Jika akuisisi ini terwujud, ini akan menjadi momen bersejarah bagi kekuatan pertahanan maritim Indonesia dan mengubah lanskap kekuatan di Asia Tenggara.
Informasi ini diperkuat oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Muhammad Ali, yang menyebutkan bahwa proses ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat armada militer.
“Kami memang berupaya memperoleh Garibaldi, yang sebelumnya bertugas di Angkatan Laut Italia, dan kami berharap ini akan memperkuat armada kami,” kata Laksamana Ali di Jakarta.
Akuisisi Garibaldi akan menjadi tonggak penting bagi TNI Angkatan Laut. Ini akan mengubah statusnya dari kekuatan pertahanan pesisir (green-water navy) menjadi kekuatan laut lepas (blue-water navy) yang memiliki kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan di seluruh kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Laksamana Ali, pada tahap awal, kapal induk ini akan digunakan untuk Operasi Selain Perang (OMSP), seperti misi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan patroli keamanan maritim. Namun, ia tidak menutup kemungkinan penggunaan tempur penuh jika diperlukan.
Kapal induk Garibaldi diluncurkan pada tahun 1985 dengan bobot sekitar 14.000 ton dan menjadi kapal induk berdek penuh pertama milik Italia.
Kapal ini dirancang untuk mengoperasikan jet tempur AV-8B Harrier II dan berbagai helikopter anti-kapal selam.
Berikut adalah spesifikasi utamanya:
Bobot: ±14.000 ton
Panjang: 180 meter
Kecepatan Maksimal: 30 knot
Fitur: Dilengkapi dek ski-jump dan pusat komando NATO
Kapasitas: Mampu menampung jet AV-8B Harrier II dan helikopter ASW
Selama masa tugasnya, Garibaldi telah teruji dalam berbagai operasi NATO, termasuk kampanye udara di Kosovo (1999), dukungan koalisi di Afghanistan, dan intervensi di Libya (2011).
Rekam jejak tempur yang terbukti ini menjadikan kapal tersebut pilihan yang efisien bagi Indonesia, karena biayanya lebih hemat dibandingkan harus membangun kapal induk baru.
Upaya Indonesia untuk mengakuisisi Garibaldi muncul di tengah meningkatnya persaingan maritim di Indo-Pasifik. Di sisi lain, China telah memiliki tiga kapal induk dan berencana menambah unit baru.
Meskipun Garibaldi tidak sebanding dengan kapal induk super milik China, akuisisi ini akan menjadi lompatan besar secara simbolis dan operasional bagi Indonesia.
Dengan posisi geografisnya yang strategis, Indonesia dapat memanfaatkan kapal induk ini untuk memperkuat pengawasan di jalur perdagangan vital global seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok.
Kapal ini juga dapat mendukung kerja sama multilateral melalui latihan gabungan ASEAN atau misi perdamaian PBB, sekaligus meningkatkan posisi diplomasi Indonesia di kawasan.
Namun, terdapat tantangan besar dalam integrasi kapal ini, termasuk kebutuhan akan modernisasi sistem sensor dan pertahanan, serta absennya jet STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing) seperti Harrier atau F-35B.
Meski demikian, negosiasi untuk akuisisi Giuseppe Garibaldi lebih dari sekadar pembelian aset militer. Ini adalah deklarasi strategis Indonesia untuk mentransformasi TNI Angkatan Laut menjadi kekuatan maritim sejati, dan memperkuat posisinya di kancah kekuatan Indo-Pasifik di masa depan.
Editor : Uways Alqadrie