kerahasiaan.
“Jauhi penyakitnya, bukan orangnya. HIV menular melalui aktivitas seksual, dan semua layanan kita bersifat rahasia,” kata Ismed. Sejak Januari hingga Juli 2025, Dinkes Samarinda memeriksa 20.613 orang. Dari jumlah itu, ditemukan 223 kasus baru, sementara 220 orang masih menjalani pengobatan.
“Semua 223 orang itu saat ini berada dalam tahap pengobatan,” tambah Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Samarinda, Nata Siswanto. Data 2025, sebanyak 63 orang positif HIV yang telah berkembang menjadi AIDS meninggal dunia. “Kalau sistem imun turun, tubuh mudah diserang penyakit. Umumnya, mereka yang meninggal sudah lama sakit. Bagi yang rutin mendapat obat, harapan hidup lebih panjang karena virus bisa ditekan,” tutur Nata. (*)
Editor : Muhammad Rizki