“Dari hati saya yang paling dalam, saya mohon maaf atas nama BGN, atas nama seluruh dapur SPPG di Indonesia,” ucap Nanik dengan suara bergetar. “Saya seorang ibu, melihat gambar-gambar itu hati saya sedih.”
Nanik menegaskan, keracunan massal ini bukan sekadar angka statistik. “Satu anak pun jatuh sakit, itu adalah tanggung jawab kami. Kesalahan kami. Dan kami berjanji memperbaiki secara total agar tidak terulang lagi,” katanya.
Sejak awal September, gelombang keracunan MBG terus meningkat. Data BGN per 22 September mencatat 4.711 korban tersebar di tiga wilayah. Jumlah terbesar di Jawa, yakni 2.606 orang.
Sedangkan jaringan pemantau pendidikan (JPPI) menyebut angkanya lebih tinggi: 6.452 orang per 21 September. Kasus terbanyak ditemukan di Jawa Barat, menyusul Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Hari ini, Jumat, 103 siswa di Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, kembali tumbang usai menyantap menu MBG. Pemerintah daerah menutup sementara dapur layanan SPPG.
Insiden ini membuat dua kabupaten, Bandung Barat dan Mamuju, menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB). BGN pun menutup 40 dapur SPPG yang dianggap bermasalah.
“BGN menanggung penuh kesalahan ini,” ujar Nanik sebelum mengakhiri konferensi pers dengan air mata.
Editor : Uways Alqadrie