“Hilang kontak karena istrinya chat malam Rabu. Dia bilang, ‘Pak, kak Esco ndak ada pulang.’ Saya jawab, ‘Kan dia piket, ngapain pulang’,” kata ayah Esco, Samsul Herawadi, dalam wawancara di YouTube.
Menurut Samsul, Rizka kembali menghubunginya dan mengeluh belum menerima kiriman uang. “‘Hari ini ada remon sampai sekarang dia ndak transfer,’ katanya. Saya bilang, ‘Tunggu lah sebentar, nanti juga ditransfer, nanti juga pulang’,” tutur Samsul.
Tak lama, Rizka memberi kabar sudah berada di depan Polsek Sekotong. “Saya marahi, kenapa malam-malam keluar. Dia telepon bilang, ‘Dia (Esco) ndak ada di sini Pak, seniornya bilang keluar’,” ujar Samsul.
Beberapa menit kemudian, Rizka kembali mengirim pesan bahwa motor dan tas Esco sudah ada di rumah. Keesokan paginya, ia lagi-lagi menyampaikan suaminya tak kunjung pulang.
“Nah pagi chat, ‘ndak ada sampai sekarang dia ndak pulang, coba tanya teman dekat rumah misal sepupu’,” kata ayah Esco, Samsul Herawadi.
Samsul memastikan putranya sempat masuk kerja pada hari itu. “Masuk, seniornya bilang. Izin keluar di seniornya, siang dia cerita. Di situ dia hilang kontak,” ujarnya.
Kuasa hukum keluarga Esco, Anton Hariyawan, menambahkan Rizka berdalih telah berusaha mencari suaminya. Bahkan, ia mengaku mendatangi dukun.
“Brigadir Esco itu hilang pada tanggal 19 Agustus. Jadi, lima hari menghilang, ibu dari korban bertanya kepada menantunya. Dijawab sama si pelaku, ‘saya juga mencari keliling, saya sudah meminta kepada dukun, katanya almarhum sudah jauh dari lokasi rumah’,” tutur Anton.
Namun, ibu Esco menolak percaya. Ia yakin anaknya masih berada di sekitar rumah.
“Ibu dari korban menjawab, ‘saya yang melahirkan anak saya, saya yakin anak saya masih berada di sekitar rumah tersebut’. Maka besok paginya, jenazah itu ditemukan,” kata Anton.
Jasad Esco kemudian ditemukan tak bernyawa di belakang rumahnya di Dusun Nyiur Lembang Dalem, Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, pada 24 Agustus 2025.
Editor : Uways Alqadrie