Seperti tradisi setiap tahun, puncak acara ditandai dengan ritual Belimbur.
Sebelum puncak, rangkaian agenda masih berlanjut pada Sabtu, 27 September. Sejumlah ritual adat dijadwalkan berlangsung sejak pagi, termasuk upacara di Keraton Kutai, kesenian rakyat di kawasan Taman Kota Raja, hingga kirab budaya di jalan utama Tenggarong.
Malam harinya, masyarakat akan disuguhi pesta kembang api di sekitar Jembatan Aji Imbut.
Prosesi penutup baru dimulai pada Minggu siang, ketika naga laki dan bini dilarung ke Sungai Mahakam. Setelah itu, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Aji Muhammad Arifin, memimpin upacara Rangga Titi.
Sejak saat itu Belimbur dimulai: warga saling menyiram air sebagai simbol membersihkan diri dari marabahaya dan menjemput berkah.
Menjelang prosesi itu, Camat Tenggarong, Sukono, mengingatkan masyarakat untuk menaati titah kesultanan. “Kami minta warga hanya menggunakan air bersih, tidak melempar dengan wadah plastik, apalagi memakai air kotor,” katanya, Jumat, 26 September.
Belimbur hanya boleh dilakukan setelah tanda resmi dari kesultanan. Sukono menegaskan, pemerintah daerah bersama OPD terkait telah menyiapkan tandon air bersih di sejumlah titik. Drum dan gayung berisi air tersedia agar warga bisa berbelimbur dengan aman.
“Air yang disiapkan dijamin bersih sesuai standar kesehatan. Kami sudah instruksikan lurah, kades, dan RT untuk ikut menjaga kelancaran prosesi,” ujar Sukono.
Editor : Uways Alqadrie