KALTIMPOST.ID, Pulau Kumala, ikon wisata di Mahakam, juga masuk dalam rencana besar. Saiful menjelaskan, masterplan baru telah disusun Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. “Dalam lima tahun ke depan, Pulau Kumala ditargetkan punya identitas khas, sejalan dengan Tenggarong sebagai kota budaya,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin meninjau langsung progres pembangunan waterboom di Pulau Kumala bersama sejumlah kepala OPD pada pertengahan Agustus lalu. Ia menyebut, pulau ini sejak lama menjadi bahan pembicaraan dengan banyak wacana pemanfaatan, mulai dari lapangan golf hingga fasilitas wisata lain.
“Namun semua itu masih berupa wacana. Nantinya akan diputuskan mana yang paling realistis dan bermanfaat,” katanya. Rendi menegaskan, pembangunan water boom sudah berjalan sejak 2023 dan ditargetkan tuntas dengan penyempurnaan lanskap pada 2026. Kehadirannya diharapkan menghadirkan wajah baru Pulau Kumala, sekaligus menjadi ruang rekreasi masyarakat Kukar dan magnet wisatawan dari luar daerah.
Baca Juga: 243 Tahun Tenggarong: Menyongsong Wajah Baru Menuju Waterfront City Tanpa Melupakan Sejarah
“Water boom ini dirancang dengan fasilitas lengkap, bahkan digadang-gadang bisa menjadi yang terbesar di Kaltim,” ucapnya. Selain itu, revitalisasi Pasar Tangga Arung diarahkan agar pasar tradisional memiliki wajah modern. Pemerintah ingin menjadikan pasar itu sebagai pusat perdagangan yang mendukung citra kota budaya.
Pertanyaannya, apakah warisan kota raja bisa benar-benar sejalan dengan agenda modernisasi? Sejarawan Muhammad Sarip mengingatkan, sejak awal kota ini dibangun di atas visi: aman, damai, minim konflik, dan beridentitas. “Toponimi, flora lokal, hingga tata ruang dipilih bukan sembarangan. Itu penanda identitas kolektif yang harus dijaga,” katanya.
Kini, ketika pembangunan industri, kota baru, dan waterfront city berjalan bersamaan, keseimbangan itu diuji. Pemerintah menggaungkan marwah peradaban Nusantara, tetapi masyarakat menunggu bukti: apakah museum tetap terawat, apakah budaya tidak hanya menjadi dekorasi festival, apakah kota ini benar-benar nyaman dihuni.
Setelah 243 tahun berdiri, Tenggarong kembali berada di persimpangan. Di satu sisi, sejarah menuntutnya menjaga warisan Kota Raja. Di sisi lain, modernisasi menekan agar ia menjadi simpul ekonomi baru. Pilihan yang diambil hari ini akan menentukan apakah Tenggarong tetap dikenal sebagai kota budaya, atau sekadar menjadi bagian dari koridor urban di antara Samarinda, Balikpapan, dan IKN. (*)
Editor : Muhammad Rizki