Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Catatan Perjalanan KPG ke Jepang dan Amerika: Dapat Bonus Kunjungan Dadakan ke Markas Besar PBB di New York (3)

Erwin D. Nugroho • Rabu, 3 September 2025 | 07:15 WIB
Letkol Czi Ridwan Ali Abdul (kiri) bersama penulis di balai sidang utama PBB di New York.
Letkol Czi Ridwan Ali Abdul (kiri) bersama penulis di balai sidang utama PBB di New York.

Meski backpacker-an biasa, perjalanan tim KPG ke Jepang dan Amerika tetap diisi kegiatan formal yang penting: ikut upacara tujuh belasan di gedung KJRI New York, dan kunjungan resmi ke Markas Besar PBB.

Erwin D. Nugroho, New York

NAMANYA juga wartawan, kalau jalan-jalan keluar negeri wajib cari bahan untuk bikin tulisan.

Meskipun jalan-jalan itu tidak dalam rangka liputan atau menjalankan tugas jurnalistik yang spesifik.

Pun ketika merencanakan perjalanan ini. Pemilihan tanggal kami sesuaikan dengan agenda yang bisa dimanfaatkan untuk menjadi oleh-oleh tulisan.

Setelah gagal berangkat di bulan Juli karena masalah visa, pilihan jatuh pada pertengahan Agustus, bertepatan dengan momen HUT ke-80 RI.

Kami ingin merasakan pengalaman merayakan hari kemerdekaan Indonesia di Amerika.

Langkah awal, kami berkirim surat ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York, sebagai lembaga resmi representasi Indonesia di kota tersebut.

Seperti halnya kantor kedutaan Indonesia di mana-mana, kantor konsulat biasanya memiliki beragam agenda merayakan tujuh belasan.

Gayung bersambut, permohonan tertulis kami disetujui. Pihak KJRI New York secara resmi mengundang kami sebagai delegasi media dari Kalimantan, untuk ikut dalam upacara HUT RI pada 17 Agustus 2025.

Bukan itu saja, kami berenam juga mendapat sesi khusus wawancara dan rekaman podcast dengan Konsul Jenderal RI di New York, Winanto Adi.

Di tengah kondisi fisik yang masih jet lag setelah perjalanan 13 jam long-haul flight dari Tokyo ke New York pada 16 Agustus.

Ditambah perubahan orientasi waktu malam menjadi siang dan siang menjadi malam yang masih mengundang rasa kantuk.

Kami pagi-pagi di tanggal 17 Agustus sudah berangkat dari hotel di downtown New York menuju kantor Konsulat RI, yang lokasinya persis berdampingan dengan Central Park, kawasan hutan kota yang jadi taman luas di jantung Manhattan.

Beberapa staf konsulat yang sedang menyiapkan pelaksanaan upacara menyambut kedatangan kami.

Bangunan kantor perwakilan Indonesia itu berdiri gagah di antara gedung-gedung perkantoran lain. Arsitekturnya klasik, bergaya Neo-Renaissance dari awal abad ke-19.

"Silakan menunggu, masih ada waktu 1 jam. Nanti juga akan ada sesi wawancara dengan Pak Konjen, beliau sudah menyediakan waktu khusus," kata Nadia Marlene Eunike, pegawai bidang Information and Sociocultural Affairs KJRI New York.

Kami masuk gedung konsulat. Beberapa tamu undangan juga sudah hadir. Sebagian besar mengenakan suits lengkap dengan setelan jas formal.

Sementara kami berenam memakai outfit paling simpel demi menyesuaikan kondisi yang sedang traveling di musim panas: kemeja batik dan sepatu sneakers yang ramah untuk berjalan kaki.

Upacara hari itu dilaksanakan indoor, tanpa pengibaran bendera, mengambil tempat di Ruang Pancasila di Gedung KJRI.

Diikuti sekitar 50-an warga Indonesia, baik yang sedang bertugas di KJRI, bekerja di lembaga-lembaga internasional berbasis di New York, perwakilan militer, mahasiswa, maupun kalangan sipil komunitas diaspora Indonesia.

"Momen seperti ini kesempatan kita ngumpul dengan sesama warga Indonesia, kangen-kangenan, kulineran makanan Nusantara," kata Konjen Winanto Adi.

Benar saja, usai upacara yang khidmat, seluruh undangan disuguhi makanan khas Indonesia.

Ada nasi kuning dan nasi putih dengan prasmanan lauk khas Nusantara seperti sambal goreng hati, opor ayam, tumis sayuran, dan tak ketinggalan kerupuk.

Jangankan bagi mereka yang sudah lama tinggal merantau di New York, kami yang baru beberapa hari meninggalkan kampung halaman pun sudah kangen makan menu masakan Indonesia.

TAWARAN KE MARKAS PBB

Sembari menunggu jadwal upacara, kami berkenalan dengan seorang perwira TNI berpangkat letnan kolonel.

Namanya: Paulus Panjaitan. Jabatan: Asisten Penasihat Militer Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) New York.

Ternyata, hari itu perwira melati dua yang belakangan baru kami ketahui merupakan putra sulung Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI Luhut Binsar Panjaitan tersebut bertugas sebagai komandan upacara.

"Saya berkantor di PBB, tetapi bukan pegawai PBB. Kalau yang pegawai PBB ada teman saya, Pak Ridwan, dia bisa tuh menemani kalau teman-teman Kaltim Post Group mau main ke Markas PBB," kata Paulus.

Wah tawaran yang sungguh menarik sekali. Ia kemudian beralih ke bagian lain ruangan, menarik tangan seorang perwira TNI yang juga berpangkat letnan kolonel, yang saat itu sedang ngobrol dengan undangan lain.

"Ini Pak Ridwan, kalau beliau ini memang bekerja sebagai pegawai di kantor PBB. Jadi punya kewenangan untuk menerima tamu berkunjung. Bisa menjadi host mengajak kawan-kawan berkunjung ke Markas Besar PBB," kata Paulus memperkenalkan.

Letnan Kolonel Czi Ridwan Ali Abdul, menjabat sebagai Seconded Officer di Office of Military Affairs (OMA) yang sehari-hari berkantor di Markas Besar PBB di New York.

Berbeda dengan Paulus yang statusnya di PBB mewakili pemerintah Indonesia, Ridwan merupakan perwira TNI yang saat ini menjadi staf atau pegawai di PBB, bekerja untuk lembaga tempat berhimpunnya bangsa-bangsa di dunia tersebut.

“Gaji dan semua fasilitas yang saya terima selama bertugas di New York dibiayai sekretariat PBB. Jadi selama di sini saya tidak digaji dari TNI atau menggunakan fasilitas negara,” kata Ridwan.

OMA sendiri adalah struktur organisasi di bawah Department of Peace Operation yang bertugas memberi saran dan masukan dalam bidang militer, baik kepada unsur pimpinan PBB maupun kepada para Force Commander yang memimpin pasukan perdamaian PBB di daerah misi.

Selain itu, OMA bertugas menyusun berbagai kebijakan dan pedoman teknis di bidang kemiliteran yang dijadikan panduan, baik oleh misi-misi PBB maupun negara-negara anggota PBB yang ingin mengirimkan pasukan perdamaian.

Baca Juga: Longsor di Somber Balikpapan, BPBD Pasang Terpal untuk Cegah Bencana Susulan

Personel OMA direkrut dari perwira-perwira militer dari berbagai negara, terutama negara-negara pengirim pasukan pemelihara perdamaian PBB, melalui sebuah seleksi dan lelang jabatan terbuka.

Proses seleksi dilakukan secara ketat dan berjenjang. Hanya ada 2 perwira TNI yang aktif bertugas di OMA saat ini. Letkol Ridwan salah satunya.

"Silakan, saya besok (tanggal 18 Agustus, Red) ada waktu lowong bisa menemani teman-teman KPG," kata Ridwan ramah.

Maka keesokan harinya kami datang ke Markas Besar PBB, sesuai janji pukul 14.00. Letkol Ridwan yang pada saat upacara HUT RI di KJRI sehari sebelumnya mengenakan pakaian dinas TNI lengkap, kini tampil parlente dengan setelan jas dan dasi formal.

Pria asal Gorontalo ini dengan akses yang dimilikinya bisa membawa kami berkeliling ke berbagai lokasi di dalam markas PBB.

Semacam privilege "orang dalam" yang memang punya jatah resmi mengajak tamu untuk berkunjung.

"Sebenarnya siapa saja bisa berkunjung secara mandiri ke Markas PBB, tetapi harus daftar online dulu, ikut antrean sesuai jadwal kunjungan, dan membayar 26 dolar per orang untuk ikut tur dengan pemandu resmi," jelas Ridwan.

Kami, tanpa mendaftar resmi apalagi membayar, bisa langsung masuk "fast track" alias jalur cepat, berkat perkenalan dengan Letkol Paulus dan kemudian difasilitasi Letkol Ridwan.

Dalam kunjungan dadakan ini Letkol Ridwan mengajak kami melihat balai sidang umum PBB (UN General Assembly Hall), yang sedang kosong karena tidak ada agenda sidang.

Sebuah ruangan luas dengan meja kursi yang berbaris rapi setengah oval, tempat pemimpin-pemimpin dunia berkumpul setiap tahun, menyampaikan pidato, menyepakati berbagai hal terkait perkembangan bangsa-bangsa di dunia.

Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan menjadi pembicara dan menyampaikan pidatonya di tempat ini pada hari pertama sidang tahunan PBB tahun ini, yang menurut rencana akan digelar pada 23 September 2025.

Bila nanti terlaksana sesuai agenda tersebut, maka Prabowo akan menjadi presiden RI ketiga yang berbicara langsung di sidang umum PBB, setelah Soekarno dan Susilo Bambang Yudhoyono.

Sekaligus melanjutkan tradisi berpidato di forum internasional yang selama 10 tahun terakhir tidak dilakukan oleh presiden sebelum Prabowo.

Selain balai sidang umum, kami juga diajak menengok beberapa ruang sidang lain, seperti ruang untuk Dewan Keamanan PBB (UN Security Council) yang menjadi tempat para anggota Dewan Keamanan membahas masalah perdamaian dan keamanan internasional.

Ada juga ruang untuk sidang Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC), ruang perpustakaan, dan ruang koleksi barang-barang hadiah dari sejumlah negara.

Gedung Markas Besar PBB yang ikonik, berdiri megah di sebelah East River yang membelah downtown Manhattan dengan kawasan Queens.

Di sisi belakang halaman gedung kita bisa menyusuri taman dengan pemandangan pinggiran sungai yang cantik.

Sementara di halaman depan gedung, bendera bangsa-bangsa berkibar, mewakili semangat perdamaian dunia.

Hampir 2 jam kami diajak Letkol Ridwan berkeliling. Mampir ke East Lounge, sebuah ruang dengan dinding kaca menghadap ke sungai, dengan sofa dan kursi-kursi yang nyaman.

Di tempat para delegasi dan staf melakukan pertemuan kecil, atau sekadar santai sambil membaca buku.

Letkol Ridwan selalu menjelaskan kisah di balik spot-spot yang kami singgahi di gedung PBB ini.

Selain memiliki akses ke banyak ruangan yang tak bisa didapatkan oleh pengunjung umum, Ridwan juga mengerti seluk-beluk gedung tersebut, bagaimana sejarahnya, dibangun atau dihadiahkan oleh negara mana dan ada kisah apa di baliknya.

Ia misalnya mencontohkan Indonesia Lounge, sebuah ruang pertemuan dengan hiasan dua patung bali di dalamnya, yang merupakan hadiah pemerintah Indonesia untuk PBB yang dipersembahkan Presiden Soekarno pada tahun 1954.

“Saya sudah biasa menerima tamu, kawan-kawan dari Indonesia yang kebetulan berkunjung dan mau mampir, saya ajak keliling. Sudah biasa jadi tour guide,” seloroh Ridwan.

Hari itu bagi kami menjadi pengalaman luar biasa yang akan tercatat dalam portofolio perjalanan hidup: kesempatan berkeliling ke tempat di mana banyak keputusan penting dunia diambil.

Kami sambangi di hari kedua berada di Amerika, bahkan sebelum mampir ke Times Square, yang biasanya jadi top list destinasi orang ketika berkunjung ke New York. (bersambung/riz)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #new york #ibu kota nusantara #perserikatan bangsa-bangsa (pbb) #amerika serikat (AS)