KALTIMPOST.ID-Kasus beras oplosan hanya menjadi satu dari sekian banyak penyelewengan bahan kebutuhan pokok masyarakat Indonesia setelah minyak goreng dan bahan bakar minyak (BBM).
Dari semua itu mengakibatkan gangguan dan kerugian ekonomi. Tidak hanya masyarakat sebagai konsumen, namun juga kerugian keuangan negara.
“Segala bentuk penyimpangan terhadap kebutuhan hajat hidup orang banyak akan merugikan secara ekonomi dan keuangan. Namun yang paling harus disoroti adalah munculnya distrust atau hilangnya kepercayaan masyarakat,” ucap pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Aji Sofyan Effendi.
Menurut dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unmul itu, berkurangnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap barang kebutuhan pokok akan mengerek pada daya beli.
Sebagaimana diketahui, daya beli merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi suatu negara.
“Pemerintah selama ini terus mendorong peningkatan daya beli, namun dikhianati oleh kualitas barang yang tidak sesuai harganya. Karena itu, harus dilakukan upaya agar distrust ini bisa pulih. Di sisi lain, pemerintah harus bisa memperbaiki pengawasan dan sistem. Harus ada transformasi mulai dari produksi hingga distribusi barang untuk memastikan kasus oplosan ini terulang,” bebernya. (rd)
Editor : Romdani.